"Tante aku jahat, dia udah bunuh ..."
"Bunuh? Bunuh siapa?"
Jehan mengerjap cepat. Astaga, apa yang baru saja ia katakan? Gadis itu mulai gelagapan, bagaimana bisa ia berkata seperti itu?
"Kok bunuh? Salah denger kamu," alibi Jehan.
Adelard menatapnya bingung, tapi mungkin benar ia telah salah mendengar ucapan Jehan. "Lo ngomong apa tadi?"
"Oh—itu, umm. Tante aku kerja di luar negeri, jadi aku tinggal sendirian."
Adelard hanya mengangguk dan tak mau ambil pusing. Mungkin memang ia telah salah mendengar tadi, apalagi suara gerimis dan orang-orang yang berlalu lalang cukup mendominasi suasana.
Jehan masih ketakutan jika Adelard akan menaruh curiga padanya. Ia sangat mengutuk kecerobohan yang baru saja ia lakukan. Namun, melihat Adelard yang seperti biasa saja membuat Jehan sedikit lega. Harap-harap jika Adelard tak mempermasalahkan hal tersebut.
Kini, dua pesanan nasi goreng hangat baru saja datang. Hal ini cukup mendukung Jehan untuk mengikis kekosongan dan dirinya yang salah tingkah akibat ucapannya sendiri.
Jehan mengucapkan terima kasih dan mengulas senyum lebar pada pemilik kedai yang baru saja menghidangkan pesanannya. Sambil menyantap pesanannya, Jehan mencoba mencuri pandangan ke arah Adelard hanya untuk memastikan bahwa cowok itu tidak bertingkah aneh dan menaruh curiga padanya.
"Nasinya bisa kena hujan kalo lo cuma ngabisin waktu buat mandangin gue," sindir Adelard.
"Astaga, kenapa dia bisa tahu?" batin Jehan dengan mata melotot.
Jehan dibuat salah tingkah, tapi kali ini beda. Bukan salah tingkah karena ia yang takut jika Adelard menaruh curiga padanya. Namun, karena dirinya yang baru saja kecolongan. Gadis lugu itu menggaruk tengkuknya yang sama sekali tak terasa gatal.
"Gue tau kalau lo dari tadi liatin gue, meskipun gue enggak ngeliatin lo." Cowok itu melahap sesuap nasi goreng hangat didepannya, masih dengan tatapan lurusnya tanpa melihat ke arah Jehan.
Jehan meneguk ludahnya kasar, dua kesalahan di satu kesempatan. Ah, bodohnya, pikir Jehan.
***
Setelah tugasnya selesai sebagai bodyguard dadakan Adelard yang telah menemani membeli buku dan makan. Kini ia kembali harus menemani cowok itu pergi ke suatu tempat yang cukup romantis. Ya, tujuan ketiga mereka adalah taman.
Taman ini terlihat sangat luas dan asri. Banyak pepohonan rindang serta tanaman bunga yang terlihat cantik nan indah. Sore ini, dengan sedikit air gerimis yang jatuh membasahi bumi, menemani kedua insan yang tengah duduk santai di bangku taman.
Jehan menopang dagunya. Gadis itu terlihat sangat bosan dan lelah. Pikirnya, Adelard hanya akan memintanya untuk menemani membeli buku. Namun, ia salah. Tiga permintaan kini sudah Adelard minta.
Ia sama sekali tidak paham dengan alasan Adelard membawanya ke taman ini. Jika orang-orang menganggap duduk berdua di taman dengan gerimis yang menerpa adalah sebuah momen romantis, maka Jehan akan mengatakan tidak. Pasalnya ia kini harus menahan udara dingin yang menerobos tulang-tulangnya. Terlebih insan disebelahnya tak mengatakan apapun.
"Kita mau ngapain, sih?" tanya Jehan memecah keheningan. Ia juga berencana untuk bernegosiasi dengan Adelard agar mereka bisa cepat pulang. Ya, meskipun ia tahu bahwa nantinya Adelard akan marah padanya.
"Diem, gue suka keheningan. Gue seneng bisa ngabisin waktu di alam terbuka apalagi gerimis kayak gini." Adelard memejamkan matanya sambil menghirup dalam-dalam udara segar sore ini.
Memang benar, udara dan suasana di taman ini begitu menenangkan, meskipun masih banyak orang disekitar yang tengah asik melakoni aktivitasnya masing-masing. Namun, jujur saja, banyaknya orang yang berlalu-lalang tak sama sekali mengganggu kenyamanan Adelard.
Jehan menetralkan napasnya. Jika ini adalah kesenangan Adelard, mengapa cowok itu tidak membiarkan Jehan pergi?
"Gimana kalo aku pulang duluan?" Jehan mulai bernegosiasi.
Cowok itu cepat menatapnya, "Enggak bisa. Lo harus tetep disini. Anggap aja ini lo lagi bayar utang karena kesalahan lo kemarin."
Jehan kalah telak, jika membawa kesalahannya dalam sebuah negosiasi ini pastinya ia tak dapat mengelak. Akhirnya, ia harus kembali membentengi dirinya untuk tetap sabar melakoni setiap apa-apa yang diperintahkan Adelard.
"Ada es krim, lo tunggu disini." Cowok itu bergerak cepat meninggalkan Jehan. Membuat Jehan melirik ke segala arah untuk menemukan penjual es krim yang baru saja Adelard katakan.
Benar saja, di ujung sana, tepatnya dibawah pohon rindang, seorang penjual es krim keliling tengah berteduh. Jehan melihat Adelard yang begitu semangat menghampiri penjual tersebut. Ia menggeleng keheranan. Cuaca yang dingin dan gerimis seperti ini, tapi Adelard malah ingin membelinya.
Diujung sana masih Jehan pandangi betapa akrab Adelard berbincang dengan pedagang itu. Lain halnya ketika bersama Jehan, cowok itu lebih banyak diam dan bersikap tak ramah padanya.
Tiba-tiba seorang gadis kecil datang dengan tangisannya. Jehan yang melihat ini pun langsung menghampiri gadis kecil itu. Bisa Jehan lihat bahwa mata gadis itu sudah sangat merah dan sembab menandakan bahwa ia sudah lama menangis.
Jehan segera berjongkok dan meraih lengan gadis imut itu. "Hei, Sayang. Kamu kenapa?"
Gadis kecil berkisar umur empat tahun itu tak menjawab pertanyaan Jehan, yang ada ia malah semakin memperkeras tangisannya. Jehan mulai kelimpungan, tak tahu harus melakukan apa.
"Orang tua kamu mana? Kamu terpisah dari Mama kamu, ya?" tanya Jehan lagi. Kali ini lebih lembut sambil menatap mata gadis tak berdosa itu dengan harapan ia mau menjawab pertanyaannya.
Gadis kecil itu sesenggukan, tapi tangisnya perlahan memudar. Jehan cepat-cepat mengulas senyum agar gadis itu tak merasa takut. Jehan pun mengelus puncak rambut gadis itu, "Cantik, nama kamu siapa? Kamu nggak perlu takut, ya, sama Kakak."
"Luna, ini namanya Luna." Gadis itu menunjuk dirinya sendiri sembari memperkenalkan namanya.
Jehan yang melihat itu langsung tertawa. Gadis lucu bernama Luna ini ternyata sudah aktif dan jelas dalam berbicara. Jehan tak menemukan adanya kesulitan dalam pengucapan kata nya.
"Oh, nama kamu Luna. Kalo Kakak namanya Jehan." Jehan mengulurkan tangan agar gadis itu bisa menjabat menjabatnya. Sebisa mungkin Jehan harus membuat Luna nyaman agar mau berbicara tentang awal mula terpisahnya ia dan orang tuanya.
Luna segera menjabat tangan Jehan. Gadis kecil itu nampak bahagia karena perlakuan Jehan yang sangat hangat dan manis. Rupanya Jehan cukup lihai untuk mengambil hati anak kecil.
"Ini es krim buat kamu."
Jehan dan Luna mendongak ke sumber suara. Rupanya Adelard sudah berdiri sejak lama di belakang Jehan. Cowok itu sedari tadi sudah melihat apa terjadi antara Jehan dan Luna.
Adelard segera menyodorkan sebuah es krim untuk Luna. Ia juga memamerkan senyum tulus yang tak pernah ia perlihatkan kepada Jehan. Tentunya hal ini membuat Jehan kaget, pasalnya yang Jehan tahu, selama ini Adelard tak pernah memamerkan senyum seperti itu.
"Asik, makaci kak," sorak Luna bahagia. Setelahnya ia dibantu oleh Jehan untuk membuka bungkus es krim tersebut, tak lupa Jehan juga mengajak Luna untuk duduk di bangku taman bersamanya dan juga Adelard.
Ada sedikit rasa kagum dari Adelard untuk Jehan karena gadis yang cukup menyebalkan itu terlihat sangat lihai untuk mengurus anak kecil. Jehan juga sangat luwes dan pintar membuat anak kecil nyaman berada didekatnya, apalagi Luna adalah gadis yang baru beberapa menit mereka temui.
Adelard mengulas senyum tanpa sadar. Posisi Jehan yang tengah bercerita tentang dunia hewan kepada Luna membuat Adelard mengingat mamanya. Dulu ia juga mendapatkan perlakuan yang sama dengan apa yang Jehan lakukan terhadap Luna. Pergi ke taman dengan es krim di tangan kanan serta mamanya yang bercerita dongeng kesukaannya. Ah, mengapa jadi sentimental seperti ini?
"Oh iya, Luna. Kamu tadi ke taman sama siapa?" Jehan mulai melancarkan aksinya. Mungkin setelah menjalin kedekatan dan membuat Luna nyaman, ia akan segera mendapatkan jawaban.
"Aku kesini sama Mama, Papa masih kerja." Luna mulai berkaca-kaca, sepertinya ia kembali teringat bahwa ia baru saja terpisah dari ibunya.
Jehan meremas pipi Luna pelan. "Kamu nggak boleh nangis. Kakak bakal bantuin kamu buat ketemu sama Mama lagi, setuju?"
Luna mulai kegirangan. Dapat Jehan lihat bahwa pupil gadis kecil itu membesar. Ia sangat antusias untuk menemukan kembali mamanya.
Jehan menatap Adelard ragu, ia takut jika Adelard enggan untuk membantunya mencari keberadaan Ibu dari Luna. Namun, sebelum Jehan memintanya, Adelard seperti sudah paham duluan. "Kita cari bareng-bareng orang tua anak ini, kasian."
Akhirnya mereka bertiga memutuskan untuk menyusuri taman yang berukuran cukup luas ini. Dengan Luna yang setia berada di gendongan Adelard, mereka terus menyusuri taman tersebut dengan sedikit informasi yang mereka terima dari Luna.
Gadis kecil itu tak menjelaskan secara gamblang bagaimana ia bisa terpisah dari ibunya, kapan terakhir kali ia berdiam disebuah tempat bersama ibunya, atau sedang memakai baju apa ibunya saat ini. Yang mereka dapatkan hanyalah nama gadis itu dan pengungkapannya bahwa ia datang ke taman hanya dengan seorang ibu tanpa ayahnya.
Namun, Adelard dan Jehan sudah merasa maklum. Gadis berusia empat tahun rasanya tidak akan bisa mendeskripsikan sesuatu yang baru saja mereka alami.
"Luna, rambut mama kamu panjang atau pendek?" Jehan tak kehabisan akal untuk terus mengulik identitas mama Luna. Mungkin pertanyaan seperti ini tak begitu sulit, pasti Luna bisa menjawabnya.
"Emm ... rambut mama aku panjang, tapi di kuncil," jawab Luna.
"Di kuncil?" tanya Adelard.
"Di kuncir," jawab Jehan membenarkan.
Berhasil, satu jawaban kembali Jehan dan Adelard dapatkan. Meskipun hanya potongan rambut, tapi hal itu juga pasti akan meringankan pencarian mereka. Yang jelas mereka tak harus menyapa seorang wanita dengan rambut yang tergerai bebas untuk menanyai apakah mereka tengah kehilangan anak.
Hari mulai semakin larut, gerimis juga tak ada habisnya membasahi bumi. Taman yang luas untuk di itari cukup membuat mereka lelah dan pusing.
