"Ethan? Bisa kita bicara sebentar?" Ethan mendesah pelan. Menatap sang ibu yang duduk sembari mengusap pakaian yang sering dikenakan ayahnya semasa hidup dulu. Kenangan itu akan selalu menyiksa mereka. Ethan tahu benar, dibalik senyuman sang ibu tersimpan duka yang tak mampu terdefinisikan secara gamblang. Ethan duduk. Di seberang sofa dimana sorot luka ibunya ikut melumuri hatinya yang beku. Ethan tidak tahu lagi harus bagaimana sekarang. Setelah dia lulus, setelah dia mendapat beasiswa penuh di Universitas Negeri Jepang, salah satu Universitas bergengsi di kota mereka, dia seharusnya berbangga diri. Nyatanya, dia tidak seperti itu. Dia boleh bangga. Mendapati beberapa anak mendapat beasiswa yang sama dan mereka berteman baik. Hanya sebatas teman, tidak memiliki ikatan dalam layaknya

