jadi

979 Kata
Karena tidak punya pilihan lain, ditambah baju bayi yang terbatas, aku terpaksa kembali ke rumah. Kuperiksa bayi Rima yang masih tertidur di buaian, lalu dengan cepat, setengah terseok, aku menuju sumur yang ada di tengah-tengah pekarangan rumah. Sumur itu adalah satu satunya sumber air keluarga, karena kampung ini termasuk daerah kering, jadi di musim kemarau airnya terbatas. Meski begitu, tandon dan kebutuhan lima rumah tetap terpenuhi. Ibu mertua beruntung bisa memiliki rumah sekaligus sumur Karena untuk menemukan sumber air itu susah sekali. Keadaan di tempat ini sangat nyaman Kalau kau punya sumber air sendiri tapi kalau tidak punya, maka akan susah sekali. Warga kampung yang tidak memiliki sumur biasanya mengantri air di bak ledeng yang dibuat pemerintah tapi airnya jarang terisi oleh kendala mesin dan malasnya petugas pengurus, jika sudah begitu maka tidak ada pilihan lain selain pergi pergi mengangkat air dari sumber air dekat bukit, jaraknya cukup jauh, sekitar 500 meter. Kembali ke sumur, setelah meletakkan bak cucian kugeser penutup sumur yang terbuat dari seng dan bingkai kayu, kodorong benda yang lumayan berat itu dengan sekuat tenaga. Bisa bayangkan jika seseorang yang baru melahirkan, perutnya masih sakit dan jahitan yang masih basah harus menarik timba air tanpa katrol, sementara sumurnya sangat dalam. Ingin rasanya minta bantuan seseorang, tapi semua ipar yang punya kegiatan dan bekerja di ladang, sedang tidak berada di rumah. Ada adik Kak Aidil yang menjadi guru SD, namanya Rika, tapi tentu saja dia sedang mengajar di jam segini. Keponakan Kak Aidil semuanya sekolah, dan tidak ada yang senggang. * Kugeret ember yang sangat berat itu dengan tali yang terbuat dari karet ban kasar, sesekali timbaku terantuk dengan dinding dan batu sumur sehingga airnya banyak yang tumpah di perjalanan. Baru menimba dua kali saja d**a ini rasanya mau sesak, kucoba mengisi 2 baskom yang lain dengan sisa tenaga yang ada agar aku bisa segera menyelesaikan cucian dan mandi. Namun baru saja mulai mencuci tiba-tiba dari arah rumah terdengar suara bayiku yang menangis, tak punya pilihan, kutinggalkan cucian yang masih kotor begitu saja, karena tidak tega bayiku sampai menangis kejer dan kehausan. Dengan keringat yang masih bercucuran kuraih segera Rima dan kususui dia yang masih berumur 1 minggu. Setelah tenang kembali kuletakkan anakku lalu menyelimutinya dan kembali ke sumur. Namun baru saja aku kembali alangkah terbelalaknya mata ini karena semua cucian kotor sudah direndam dan disatukan oleh ibu mertua dalam tiga baskom yang kuisi dengan nafas yang nyaris putus. Aku langsung lemas dan geram atas kelancangan ibu mertua. "Ibu, apa yang ibu lakukan? Aku kepayahan mengisi bak air itu, mengapa ibu meletakkan semua pakaian kotor ke dalam tiga bak!" "Hai perempuan udik, kau tinggalkan baju cucuku yang masih bekas kotoran begitu saja di lantai sumur, tidak berpikir kah kamu kalau tiba-tiba anjing datang dan menjilatnya bahkan merusak baju cucuku! Apa kau tidak punya otak, hah?!" "Saya tahu saya salah tapi baru saja Rima menangis," ucapku dengan air mata menggenang. Aku merasa kelelahan, kepanasan di tengah terik matahari dan berdiri di sumur yang sama sekali tidak di lindungi pohon rindang. Pandangan mataku semakin berkunang-kunang karena aku juga mulai lapar dan kehabisan tenaga. "Kau benar-benar tidak tahu diuntung ya ... Diberi nasihat dan ditolongi malah tidak berterima kasih!" Sebenarnya niatnya menolong sangat menyusahkanku, ingin sekali aku katakan demikian padanya tapi aku merasa tidak enak Karena Wanita itu terlihat sangat marah dan berkacak pinggang dengan sombong. "Sudah kubilang untuk pandai menghemat air. Ember yang kuberikan padamu adalah ember ukuran besar dan mustahil tidak cukup untuk sehari penuh!" "Tapi saya punya banyak cucian Bu, Saya habis melahirkan dan harus mandi dengan banyak, belum lagi mandinya anak ibu," jawabku dengan air mata yang tidak bisa kutahan lagi. Aku merasa tidak berharga dan mulai stress dengan tekanan ibu mertua. "Halah, manja, kuambil timba ini baru tahu rasa!" ucapnya sambil menghentakkan kakinya dengan keras lalu membalikkan badan dan masuk ke rumah. Cucianku, ya Allah ... Dia meletakkan dua bungkus daia ke dalam dua bak besar yang kuisi susah payah. Allahuakbar ... semoga aku punya kekuatan untuk menjalani masa nifas yang berat ini. * Syukurnya Rima tertidur pulas sehingga aku bisa menyelesaikan cucian, selepas mandi aku kembali ke rumah, ku ganti pakaian lalu menuju ke dapur untuk masak dan makan. Tapi entah kenapa, usai, makan aku merasa sakit perut, mual dan pusing. Aku merasa bagian rahimku seakan dicabik-cabik dan daerah kewanitaanku perih. Lantas diri ini pergi ke kamar mandi karena merasa mungkin hendak BAB, namun, betapa terkejutnya aku karena celana dalam dan pembalut sudah dipenuhi darah yang menggumpal. Aku pendarahan! Bukan hanya itu, aku langsung muntah tanpa terkendali. Kembali dari kamar mandi, tubuhku sudah lemas dan rasanya pandanganku berputar, aku hendak pingsan rasanya, karena perlahan tiba-tiba merasa amat lemas dan pusing tak terkira. Dengan sisa kekuatan yang ada, aku paksakan diri untuk sampai ke tempat tidur dan merebahkan tubuhku di samping bayi Rima. Aku menggigil, bahkan pembalut pun belum sempat kupakai, hanya bagian tubuh bawah yang dililit kain sarung punya Kak Aidil. Aku menggigil, tiba-tiba demam mungkin karena mencuci di terik matahari, perutku melilit mungkin karena beratnya timba yang harus kuangkat. Kepalaku pusing mungkin karena beban mental yang harus kutanggung. Ternyata benar apa yang dikatakan dokter dan bidan bahwa ibu hamil dan melahirkan tidak boleh tertekan oleh pikiran dan stres karena itu bisa memicu pendarahan, komplikasi sakit bahkan kematian. Entah di pukul berapa aku kemudian sadar, tapi yang jelas, hari sudah hujan, aku terkesiap karena aku yakin cucianku pasti sudah basah, juga ada banyak cucian ipar iparku yang lain, yang jika aku tidak mengangkatnya, mereka akan salah paham dan mengira aku sengaja melakukan itu, karena benci atau tidak suka pada mereka. Dengan segera aku menuju ke teras untuk memeriksa tali jemuran, terlihat pakaian iparku sudah masing-masing berada di teras mereka, aku yakin ibu mertua yang sudah mengangkatnya. Tapi kenapa ... hanya cucianku saja yang masih berada di tengah hujan. Kenapa ya Allah ... Seketika tungkai kakiku lemas dan aku terjatuh menangis di depan pintu rumah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN