Cukup siang, tak ada yang bisa dilakukan dengan benar oleh Lintang. Segera membersihkan diri dan mencari apa yang dia ingin tahu setelah ini. Memasukkan semua yang dia butuhkan ke tas kecil dan segera ke luar kamar. Sarapan seadanya, bahkan tidak memedulikan ayahnya yang mungkin akan mengawatirkannya nanti. “Ke mana?” Lintang berhenti, dia pikir tidak menemukan sosok itu saat akan berangkat seperti saat ini, “aku akan ke rumah temanku, Ayah. Mungkin pulang malam.” “Sepertinya kamu sering pulang malam sekarang, siapa pria itu? Bukan Gusti?” Lintang menggigit bibir bawahnya, menahan hati yang kini terasa begitu hangat, mengangguk, memastikan memang yang dia pikirkan memang bukan Gusti selama ini. “Siapa? Apa dia tampan?” Lintang mengangguk, “dia tampan dan baik, namanya Jalu, Ayah.”