Adelard segera menurunkan Luna dari gendongannya lalu memijit pundaknya yang terasa pegal. "Mending kita bawa anak ini pulang, gue udah capek nyarinya."
"Eh, jangan. Kamu kebayang, kan, gimana paniknya Mama dia sekarang? Pasti dia lagi kebingungan cari Luna. Apalagi kalo Luna mau kamu bawa pulang, pastinya Mama dia bakal gelisah."
"Terus gimana ...," tanya Jehan.
"MAMA!!" Teriak Luna kegirangan. Pasalnya sosok wanita berpawakan tinggi dengan kulit eksotis dan rambut panjang yang diikat rapi itu datang ke arah mereka. Luna segera berlari untuk segera memeluk wanita yang ia panggil Mama tadi. Wanita itu segera merentangkan kedua tangannya untuk menangkap Luna dalam pelukannya.
Jehan menatap bahagia setalah menyadari bahwa wanita itu adalah Mama Luna. Ia juga mengulas senyum penuh kebahagiaan saat akhirnya Luna bisa bertemu lagi dengan mamanya, hingga ia yang tak harus repot-repot berdebat dengan Adelard agar Luna tak perlu dibawa pulang.
"Ma, liat! Dua Kakak ini yang bantu aku tadi." Luna melepas pelukannya lalu menunjuk kedua insan di belakangnya.
Wanita yang diketahui sebagai Mama dari Luna itu memasang senyum bahagia, ia juga meneteskan air matanya. "Terima kasih, ya. Kalian udah nolongin anak saya. Saya nggak tahu kalau nggak ada kalian, mungkin anak saya udah diculik. Saya nggak tahu harus berterima kasih seperti apa "
"Sama-sama, Bu. Ibu nggak perlu ngelakuin apapun untuk berterima kasih, kok, Bu. Yang penting sekarang Luna bisa ketemu sama Ibu, itu udah cukup buat kita bahagia," balas Jehan.
"Yang penting lain kali Ibu harus lebih hati-hati. Anak seusia Luna emang lagi aktif-aktifnya, kan?" tambah Adelard.
Wanita itu mengangguk lalu menciumi kening anaknya sambil menangis. Benar kata Adelard, harusnya ia lebih hati-hati lagi. Pasalnya diusia Luna yang memasuki pertumbuhan aktif membuat gadis kecil itu sering melakukan hal-hal yang terduga jika tidak diawasi.
"Sekali lagi terima kasih, ya."
Jehan dan Adelard mengulas senyum untuk Mama Luna. Setelahnya Jehan pergi menghampiri Luna lalu mulai menunduk untuk menyamakan tinggi badan gadis kecil itu. "Cantik, Kakak seneng banget bisa ketemu kamu. Lain kali kalo mau main, bilang dulu ya sama Mama? Janji?" tawar Jehan sambil menyodorkan jari manisnya.
"Oh, iya, Kak. Nanti ... kalau Kakak berdua menikah, Luna diundang, ya?"
Jehan membulatkan matanya. Apa yang baru saja diucapkan oleh gadis kecil ini? Mengapa gadis sekecil ini bisa memiliki pemikiran demikian? Terlihat Adelard yang juga sama terkejutnya dengan Jehan.
Mama Luna hanya bisa tertawa kecil mengingat bahwasannya kini Adelard dan Jehan tengah memakai seragam SMA.
"Kok diem aja?"
Jehan hanya menunduk, tak tahu harus menjawab apa. Sedang Adelard juga terlihat sedikit canggung, tapi masih bisa ditutupi dengan raut wajahnya yang datar.
"Iya, nanti pasti diundang kok sama Kakak ini. Iya, kan?" tanya Mama Luna.
Adelard dan Jehan saling memandang. Diikuti oleh Luna yang menatap mereka bergantian.
"Iya, nanti diundang." Jehan dibuat terbelalak karena kalimat itu baru saja lolos dari bibir Adelard.
Jawaban Adelard berhasil membuat Luna bersorak bahagia, meskipun ia melakukanya juga degan asal agar anak itu berhenti membicarakan tentang dirinya dan Jehan.
.
.
(Bersambung)