31

1302 Kata

"Kapan kira-kira Amera bisa sadar?" Kellan Agnia menoleh saat Challista berbicara dengan nada datar sekembalinya mereka dari restauran Italia di depan gedung. "Secepatnya. Begitu pula Ten." Challista mengangguk. Dia menjauhkan botol kopi Starbucks itu dari wajahnya dan mendesah pelan. "Aku akan datang ke rumah sakit setelah pekerjaanku selesai. Bagaimana dirimu?" "Ah, ya? Aku juga. Aku punya janji menemui Deon besok malam," ucapnya lirih. Challista menatap ke arah Agnia yang kacau. Dia tersenyum, mengulurkan telapak tangan itu ke pipi sang sahabat. "Kau pasti bisa. Apa pun keputusanmu nanti, itu yang terbaik. Kuharap kau sendiri tidak menyesalinya. Tidak sedikit pun." Agnia menatapnya dengan senyum hangat. "Terima kasih banyak." Challista hanya mengangguk, dia menatap jam di pergela

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN