Benar saja dugaan kami.
Pulang dari kampus dan kantor polisi.
Terus jemput Ria di kos nya.
Baru sampai di rumah.
Setelah lihat video viral Ririn.
Ada telepon dari nomor tidak dikenal buat Babe.
Panggilan pertama Babe acuhkan.
Panggilan kedua juga diacuhkan.
Panggilan ketiga baru Babe angkat.
Dengan loud speaker dinyalakan.
Terus rekaman diaktifkan.
Karena kami sudah menduga pihak penelepon.
Penelepon( P) : Hallo. Anda Aditama Prawira?
Babe : Iya. Saya bicara dengan siapa?
P : Saya Rahmat Jaylani. Bapak dari Sandro Jaylani. Orang yang ditahan karena anak anda.
Babe : Oh ya. Yang dijuluki Rajay si Raja N*rk*b*. Ada yang bisa saya bantu?
Rajay : Jaga mulut anda. Saya minta cabut tuntutan anda terhadap anak saya. Atau kehidupan anda tidak akan tenang.
Babe : Anda mengancam saya? Datanglah kalau berani. Jangan pikir saya takut.
Rajay : B*ngs*t. Dikasih kesempatan mundur malah ngelunjak. Tunggu saja kamu.
Babe : Siapa takut. Lu jual Gue beli.
Malamnya beberapa pemuda tampang sangar.
Istilahnya preman lah gitu.
Lewat depan rumah pake motor.
Mereka melempar banyak batu yang dibungkus kain putih.
Kain dibuka isinya tulisan ancaman.
Beberapa body guard yang berjaga membiarkan saja.
Memang disengaja.
Biar dikira kita ga bisa apa apa.
Padahal 100 lebih body guard berjaga.
Kebanyakan bersembunyi di tempat yang tidak terlihat.
Hanya belasan saja yang kelihatan.
Belum lagi beberapa aparat kepolisian yang memang disewa Babe untuk membantu.
Ditambah lagi anggota keamanan perusahaan Babe.
Wew kalau preman tuh tau.
Pasti ngacir mereka.
Yang keliatan ga sampai 20 orang.
Pantes preman berani.
Bahhh cuman batu sama kain tulisan ancaman.
Cemen lu ah.
Mana lemparannya cuman sampe halaman rumah.
Jarak jalan sampe pintu rumah gue.
Eh rumah Babe maksudnya.
Kan jauh
Mana sampe lempar pake tangan kosong.
Ditunggu sampe pagi.
Ga ade lagi tuh preman nongol.
Hari minggu pagi.
Om Rajay nelepon Babe lagi.
Babe aktifkan speaker dan rekaman lagi.
Rajay : Udeh terima ancaman gue. Ini kesempatan terakhir lu mundur. Atau gue habisin lu sekeluarga.
Babe : Udeh. Cuman segitu. Cemen lu ah. Kirim lebih banyak. Ini kesempatan terakhir lu buat tobat. Atau gue buka ceki lu.
Rajay : K*p*r*t lu. Nantangin lu. Tunggu aje nanti malam. Bakal rata rumah lu sama tanah.
Babe : Ok. Gue tunggu. Sekalian lu datang juga. Mau duel gue jabani.
Babe kan jago silat.
Telepon dimatikan sama Om Rajay.
Kami pun berunding untuk persiapan nanti malam.
Semua penghuni rumah.
Kalau mau keluar mesti dikawal.
Harus pulang sampe rumah sebelum jam 5.
Para wanita diharap segera ke kamar masing masing.
Apabila serangan lawan dimulai.
Para pria bersiap siaga depan pintu rumah.
Sebelum jam 6 malam.
Kami dan para body guard sudah makan malam.
Lebih baik mengisi perut dulu.
Supaya ada tenaga nanti.
Kita kan ga tau jam berapa musuh datang.
Selesai makan malam.
Sebagian besar body guard kembali bersembunyi.
Yang tugasnya keliatan bertugas jalan sambil meliat liat keadaan sekitar.
Malam pun tiba.
Jam 9 malam.
5 minibus tiba.
Sedikit agak jauh dari rumah kami.
Puluhan orang turun dari 5 minibus.
Perkiraan kami musuh sekitar 40 orang.
Mereka langsung menyerbu pagar rumah.
Mencoba merusak pagar rumah.
Agar bisa masuk.
