"Dinda sehat, Lang?"
"Sehat Ma." Elang sudah jarang datang ke rumah, sejak menikah.
"Akhir pekan nanti, aku ajak."
Ria tersenyum. Dinda adalah keponakannya. Dulu sering bermain ke rumah, bahkan menginap. Dinda dan Elora beda lima tahun.
Tidak ada yang tahu perkara jodoh, dan Ria juga tidak tahu sejak kapan Elang dan Dinda menjalin kasih hingga cinta terpendam Elora harus diakhiri. Ria yakin, anaknya kini sudah melupakan Elang, terbukti setiap menghubungi anak gadisnya, tak pernah lagi ada raut suram di wajah Elora. Tiga tahun berada di Milan, Elora belajar banyak dari pengalaman barunya.
"Masih berobat?"
Elang mengangguk. "Bagiku, yang penting dia sehat. Selama kita berobat, tidak menekannya."
Ria senang mendengarnya. Dinda tidak divonis mandul, tapi letak rahim yang tidak seperti pada wanita normal umumnya, kendati begitu perasaan Elang tidak memudar.
"Dinda sudah bekerja di taman kanak-kanak."
"Biarkan. Selama kamu di kantor pasti dia kesepian."
Elang tahu, tapi mau bagaimana lagi. "El, bagaimana kabarnya, Ma?"
"Baik."
Elang senang mendengarnya.
"Tahun depan Mama menyuruhnya pulang, enggak tahu El mau apa tidak."
Sudah lama gadis itu di sana. Elang tidak pernah menghubunginya, jika rindu pada sahabatnya itu, dia akan mendoakan kebaikan untuk Elora.
Ria meletakkan dua majalah model yang dikirim oleh Elora dari Milan. "Dia sudah besar. Mama enggak nyangka putri Mama bisa mandiri di sana."
Elang jarang pulang, sesekali pulang ke rumah orang tua sahabatnya tak lain adalah untuk kepentingan perusahaan. Setelah menikah dengan Dinda, Fahri memintanya bekerja di perusahaan. Dan hari ini, ia pulang karena dipanggil oleh Fahri.
"Ini El?" pelan suara Elang.
Ria mengangguk. Mata Elang menelusuri gambar seorang wanita yang pernah menjadi sahabatnya. Dua majalah itu adalah ekslusif data perjalanan karier Elora selama berada di Milan.
Elang bisa melihat jika Elora sudah dewasa, seperti kata Ria. Di majalah itu, terlihat Elora mengenakan gaun glamour berwarna Lavender. Jelas sekali pesona sahabatnya di negeri itu.
Elang menutup majalah tersebut dan meletakkan kembali di atas meja. "El sudah berubah, ya Ma?" sebenarnya itu adalah pernyataan. Elang ingin meyakinkan pada dirinya, jika foto di majalah itu bukanlah Elora.
"Karena profesi mungkin. Tapi dia masih manja setiap ngbrol sama Mama."
Elang tidak berkomentar lagi. Kehidupan Elora bukan lagi urusannya. Ia sudah memilki Dinda. Elang sudah punya keluarga.
"Sudah datang?"
Elang sigap bangun ketika melihat Fahri. Permisi pada Ria, laki-laki itu mengikuti Fahri ke ruang kerja. Diberikan jabatan sebagai sebagai manager penting oleh Fahri, Elang tidak menyia-nyiakan waktu dan tenaganya. Setahun sekali jabatannya naik, dari sini bisa dilihat jika Elang tidak pernah main-main dengan tanggung jawab.
Di Milan, sebuah negara pusat keuangan Italia seorang gadis yang kariernya tengah melejit hidup glamour dengan kemewahan. Di hadapan orang tuanya, Elora tidak berubah tidak di hadapan orang lain.
Dia bukan lagi gadis lugu yang tiga tahun silam pernah menangis hanya karena seorang lelaki. Dia bukan lagi wanita cengeng yang pernah pingsan lantaran logikanya dilenyapkan perasaan. Kini, Elora sudah menjadi seorang bintang. Bukan hanya di Milan, Elora hampir dikenal oleh seluruh dunia.
Elora pernah menertawakan dirinya saat mengaku hamil di depan orang tua dan Elang. Tujuannya saat itu adalah menahan diri agar tidak merasa dikalahkan dan tidak terlihat menyedihkan. Elora takut, Elang tahu perasaannya saat itu dan hal itu akan membuat Elang menjauh darinya. Gadis itu tidak mau melihat masa lalunya yang sungguh memalukan jauh dari keadaanya sekarang.
Elora sudah berhasil melewati prosesnya. Syukurnya, di Milan tidak ada yang menyebut nama Elang. Pilihan Elora pergi jauh dari tanah air membuahkan hasil yang bagus. Ia tidak rindu Indonesia, jika kangen Ria dan Fahri, cukup baginya menghubungi mereka. Sedewasa itu dia sekarang.
Kepada orang tuanya, Elora mengatakan akan pulang sepuluh tahun lagi, tentu saja Ria tidak setuju. Tiga tahun yang sudah berlalu cukup membuat hari-hari kedua orang itu terasa berat. Elora pernah mengusulkan agar Ria dan Fahri pindah saja ke Milan, dan hal itu ditolak mentah-mentah oleh Fahri.
"Kalau tidak mau pulang lagi, bilang saja. Sekalian Papa coret dari kartu keluarga. Kami mau mungut anak yang tahu cara berbakti." begitu kata Fahri. Cara itu pasti akan berhasil, jika bukan tahun depan, mungkin mereka akan menunggu dua tahun lagi.
Fahri menghargai perjuangan putrinya, tapi sebagai orang tua ia tidak membiarkan kendali dipegang oleh Elora. Elora masih muda, jelas semangatnya masih menggebu untuk berkarir.
Saat datang berkunjung, paling lama mereka menginap satu minggu. Setelah itu jika rindu, sambungan telepon-lah yang akan meredamnya.
"Jangan ada drama Mama mau cucu pas aku pulang." salah satu syarat dari Elora disenyumin oleh Ria.
"Mama juga sama kaya mama orang lain," jawab Ria. Bisa dilihatnya wajah merengut sang putri. "Di sana enggak ada cowok tampan ya, El?"
"Banyak, Ma. Emang Mama sudah bosan sama Papa?"
"Hush! Ngawur kamu." Ria melihat ke kanan dan kiri, karena takut ada yang mendengar.
"Kalau banyak, kenapa tidak ada yang nyangkut?"
Tawa Elora di sana menular pada Ria. "Aku di sini kerja Ma. Bukan mancing."
Elang baru saja keluar dari ruangan Fahri saat mendengar suara tawa dari ponsel Ria. Suara itu dirindukannya, karena itu suara sahabatnya.