Suara tangisan bayi yang keras membuat tidur sepasang suami istri itu terganggu. Masih dengan kesadaran yang belum terkumpul sepenuhnya, mereka melihat sekeliling dengan tatapan linglung. Mereka hampir tertidur lagi jika bayi kembar itu tidak menangis kembali. Mereka berdua bangkit dari tidur mereka seraya menguap lebar. "Kenapa Yuki dan Yuwen menangis?" "Iya ya. Biasanya mereka adem ayem saja." Xi Juan menyahut sambil mengucek matanya. Kaki jenjangnya mulai keluar dari selimut. Dengan langkah linglung, Xi Juan mendekati si kembar. "Kenapa kalian menangis hm?" Ia menggendong Yuwen karena tangisan bayi itu lah yang paling keras. "Sttt. Jangan menangis lagi, sayang. Kau haus ya?" Xi Juan hendak menyusui Yuwen tapi bayi mungil itu tidak berhenti menangis sama sekali. "Sepertinya d