Babe mengirim kode ke satpam. Agar membuka pintu pagar.
Satpam menekan tombol di meja ruangan Satpam.
Pagar terbuka.
Para preman menghambur masuk dengan berbagai jenis senjata di tangan.
Polisi yang berjaga memberi tembakan peringatan.
Para preman terdiam.
Semua body guard dan karyawan Babe yang bersembunyi keluar dari tempat persembunyian.
Satpam menekan tombol menutup pintu pagar.
Sadar kalah jumlah para preman pucat ketakutan.
Belum lagi ada aparat kepolisian. Sedangkan beberapa preman yang tertinggal di luar pagar melarikan diri.
Mereka tinggalkan rekan yang terkepung di dalam pagar.
Seorang polisi senior meminta para preman membuang senjata mereka.
Semua diperintah telungkup di halaman.
Para polisi memborgol beberapa preman.
Terutama para pimpinannya.
Para preman bawahan banyak yang diikat tangannya dengan tali.
Karena borgol tidak cukup.
Sekitar 32 orang berhasil diringkus.
Tanpa perlawanan sama sekali.
Dari 5 minibus 2 kabur.
Tertinggal 3 minibus di dekat rumah.
Mungkin karena kunci mobil ada dengan preman yang telah diringkus.
Setengah jam kemudian 3 mobil petugas kepolisian tiba.
Para preman diangkut.
Guna dimintai keterangan.
Ga lama kemudian Om Rajay telepon.
Rajay : Awas lu. Tunggu balasan gue.
Babe : Kok lu ga datang. Biar sekalian diangkut.
Rajay : Gue disana kok. Di mobil mercy.
Babe : Oh Mercy di pojokan jalan itu. Kok ga sekalian mampir. Biar gue sambut.
Rajay : Mampus aja lu.
Telepon pun ditutup.
Sepertinya Om Rajay sangat emosi.
Puluhan bawahannya diringkus.
Besoknya berita di TV pada heboh.
Pada headline news.
Telah ditangkap semalam puluhan orang preman yang hendak menyerang rumah konglomerat Aditama Prawira.
Puluhan preman yang menyerang rumah Aditama diperkirakan berkaitan dengan kasus Sandro Jaylani anak Rahmat Jaylani.
Banyak lagi berita lainnya.
Selain headline news.
Juga jadi viral di sosmed dan dunia maya.
Gile cepat juga awak media cari berita.
Untuk sementara Ririn kuliah online.
Gue dan Ria tetap masuk kuliah. Tanggung sih hanya 3x pertemuan sebelum ujian akhir semester.
Tapi ya dikawal 8 body guard.
4 body guard cewek ngawal Ria.
4 ngawal gue.
Bang Ion dan Nana juga kuliah seperti biasa.
Juga dikawal 8 body guard.
4 body guard cewek ngawal Nana.
4 ngawal Bang Ion.
Sedangkan Bang Iger milih bolos 1x pertemuan.
Biasa Bang Iger.
Tapi sejak sama Kak Linda dia udah sering masuk kuliah.
Jadi semester ini dia hanya bolos hari ini.
Tapi dia sempat nelepon dosen. Minta jadwalnya diganti hari Jumat.
Jadi bukan bolos juga sih.
Hanya ganti jadwal hari saja
Bang Iger memang sudah bertekad namatin kuliah secepat yang dia bisa.
Maklum udah molor dari waktu seharusnya.
Harusnya barengan gue dan Bang Ion.
Tapi karena masih banyak mata pelajaran kuliahnya yang belum kelar.
Diperkirakan tahun depan baru bisa lulus.
2 semester lagi lah setelah ini.
Di kampus gue diburu sama teman teman yang penasaran.
Belum lagi awak media.
Tapi awak media diusir sama teman teman kampus gue.
Jadilah kami ngumpul di kantin.
Waktu jam istirahat.
Tanpa awak media.
Nih teman teman mulai kepo.
Nanyain ini itu.
Untung sih off record.
Gue jawab setau gue.
Boleh dibilang kami ngerumpi sesama teman lah.
Nih teman teman pada respek sekarang.
Udah tau gue anak Sultan.
Anaknya doang.
Yang Sultan kan Babe.
Gue belom.
Bobi dan Gembul paling antusias.
Sampe hampir bolos kuliah.
Gue suruh Bobi masuk kelas nya.
Kalau ga masuk.
Gue ga mau bayar biaya kuliahnya lagi.
Terpaksa dia masuk kelas.
Sedangkan Gembul hampir telat masuk kelas.
Tapi biasanya dia selalu tau waktu.
Termasuk rajin juga.
Cuman kali ini lupa waktu.
Telat 5 menit.
Untung dosennya juga telat.
Kena macet di jalan.
Di kantin tinggal gue dan Ria juga beberapa teman lain.
Maklum kelas gue diundur 1 jam.
Dosennya ada keperluan.
Ada junior angkatan juga sih.
Mau nanya tentang mata pelajaran kuliah yang dia ambil.
Maklum gue dan Ria sering bantu junior angkatan.
Kami bantu jelaskan sebisa kami.
Setelah puas mereka pergi.
Tinggal yang hanya ingin ngerumpi saja.
Gue dan Ria memilih mengurus bahan sidang skripsi Ria.
Maklum jadwal sidangnya Jumat sore ini.
Awak media kembali datang.
Tapi beberapa teman senior dan junior gue pasang badan.
Ditambah body guard gue.
Mereka usir lagi tuh awak media.
Tidak mendapat kesempatan para awak media pun pergi.
Sorenya kami pulang.
Tentunya setelah kelas selesai.
Sesuai perkiraan Babe.
Akan tenang beberapa hari.
Om Rajay akan bertindak lebih hati hati setelah puluhan bawahannya tertangkap.
Tapi dia pasti akan menelepon untuk meneror lagi.
Seperti biasa sore itu.
Sewaktu gue dan Ria baru tiba.
Om Rajay meneror Babe melalui telepon.
Gue ga dengar dari awal sih.
Hanya mendengar akhir percakapan Babe dan Om Rajay.
Om Rajay : Gue tidak akan melepaskan lu.
Babe : Ayo sini. Jadi cowok kok takut. Bisanya gertak doang.
Om Rajay : Gue buntingin anak gadis lu. Baru tau rasa lu.
Babe : Halah peluru kosong doang. Bisa nembak ga ada hasil. Lu kan mandul. Ga bisa punya anak. Gimana mau buntingin anak orang.
Rajay : Sembarangan tuh anak gue Sandro.
Babe : Sandro kan bukan anak lu.
Telepon langsung ditutup oleh Om Rajay.
Sepertinya dia marah.
Sindiran Babe halus tapi tepat sasaran.
Babe udah dapat hasil laporan dari orang suruhannya.
Ternyata Wakil Rektor 2 di kampus gue.
Adalah Babe kandung Sandro.
Pantasan tuh Wakil Rektor 2 mati matian menghapus rekaman CCTV.
Bakalan ada berita heboh lagi.
Memang Babe sudah lapor polisi hari sabtu.
Tapi Babe minta Wakil Rektor 2 jangan ditahan dulu.
Babe masih perlu menyelidiki beberapa hal tentang dia.
Setelah dapat bukti ini.
Babe menelepon polisi dan meminta agar Wakil Rektor 2 segera ditahan.
Babe akan menyuruh orang menyerahkan bukti tambahan ini kepada polisi.
Babe juga menelepon Rektor.
Mempersilahkan Rektor mengambi tindakan.
Bakal heboh nih kampus besok.
Gue dan Ria udah tau.
Jadi besok udah siap mental.
Hari selasa pagi.
Gue ke kampus bareng Ria.
Sebenarnya tidak ada kuliah.
Hanya pengen tahu perkembangan masalah di kampus.
Begitu tiba.
Kami langsung dikerumuni.
Tentu saja tidak ada awak media.
Udah diusir duluan.
Pada heboh deh.
Kali ini kami jabani lebih lama.
Maklum ga ada kelas.
Tapi kami minta waktu untuk ke perpustakaan dulu.
Selesaikan bahan persiapan sidang skripsi Ria.
Satu jam kelar dah.
Kan memang udah siap sebenarnya.
Cuman final cross check aja.
Setelah ini bisa santai sampai waktu sidang.
Kami pun ke kantin.
Bak seleberities aja kami disambut.
Langsung rame.
Ya udah dijabani deh.
Off record tapinya.
Tapi akhirnya kami putuskan pulang cepat.
Setelah makan siang.
Gue dan Ria langsung pulang.
Cerita Bab ini sampe di sini aja.
Kita lanjut di Bab berikut.