Boleh iri

1022 Kata
Dengan napas yang memburu, segera diraihnya gelas berisi cairan yang biasanya akan menenangkan. Hatinya membara. Ada apa dengan dirinya saat ini? Berkali-kali dia membuang semua perasaan aneh, tapi seakan tak mengerti dengan dirinya sendiri. Tiga gelas empat gelas, seakan tetap kurang untuknya. Sesak di da danya tetap saja terus menggerogoti hati. “Ada apa?” pelukan terasa hangat, menenangkan memang, tapi tak cukup meredam sebuah amarah. 'Cup.' Bahkan kecupan itu pun hanya angin lalu menurutnya. “Hey, Akasa? Ada apa? Hm?” Akasa menelan salivanya, ada takut untuk mengatakan apa yang dia rasa saat ini, “aku ... hanya lelah, Sayang. Bisakah kita pulang sekarang?” Hanya kekehan yang bisa Sayang pamerkan, memeluk tubuh lemas tak b*******h itu dengan cintanya yang penuh, “acara belum saja dimulai, masih ada dansa dan lempar bunga, bagai mana kita akan pulang, hm?” terus mengusap punggung itu karena yakin ada yang disembunyikan oleh Akasa. “Baiklah. Aku ... menunggu saja di sani, boleh?” “Jangan terlalu banyak minum, Akasa. Itu tidak baik.” Kenapa Sayang-nya itu selalu sebaik ini saat dirinya dibakar emosi sebesar apa pun? Terlalu jahat hatinya sering mengabaikan Sayang-nya ini, “baiklah. Mungkin ...” Akasa segera menyambar segelas lagi minuman yang menghangatkan tenggorokannya itu, dan meminumnya sekali tenggak, meletakkan gelasnya sembarang dan mulai berdiri dengan badannya yang mulai sedikit linglung meski Akasa tak mau mengakuinya, “ayo kita berdansa, Sayang.” ajaknya langsung memeluk Sayang-nya itu. “Tentu saja, dengan senang hati, Kekasihku.” berpelukan bagai dunia milik mereka berdua, hingga banyak yang iri saat melihatnya. Akasa pun terkekeh. Saat tak sengaja matanya bertemu dengan sosok itu lagi, semakin menggila saat Lintang melihatnya penuh tanya. Entah dia memang mengenalnya atau tidak, yang Akasa tahu, dia hanya tidak suka melihat Lintang terlalu akrab dengan pria bernama Gusti itu. Mungkin setelah ini dia bisa membawa pis tol ke mana-mana agar bisa menem bak Gusti yang terlalu memaksakan dirinya akrab dengan Lintang. Akasa seakan tahu kalau Lintang pun terpaksa meladeni pria menyebalkan itu. “Gusti?” “Ya?” Gusti mendekatkan telinganya. Di sini sangat berisik hingga menyembunyikan suara Lintang yang terlalu lirih untuknya. “Lihat pasangan itu.” Lintang tak mau memperhatikannya sendiri, Gusti perlu tahu adegan romantis itu. Gusti terkekeh setelah mengikuti arah tunjuk Lintang, “kenapa? Mengenalnya?” “Tidak. Aku hanya merasa suaminya begitu mencintai istrinya. Rasanya aku akan cemburu dengan kemesraan mereka.” Lintang memang memperhatikannya sedikit berlebihan. Setelah berjabat tangan tadi seakan pernah melihatnya. Tadi di mana? “Aku akan begitu setelah menikah nanti.” Gusti tetap menikmati makanan yang berada di piringnya saat ini. Terlalu memperhatikan orang lain juga bukan gayanya, Gusti merasa urusan orang lain tak perlu dicampuri. Lintang mendengus, “menikah? Dengan siapa? Kalau jawabannya aku, aku ogah.” Lintang kembali memakan mi yang lebih menonjolkan rasa keju itu. Lidahnya dimanjakan malam ini. Gusti terkekeh lagi, sudah biasa dengan penolakan Lintang, tapi dia tidak akan pernah menyerah meski Lintang menolaknya sebanyak seribu kali sekali pun. “Kakakku juga romantis.” celetuknya asal. Tidak mau Lintang terlalu iri dengan hubungan orang lain yang tak akan pernah sama dengan cerita hidupnya. Bukankah di dunia ini semuanya harus realistis? Lintang pun tertawa ringan, menggulung mi itu kembali dan menyuapkannya ke mulutnya sendiri. Mengunyahnya perlahan untuk meresapi gurih yang lezat itu. Tak lama. 'Deg.' Lintang tak kuasa mengunyah semakin lama, ada perih di perutnya, “Gusti, aku ke toilet dulu.” segera menyerahkan piring yang tadi dibawanya ke Gusti tanpa peduli apakah Gusti sudah siap ataukah belum, dan melangkah dengan cepat ke arah toilet. Menemukan satu bilik kosong, dan segera masuk tanpa menutup pintu itu kembali, “huek! Huek!” sangat menyiksa. Lintang sangat lemas, tak mungkin dirinya beranjak sebelum lambung itu kosong. Sangat melilit sekali rasanya. “Huek! Huek!” Lintang terus menguras semuanya, ingin segera menuntaskan perih yang mulia menjalar di ulu hatinya itu. “Jaga makanmu.” Lintang terkejut, tapi tak ada waktu untuk menoleh atau bahkan melihat wajah yang memijat pelan punggung atasnya saat ini. Lintang pun membiarkan tangan itu sepu asnya melakukan kemauannya, sampai badannya lemas bermandikan peluh. Meringkuk di depan lubang berair yang kini masih penuh dengan jorok miliknya. Lintang menyadar di pembatas bilik hingga matanya yang sayu melihat ke sosok yang membantunya, “terima ... kasih ... .” entah itu cukup atau tidak, dia ingin mengatakannya saat ini. “Apa itu penting?” Lintang menggeleng, bibirnya tetap ingin menyungging, sebagai wujud mengejek dirinya sendiri. Betapa sangat menyedihkan hidupnya ini. “Apa yang kamu makan, huh? Pedas? Jus jeruk yang ada di belakangmu?” Lintang semakin terkekeh, sosok itu begitu baik. “Ya. Mereka sangat lezat.” jawabnya seakan tak takut mati. “Lezat? Untukmu? Apa lambungmu juga lezat sekarang? Enak bukan? Huh?” Lintang semakin keras menyuarakan tawanya, “siapa kamu? Jangan terlalu baik padaku?” 'Buk.' Lintang melihat tisu yang dilempar oleh sosok itu ke da danya, mengerutkan keningnya karena tidak tahu semua ini untuk apa. “Bersihkan wajahmu, kau menji jikkan.” ditarinya gagang yang seharusnya mengeluarkan banyak air untuk menyiram muntah yang menjijikkan itu. Uapnya mengudara dan membuat pusingnya bertambah pening. Tak menolong atau bahkan mengatakan apa pun juga, sosok itu pun segera pergi dari toilet yang menyimpan Lintang yang masih lemas di bilik entah di nomor berapa setelah berperang dengan asam lambungnya. Lintang hanya diam, tangannya menggapai tisu dengan pandangan yang entah ke mana. Saat seperti ini, hanya satu yang dia pikirkan, akan jadi apa dirinya di masa depan? Masihkan dirinya ini berhak hidup dan menikmati indahnya dunia setelah semuanya semakin menyakitinya seperti ini? Bukan hanya kenyataan yang memang menyadarkannya bahwa dirinya hidup hanya sendirian, tapi juga keadaan yang seakan tak membiarkannya bahagia. Lintang mengusa wajahnya sendiri, membersihkan sisa muntah dan juga keringat dingin. Segera berdiri dan membenarkan gaunnya yang sempat kusut, dan berkumur untuk menghilangkan rasa aneh di mulutnya. Dipautkan wajahnya ke cermin. Pucat itu datang lagi. Lintang hanya tersenyum miris dan segera berbalik untuk kembali ke Gusti. Tak mungkin meninggalkan sosok itu terlalu lama. “Lintang, aku benci melihatmu seperti ini.” lirihnya saat punggung itu semakin menjauh. Ada nyeri juga melihatnya seperti tadi, tapi sadar tak ada yang bisa dia lakukan saat ini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN