Khalisa mendongak, menatap pria yang berdiri tegak di hadapannya. tatapan pria tersebut sangatlah dalam, tatapan layaknya merinduan seorang Ayah pada putrinya. “Paman, apakah Anda juga akan menipuku seperti yang mereka lakukan?" Tanya Khalisa dengan suara lemah dan bergetar menahan tangis. Pancaran matanya begitu lemah, seperti tidak berminat untuk hidup, namun tetap di paksakan. Pria itu menahan sesak dalam dadanya, kedua tangannya mengepal erat, begitu sakit hatinya melihat keadaan Khalisa. “Adnan benar-benat baj*gan" Gumamnya, lalu dia menggelengkan kepalanya. “Tidak, paman tidak akan menipumu Khalisa. Kamu bisa mempercayai Paman, Nak." Jawabnya, seketika ekspresi wajahnya berubah lembut. Khalisa tersenyum tipis dari balik cadarnya. “Paman, aku tidak tau lagi bagaimana caranya

