Mereka makin terhentak kaget mendapati dua orang yang memasuki ruangan. Melihat tubuh Fay yang terlempar ke sofa, Arina bangkit dan mendekat. Untuk sekadar memberi perhatian pada anaknya. Dari sikapnya ia ingin mengatakan, 'Semua akan baik-baik saja, Fay. Meski kamu salah, ada mama di sini yang akan selalu menguatkanmu.' Sementara Ubed memiringkan senyum sinis. Pria macam Fay tak pantas mendapat pembelaan melainkan makian dan hukuman atas perbuatannya yang menjijikkan. Setiap kali tangannya mencengkeram dan memperlakukan Fay dengan kasar, ingatannya berputar pada saat Liana menangis dalam bis. Saat di mana istrinya meminta pendapat tentang seorang teman yang dilecehkan. Batinnya terluka bukan hanya karena Liana yang memilih untuk tidak jujur. Namun, juga bayangan yang berkelebatan bagai

