"Hei jal*ng jangan pernah ganggu mas Wira lagi". Teriaknya tanpa malu sedikitpun. Aku terhenyak dan terdiam menahan amarah yang menuncak Aku yang sudah berada diambang tangga, berbalik badan dan mendekatinya lagi. d**a ini sangat bergemuruh. Plak.....tamparan kecil mendarat dipipinya. Diapun mengaduh kesakitan. Pesta mendadak gaduh dengan ulah mempelai wanita itu sendiri. Aku melawan karena tidak mau harga diriku di injak-injak. "Hemila Mutiara, sesungguhnya apa yang keluar dari mulutmu itu lah dirimu, tidak ingatkah bagaimana kau mendapatkan mas Wira, dengan cara yang sangat licik, lupa kamu hal itu?" Sahutku berapi-api. Aku turun dari panggung pelaminan dengan diiringi tatapan dari para tamu undangan. Aku tak menyangka jika Mila akan berbuat seperti itu. Aku berjalan cepat menu

