Jalu baru saja masuk ke kamarnya, melihat Kusuma yang sudah terlelap. Jalu melewatkan makan malamnya hanya untuk meredam amarahnya dengan istri yang dai cintai itu. Tangannya begitu gemas ingin menyentuh puncak kepala itu, tapi selalu urung, dia ingin Kusuma berubah lebih baik dari pada ini. Seperti yang dulu, ceria dan menjadi dirinya sendiri. Tidur di tempat lain juga bukan gayanya, dia tetap naik ke ranjang dan membaringkan tubuhnya. Meski mengenakan selimut yang sama, tetap saja enggan untuk memeluk. Sengaja membiarkan jarak tetap terjaga di antara dirinya dan Kusuma. “Tidak, bukan aku, bukan aku.” Jalu menoleh, mendekat ke Kusuma yang mengigau, mengusap kening yang berkeringat, setengah menenangkan, mimpi buruh yang seperti apa yang dialami Kusuma saat ini. Setelah tubuh gelisah it

