Iba atau Cinta?

1132 Kata
Leonathan tidak bisa menahan raut kekagetannya, dengan kelopak mata yang masih terbuka lebar-lebar. Pria itu bahkan masih setia memberikan pelukan untuk Alice, menenangkan wanita yang menangis dengan sesenggukan itu dan dagu menopang pada bahu kirinya. “Aku berubah karena menemukan cinta. Aku harus mengejarnya, bukankah itu pula yang kau inginkan dariku?” “Tapi aku tidak menyuruhmu menjauh dariku, Nath. Jangan berhenti memberikan perhatian! Bukankah kau selalu berjanji untuk setia di sampingku dan selalu ada untukku?” “Saat ini Brielle lebih membutuhkanku.” “Jadi kau tidak peduli lagi pada sahabatmu sendiri? Benar kalau kau mau menghindar dariku, Nath?” Melonggarkan dekapannya, Leonathan sedikit mundur dan memberikan tatapan yang sekiranya bisa dipahami dan diresapi Alice baik-baik. Dua tangan besarnya menggenggam jari-jari Alice, membungkusnya dengan dua telapak tangannya dan mengelus-elus. Sembari menatap Alice dalam-dalam, Leonathan mengatakan, “seorang sahabat selalu ada di waktu yang tepat. Meski tidak setiap detik aku di sisimu, aku akan ada di masa sulitmu. Aku akan mengulurkan tangan jika kau membutuhkanku.” Leonathan menarik sudut bibirnya hingga membentuk sebuah senyum tulus. “Kita sahabat, dan aku tidak akan tega melihatmu terpuruk. Aku akan bersamamu.” “Janji?” “Ya, tapi ... jika Elle belum bisa aku dapatkan, aku tidak berhenti mencarinya dan membawa wanita cantik itu ke dalam hidupku. Bagaimana pun, aku sudah merasakan sesuatu yang lama tidak pernah aku rasakan.” Alice yang menatap Leonathan sedikit tidak suka mendengar penjelasan lelaki itu, Leonathan sendiri juga tahu kalau Alice sangat menghindari topik yang berbau Brielle. “Sebagai sahabat baikku, kau pasti tahu kebahagiaanku. Jadi, berhenti bersikap seperti anak-anak. Kau dan aku sudah dewasa, umurmu bahkan jauh lebih dewasa dari umur Elle. Seharusnya kau malu jika bersikap seperti ini.” Menepuk-nepuk pipi kiri Alice, Leonathan tersenyum lagi dan berdiri. Ia melanjutkan makan siangnya, melahap roti bagel yang belum sempat masuk ke dalam mulut. Menjauh dari sofa, ia mengayunkan kaki secepat kilat hingga sudah berdiri di depan jendela yang menghadap pada suasana luar kafe Mixture. Gigi-gigi di dalam melakukan senam, terus memperhalus roti garing di luar namun lembut dan kenyal di dalam. Memandang awan yang menggumpal di langit, ia masih berharap dan berusaha percaya bahwa Tuhan akan memberikannya petunjuk lagi tentang keberadaan Elle. “Mengenai kehamilanmu, apa mantan yang kau kejar-kejar itu mau bertanggung jawab?” Alice yang tersentak menghembuskan napas panjang dan matanya lagi-lagi berlinang air. Belum bisa menjawab pertanyaan Leonathan karena dadanya terasa sakit dan sesak. “Jika kau diam, aku sudah tahu jawabannya. Pasti dia menolak bayinya sendiri, bukan?” Leonathan yang geram dan panas hati itu hanya bisa mengepal tangan, lalu memukul tembok dengan dua tangannya sekaligus tanpa menoleh ke belakang. “Jika ingin melampiaskan rasa sakit hatimu, aku siap bertarung dengannya.” “Tidak! Tidak perlu, Nath!” tolak Alice mentah-mentah dan menggeleng kuat. Ia yang mulai beranjak dari sofa itu mulai berjalan pelan mendekat pada Leonathan yang mencengkeram dinding. “Aku ingin dia sadar pelan-pelan. Cukup temani aku, aku bisa mengurus anakku bersamamu.” “Dia yang seharusnya bertanggung jawab.” “Kau tidak ingin membantuku merawat bayiku nanti?” “Meskipun aku mau merawat, tetap dia ayahnya.” Begitu jengah ketika Alice terus membela pria yang nyatanya memang salah, dan tidak harus dibela mati-matian seperti sekarang ini. Terlihat jelas sekali jika Alice begitu mencintai sangn mantan, namun juga berharap akan perhatian Leonathan. “Aku tahu, tapi dia sering mengabaikan pesanku, sama sepertiku yang sering mengabaikan pesan dariku, Nath.” “Tanggung jawabnya sebagai ayah perlu kau tagih.” Tanpa permisi, tangan kanan dan kiri Alice sudah melingkar di perutnya. Wanita itu memeluk Leonathan dari belakang dan tidak ragu untuk menekan mukanya di punggung berbalut kaos hitam pria itu. Leonathan yang memahami situasi ini pun tak enak hati untuk melepaskan diri dari dekapan Alice. “Jangan mengabaikanku, Nath ... aku ingin kau selalu bersamaku kalau dia tidak bisa di sampingku.” “Ya, dan akan kuminta secara paksa tanggung jawabnya sebagai pria. Dialah yang harus mengurusmu dan anak kalian. Berani berbuat, harus berani mendapat akibat. Baik yang baik maupun buruk. Bukan lari seperti pecundang,” ujarnya penuh penekanan dan tatapan menajam. Leonathan memutar badan, melirik mata Alice yang masih mengeluarkan air mata. “Tidak usah menangis.” “Aku takut menjalani hari-hari di depan nanti, Nath.” Alice mendongak dan perasaan sedih juga sampai ke relung hati Leonathan. Bagaimana tidak? Alice sudah menjadi salah satu orang di dunia ini yang ia sayangi. Melihat orang yang disayang sedih, pasti Leonathan turut merasakan kesedihannya. “Bagaimana nasibku dan anak ini, Nath? Ak-aku takut.” Kembali mendekatkan diri, ditariknya tubuh Alice lalu didekap erat. “Sudah kukatakan dari dulu, berhenti berhubungan dengannya saja. Karena aku tahu, dia bukanlah pria baik seperti dugaanmu.” Melepaskan sepasang tangannya dari tubuh Alice lalu memegang dua pundak itu untuk memberi kekuatan meski mulutnya melanjutkan, “sekarang terjadi, bukan? Dan kau hanya bisa menyesali apa yang kukatakan dulu, kini benar-benar kau hadapi.” Bukan hanya mengatakan itu pada Alice saja, tetapi lebih tepatnya pada dirinya sendiri. Buktinya, dia sendiri menyesal telah bertindak tanpa berpikir panjang. “Maaf, Nath.” “Ayo, aku akan mengantarmu pulang. Untuk beberapa minggu ini kau kerja sebentar saja.” Alice yang sedari tadi mendengar itu hanya menurut dan membiarkan tangannya digandeng Leonathan, keluar dari ruangan pribadi di lantai dua ini. Naomi yang rencananya akan ke ruangan Leonathan untuk menanyakan tentang kabar keberadaan Brielle, justru dibuat naik pitam sesudah melongo. Dibuat terkejut, sangat kaget dengan pemandangan di tangga paling atas. Leonathan tengah merangkul Alice dan memberikan elusan di perut sahabatnya, juga memberikan doa, “semoga kau dan bayimu sehat.” Naomi berusaha membuat dadanya naik-turun dengan kecepatan normal. “Yang aku lihat sekarang ini apakah salah paham?” tanya Naomi di saat Alice dan Leonathan kompak menangkap keberadaannya yang masih sampai di anak tangga pertama dari bawah. “Apa ada kabar tentang Elle?” tanya Leonathan yang otaknya langsung tertuju pada wanita pujaannya. “Kau ke sini ingin membicarakan itu, bukan?” tambah Leonathan yang memijak beberapa anak tangga, meninggalkan Alice yang masih di atas dengan wajah sendu dan tenggorokan tak mau bersuara. “Kalian ada sesuatu? Kalau iya, untuk apa kau mencari Elle?!” “Apa lagi ini? Kau mengira aku dan Alice apa?” “Kau menghamili sahabatmu sendiri?!” Naomi geleng-geleng kepala karena tak tahu ingin merespons Leonathan dan Alice dengan cara apalagi. “Aku pamit, kalian tidak sehat.” Leonathan mencegah Naomi dengan menarik lengan perempuan itu. “Apa? Kau ingin mengatakan itu salah paham?” “Memang salah paham. Aku peduli, iba karena dia sahabatku dan hamil tanpa pasangan.” “Kau iba atau cinta?” pertanyaan Naomi ini justru meluncurkan tawa pria di hadapannya. “Lihat, kau saja berusaha menutupinya dengan tawa bodohmu itu.” Kemudian berbalik untuk segera angkat kaki sebelum dia memberikan tamparan lagi pada sang pemilik Mixture cafe.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN