4

1499 Kata
Dunia luar, ternyata berbeda jauh dari apa yang pernah Aria bayangkan. Tempat yang dipenuhi dengan petualangan, hal-hal yang mengagumkan—sesuatu yang menanti untuk ditemukan. Dahulu, Aria membayangkan bermacam petualangan yang akan dilakukannya ketika dia menjadi seorang Penjelajah. Namun kini, Aria terasing di suatu dimensi soliter; berada jauh dari neneknya, tidak tahu apalagi yang bisa dilakukannya seorang diri, dan tidak memiliki pertahanan diri dari para pemangsa. Menyepi dari dunia manusia dan terdampar dalam kebingungan. Setelah merasa cukup kuat, Aria memutuskan untuk bangkit dan mulai menyisir daerah sekitar. Berharap, dia akan menjumpai seseorang, atau yang terburuk: sesuatu. Pakaian yang dikenakannya terasa berat akibat menyerap air. Bahkan, Aria merasa kedua matanya pedih. Sepatu yang membungkus kakinya pun telah lenyap terbawa arus sungai. Bertelanjang kaki, Aria menapaki pinggiran sungai yang terasa lembab. Meski sedikit merasa pening, Aria tidak ingin berhenti di tempat ini—tempat di mana tidak ada manusia yang bisa dijumpai. Tanaman lumut menutupi bebatuan dan permukaan kayu. Terdengar bunyi suara tonggerek yang saing bersahutan, ketika Aria menatap ke atas, dia bisa melihat pucuk-pucuk hijau yang menyebar bagai serkam padi. Pemandangan asing yang baru untuk Aria. Melanjutkan langkah tersaruknya, Aria teringat pada Aran. Sesak. Tidak bisa melakukan apa pun untuk menyelamatkan pria tua itu. Sang majikan dari pembuas itu memutuskan untuk melenyapkan Aran; tepat di depan mata Aria.  Bulir bening mulai berjatuhan dari kedua mata Aria. Dia duduk bersimpuh dan mulai menangis. Napasnya seperti akan lenyap dan meninggalkan paru-parunya, badannya gemetar tiap kali mengingat setiap wajah warga kota yang mati. Dunia tak pernah seburuk ini, Aria tidak pernah menyangka bencana akan mendatangi kotanya. Sekarang, dia tidak tahu harus berbuat apa. Di sini, di tengah kumpulan pepohonan, Aria berpasrah pada kehendak langit. Jika memang dia akan berakhir serupa dengan kaumnya, maka itulah yang terjadi. Hening. Suara tonggerek yang tadi nyaring berdengung kini lenyap, hanya menyisakan suara gemericik air.  Menyadari itu, Aria segera menghapus air matanya dengan punggung tangan. Dia berusaha melirik ke sekitar, mencari-cari sesuatu yang mungkin mendatanginya.  Tepat, seperti dugaan Aria, seseorang datang. Aria bisa melihat mantel cokelat yang membalut tubuh si pendatang, tongkat kayu tergenggam erat di tangan kanannya. Dari cara berjalannya yang sedikit tertatih, Aria bisa menebak bahwa si pengunjung itu adalah seorang wanita tua. Yah, itu jauh lebih baik daripada Aria harus berhadapan dengan seekor pembuas. Wanita itu berjalan menghampiri Aria. Anehnya, Aria tidak merasa takut. Mungkin karena matahari sudah menampakkan wujudnya di langit sana, sehingga Aria bisa menghalau rasa cemas di dadanya.  Si pengunjung berhenti, menyisakan beberapa jarak di antara dirinya dan Aria. Wajah yang ada di bawah naungan tudung itu terlihat sayu, warna putih telah meliputi seluruh helaian rambut, dan Aria bisa melihat kerutan di sekitar wajah wanita itu. “Jadi, kau selamat.”  Bingung. Aria tidak mengerti maksud ucapan wanita itu. “Aku datang kemari untuk menjemputmu,” ucap si wanita tanpa memedulikan raut bingung Aria.  “Kau bisa berjalan?” tanyanya kemudian. Aria mengangguk. Mengiakan ucapan si wanita. “Bagus. Ikutlah denganku.” Karena tak tahu harus pergi ke mana, Aria memutuskan untuk menerima ajakan si pendatang.  *** Wanita tua itu mengantarkan Aria ke sebuah gubuk. Letaknya sendiri tersembunyi di dalam jantung hutan. Pepohonan berdaun rimbun serta sesemakan secara sempurna menyembunyikan keberadaan gubuk tersebut. Dan, Aria menduga, wanita ini memiliki hubungan khusus dengan Aran. Memang, Aria tidak bisa menjelaskan tentang bagaimana dia berpikir demikian—bahwa Aran entah dengan suatu cara, dia memiliki ikatan dengan si wanita—yang jelas, Aria hanya bisa bergantung pada wanita itu. Hidupnya di tengah kemelut, tak ada yang bisa menolongnya selain wanita itu. Menyibak tanaman ivy yang menutupi bagian pintu, wanita itu mengatakan sesuatu. Seolah paham dengan ucapan manusia yang ada di muka pintu, tanaman itu pun bergerak, mempersilahkan kedua pendatang untuk memasuki gubuk. Begitu menginjakkan kaki, Aria bisa mencium aroma sage dan thyme. Lantai kayu yang diinjaknya berderik, untuk sesaat, Aria merasa kembali ke perpustakaan kota bersama Aran.  Di dalam pondok terdapat sebuah meja, dua kursi, dan ada sebuah tangga yang mengarah ke atas. Jauh dari perkiraan awal Aria yang menyangka tempat itu akan seperti sarang penyihir. Wanita itu mengambil sesuatu dari dalam laci yang ada di sana, kemudian dia meletakkan beberapa lembar pakaian di atas meja.  “Pakailah ini,” katanya. “Untuk menggantikan bajumu yang basah. Kau bisa menggunakan kamar yang ada di lantai atas.” Aria mengangguk. Dia segera mengambil pakaian tersebut dan bergegas menuju lantai atas. Tepat di sana terdapat dua buah ruangan. Aria memutuskan untuk masuk ke dalam ruangan sebelah kanan. Dan, di dalam sana dia segera mengganti pakaian basahnya. Selesai berganti, dia turun ke lantai bawah dan mendapati wanita itu meletakkan sepasang sepatu berwarna hijau di atas meja. “Aku hanya memiliki sepatu ini. Tidak ada yang lain, kuharap kau cukup menyukainya.” “Tidak,” ucap Aria, “sepatu ini sangat bagus. Dan, terima kasih atas pakaian ini.” Wanita itu hanya mengangguk pelan. Menunggu Aria selesai mengenakan sepatu.  “Duduklah,” perintah sang wanita. Aria menurut. Dia duduk di salah satu kursi, menunggu penjelasan. Wanita itu duduk perlahan, tubuhnya terlihat ringkih. Aria bahkan baru tersadar bahwa wanita itu sudah melepas jubah gelapnya, hingga kini, Aria bisa melihat jelas garis-garis keriput di sekitar wajah dan tubuh rentanya.  “Kau bingung, kenapa aku bisa mengetahui—” “Tidak,” potong Aria. “Sebenarnya, saya merasa Anda berhubungan dengan Aran.” Satu alis putih milik si wanita terangkat. “Apakah Aran yang mengatakannya?” Aria menggeleng. “Aku hanya menebaknya saja.” Seulas senyum tersungging di bibir wanita tua. “Tentu saja, itu bukan hal yang aneh. Nah, sekarang bagaimana aku harus menjelaskan semuanya? Atau mungkin, kau ingin menunggu seluruh cerita setelah mengisi perutmu? Aku yakin, bersantap dengan semangkok sup hangat sembari bercerita akan sangat menyenangkan.” Sebenarnya Aria sama sekali tak merasakan lapar. Semua kejadian yang dialaminya telah merenggut segala kebahagiaan yang ada di hidupnya. Dan kini, yang bisa diharapkannya adalah Mirialianna masih hidup, di suatu tempat, yang jauh dari mahluk-mahluk sesat itu. “Nah,” seru wanita itu. Dua mangkuk sup hangat kini terhidang di atas meja. Uap mengepul, nampak potongan wortel dan kubis segar. “Seperti ini, aku menyukainya. Makan sambil berbincang.” Wanita itu duduk dan langsung mengaduk sup yang ada di mangkuknya, sementara Aria hanya duduk diam, menunggu penjelasan. Sadar bahwa gadis yang ada di hadapannya sama sekali tak menyentuh sup yang disajikannya, wanita itu pun mendesah. “Ternyata kau tidak ingin mencicipi masakanku.” “Bukan begitu,” sanggah Aria. “Hanya saja, aku ....” “Tentu saja. siapa yang bisa makan setelah melihat pembuas memangsa saudaramu.” Aria diam. “Nak, aku tahu kau telah melewati masa yang menyedihkan. Aku tidak bisa menghiburmu, itu bukan bakatku.” “Aku tahu,” ucap Aria lesu. Wanita itu mengangguk pelan sebelum berkata, “Namaku Seilah, penyihir dari Tanah Utara, keturunan langsung dari Trea, si pembuat ombak.” *** Dunia Aria jungkir balik. Seilah, siapa pun wanita tua ini. Aria merasa ada sesuatu yang asing. Dan, itu semakin membuatnya merasa .... “Katakan padaku,” ucap Aria, “kau tidak berencana memasakku, kan?” Waswas, pasalnya, kebanyakan dongeng yang Aria baca mengenai penyihir tidaklah menyenangkan. Bagaimana jika ternyata wanita tua yang ada di hadapannya ini hanyalah ... tidak. Aria harus segera menghentikan laju pikirannya. Seilah menaikkan sebelah alisnya. “Menurutmu untuk apa aku menolongmu?” “Entahlah, aku hanya berjaga-jaga.” “Cih,” cibir Seilah, “bisa saja aku memasukkan sesuatu ke dalam supmu, atau jika tidak, aku akan langsung mengubahmu menjadi marmut.” Mata Aria membelalak. “Kau bisa melakukannya?” “Tidak,” jawab Seilah. “Membuang-buang tenaga saja.” Seilah mengetukkan ujung jemarinya ke atas meja. “Kita hentikkan lawakan ini. Seperti yang kuungkapkan barusan. Ada hal penting yang harus segera kita bicarakan.” Aria diam. Menunggu Seilah melanjutkan cerita. “Apakah kau masih menyimpan kalung pemberian Aran?” tanya Seilah. Aria mengangguk. “Masih.” “Bagus. Benda itu berisi peta mengenai Nirvana.” “Nirvana?” “Ya, Nirvana. Sesuatu yang dicari oleh para putra dan putri malam. Dan kau beruntung memiliki peta itu.” Aria mengeluarkan liontin yang tersembunyi di balik keliman bajunya. Benda itu terasa dingin. “Aku tidak membutuhkan ini.” “Kau,” kata Seilah. “Memang tidak membutuhkan benda itu. Namun mereka ... Nak, pikirkan kembali. Menurutmu, mengapa Aran menyerahkan kunci Nirvana kepadamu?” “Aku tidak tahu,” jawab Aria. “Lagi pula, untuk apa mencari Nirvana?” “Nak, mau tidak mau kau harus menyelesaikan apa yang dimulai oleh Aran semasa muda.” “Tapi ....” “Benda itu tidak boleh jatuh di tangan yang salah. Kau tidak bisa membayangkan apa yang sanggup diperbuat dengan kekuatan itu.” Aria menggeleng. “Bagaimana pula caraku ke sana? Dan aku juga tidak tahu tempatnya. Terlebih lagi, aku tidak bisa melindungi diriku sendiri. Aku tidak mau.” “Aku bisa mengajarimu,” katanya, “sihir. Jika kau berminat.” Kedua mata Aria menyipit. “Dan untuk melakukan itu dibutuhkan waktu yang tidak sedikit.” Seilah menyunggingkan senyum. “Bisa. Hal itu bisa dilakukan.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN