Bab 8

1449 Kata
“Kamu sungguh keterlaluan tidak mengundang ku di pernikahan Arsen." Ucap pria dewasa sembari menggelengkan kepalanya dengan nada yang nampak kecewa. Sementara Tuan Adnan terkekeh kecil. Meletakan cangkir kopinya di atas meja, tidak ada pernikahan yang spesial, lalu untuk apa mengundang rekan bisnisnya. “Hanya pernikahan kontrak, tidak ada yang spesial, jadi aku rasa tidak perlu mengundang siapapun." Jawabnya membuat pria dewasa itu menakutkan kedua alisnya. “Pernikahan kontrak dan Arsen tidak menolak? bukankah dia sudah memiliki Alexia?" Tuan Adnan menganggukkan kepalanya. Dia mengalihkan pandangannya ke arah jendela kaca di sebelah kiri. Arsen memang sudah memiliki Alexia, mereka bisa bersama tanpa adanya ikatan pernikahan, dengan adanya pernikahan kontrak ini, membuat Tuan Adnan merasa mendapatkan keuntungan berlipat ganda. Alexia bukan tipe menantu idaman, meskipun cantik dan memiliki karier yang cemerlang, dari keluarga berada, namun jauh dari kata menantu idaman. Seorang model majalah dewasa, tentunya akan memperlihatkan bagian lekuk tubuhnya dan menjadi fantasi orang-orang tidak bertanggung jawab. Selain itu, tidak menutup kemungkinan, jika pencapaian Alexia itu murni karena kemampuannya, sudah menjadi rahasia umum, beberapa oknum memanfaatkan kemolekan tubuh para wanita yang ingin menjadi model terkenal dengan membawanya terlebih dulu keatas ranjang. Tidak, Tuan Adnan tidak mau memiliki menantu yang sudah terjamah ataupun menjadi fantasi liar para hidung belang. “Wanita yang di nikahi Arsen, sebenarnya bukanlah wanita baik-baik, dia seorang penggoda yang sangat bodoh, Darren calon menantuku salah satu targetnya." Kata Tuan Adnan, pandangannya masih ke arah jendela kaca. “Kalau begitu apa bedanya dengan Alexia?" Pria itu benar-benar tidak mengerti dengan jalan pikiran Tuan Adnan. Tidak setuju dengan Alexia, karena menjadi fantasi para pria liar dan sekarang menikahkan Arsen dengan w*************a. Tuan Adnan tersenyum dan menatap sahabatnya, “Meskipun penggoda, dia belum terjamah oleh pria manapun, cara menggodanya masih sangat bodoh. aku rasa sangat bagus untuk menghasilkan keturunan dari nya, Bagas." Pria yang memiliki nama Bagas itu masih terdiam, memahami setiap kalimat yang sahabatnya ucapkan. “Kamu tidak khawatir memasukkan wanita yang menggoda Darren ke dalam rumahmu, bukankah itu akan mempermudah langkahnya?" Tuan Adnan menggelengkan kepalanya. “Arsen tidak akan membiarkan hal itu terjadi" “Bagaimana kalau Arsen sampai jatuh cinta dengan wanita itu? karena kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi ke depannya." Mendengar itu, Tuan Adnan tertawa, tidak mungkin Arsen jatuh cinta pada wanita yang sudah membuat Alana menangis. “Aku akan menghancurkan keduanya, Arsen tidak boleh mengubah apa yang sudah aku tentukan, tujuan pernikahan ini, selain mendapatkan keturunan juga untuk membalas dendam atas air mata yang putriku keluarkan karena wanita itu." Tuan Bagas menggelengkan kepalanya, sahabatnya sangat menyayangi Alana dan melakukan apapun untuk kebahagiaan putri bungsunya itu. Percuma menasehati Tuan Adnan, tidak akan mempan, semenjak istrinya meninggal, pria itu menjadi kejam dan tidak berperasaan. siapapun yang berani menyakiti Alana, maka tidak akan segan untuk menghancurkan orang tersebut. Sementara di tempat lain, tepatnya di Restoran ternama di Jakarta. Di ruangan VVIP. Alexia memasang wajah cemberut. Arsen mengusap wajahnya pelan, dia sudah kehabisan ide untuk membujuk kekasihnya. “Sayang, aku harus apa lagi agar kamu tidak marah dan memaafkanku?" Pasrah Arsen. Di hadapan Alexia, Arsen bak harimau tanpa taring. dan selalu mengalah, lain halnya jika di hadapan pesaing bisnisnya. Alexia melirik sekilas, dia sangat suka melihat Arsen yang tunduk dan menuruti semua keinginannya. “Aku tidak ingin melihat pela*r itu nyaman di rumah kita." “Pela*r?" Arsen mengulang kalimat kekasihnya dengan sebelah alisnya terangkat. Alexia menganggukkan kepalanya. “Khalisa. aku tidak mau kalau kamu sampai memberikannya kenyamanan dan membuatnya berani melawanku." Arsen mengangguk. “Apapun yang kamu mau, aku akan melakukannya, sekarang sudah tidak marah lagi?" Wanita cantik itu membuang pandangannya kesembarang arah, Arsen meraih pinggang rampingnya dan memeluknya posesif. Memberikan kecupan singkat di kedua pipi Alexia. “Aku sangat mencintaimu Alexia." Ucapnya pelan. “Kalau kamu mencintaiku, kenapa kamu menikahinya dan membiarkan aku menjadi simpananmu." Lirihnya dengan wajah kembali murung. Arsen menghela nafas panjang. “Aku menikahinya demi kamu dan Alana." Jawabnya. Alexia terdiam untuk sesaat. Arsen sudah menceritakan apa alasannya menikahi Khalisa. Tidak ada pilihan yang menguntungkan bagi Arsen. “Tapi Ayahmu menginginkan keturunan darinya, aku tidak mau kamu sampai menyentuhnya, kamu sudah berjanji padaku, Arsen." Arsen memejamkan matanya, dia memang sudah berjanji tidak akan menyentuh Khalisa, tetapi malam itu dia melupakan janjinya dan melakukan secara paksa pada istri kontraknya. Bagaimana kalau sampai Alexia mengetahui tentang itu, mungkinkah kekasihnya akan pergi meninggalkannya, Arsen menggelengkan kepalanya. “Maafkan aku Alexia." Pelan nyaris tidak terdengar, tetapi Alexia mendengarnya dengan jelas. Wanita cantik itu mendorong pelan d**a kekasihnya. Memberikan tatapan penuh selidik sampai membuat Arsen salah tingkah. “Arsen, apa maksud dari kata maaf itu?" “Maaf karena aku tidak bisa melawan Ayahku dan membuatmu menderita." Elaknya, tidak, Arsen belum siap untuk mengatakan semuanya pada sang kekasih. Alexia menaikan sebelah alisnya, dia merasa jika Arsen tengah menyembunyikan sesuatu darinya. “Arsen, apakah kamu pernah menyentuhnya? Jawab?" Arsen menggeleng cepat, sebenarnya tidak ada yang salah meskipun dia menyentuh Khalisa, wanita itu istrinya yang sah untuk dia sentuh. “Aku sudah berjanji padamu Alexia, aku tidak akan menyentuhnya." Arsen berucap lebih meyakinkan, sehingga Alexia mempercayainya. “Baiklah, aku percaya, tetapi kalau sampai kamu mengingkari nya, aku akan meninggalkanmu." Ancaman seperti itu sangat membuat Arsen takut. Arsen menggelengkan kepalanya. “Jangan pernah meninggalkan aku, aku sangat mencintaimu Alexia." Ucapnya sembari memeluk sang kekasih. Alexia tersenyum senang, dia mengusap punggung Arsen lembut. beberapa detik kemudian, pelukannya mengundur dan saling bertatapan. Senyum yang sangat manis, tatapan keduanya semakin dalam hingga membawa keduanya terhanyut perlahan saling mendekatkan wajah. Semakin lama semakin dekat, hingga bisa merasakan hembusan nafas hangat keduanya, hanya tinggal beberapa senti lagi. Sampai akhirnya. Drttt Drttt Tiba-tiba saja ponsel Arsen berdering, pria itu mendengus kesal, dia paling tidak suka jika sedang bersama sang kekasih ada yang mengganggunya. Begitu juga dengan Alexia, raut wajahnya mendadak masam, kenikmatan bibir Arsen hampir saja dia dapatkan, namun ada saja pengganggunya. Arsen hanya menatap sekilas tanpa berniat untuk mengangkatnya, namun sampai beberapa kali ponselnya terus berdering. “Angkat, siapa tau ada hal penting." Titah Alexia. karena sudah mendapatkan perintah, Arsen pun mengangkatnya. Arsen: Ada apa? Galen: Arsen, Khalisa masuk rumah sakit. Arsen memutar bola matanya malas, dia pikir ada hal penting apa sampai menghubunginya berkali-kali. Arsen: Lalu untuk apa kamu memberitahu ku? Galen: Bodoh, aku memberitahumu, karena kamu suaminya, Khalisa masuk rumah sakit gara-gara ulahmu yang mengurungnya di tempat pendingin. Arsen menghela nafas panjang, dia sama sekali tidak perduli pada istrinya, lagi pula itu adalah hukuman bagi siapapun yang berani melawan dan membuat Alexia bersedih. Arsen: Biarkan saja, lagi pula siapa yang mengizinkan kalian membawanya ke Rumah Sakit? Bukanya tanpa seizin darinya, Khalisa tidak boleh di keluarkan dari tempat itu? lalu sekarang berada di Rumah Sakit, siapa yang melanggar perintahnya. Galen: Darren, dia datang ke rumah mu dan menemukan Khalisa di ruang pendinginan. Mendengar itu, Arsen mencengkram erat ponselnya. Lalu mematikan sambungan teleponnya tanpa mengatakan apapun pada Galen. Matanya merah, bukan karena cemburu, tetapi dia sangat yakin jika Khalisa yang menghubungi Darren. Tidak mungkin adik iparnya bisa menemukan Khalisa di ruang pendingin tanpa ada yang memberitahunya. “Ada apa?" Tanya Alexia, memenga lengan Arsen. Pria itu menoleh dengan tatapan yang sungguh menakutkan. “Wanita murah*n itu sengaja menghubungi pria lain untuk mengeluarkannya dari ruang pendingin." “Berani sekali dia mengundang pria lain kerumah kita." Geram Alexia, tentu saja dia tidak terima kalau sampai Khalisa keluar dari ruangan itu dengan selamat. Dia mengharapkan berita lain. Sementara di Rumah Sakit, Darren duduk di ruang tunggu. Sembari sesekali menoleh kearah pintu. Tetapi pergerakan itu tidak luput dari pandangan Galen. “Bagaimana dengan keadaan Khalisa?" Suara itu mengalihkan pandangan Galen. “Dokter masih memeriksanya." Jawab Galen, sedangkan Darren seperti tidak menyadari kehadiran sang tunangan, dia terlalu mengkhawatirkan Khalisa. “Apa yang terjadi, kenapa Khalisa bisa sampai masuk Rumah Sakit?" Tanya Alana khawatir. “Kakakmu yang menyiksanya." Sahut Darren tanpa melihat kearah Alana. Alana menaikan keduanya aslinya. “Kenapa kamu yang marah? tidak mungkin Kakakku melakukan itu tanpa alasan." Darren berdiri, dia tersenyum tipis. “Alasan apa lagi kalau bukan menuruti permintaan kekasihnya, kakakmu itu begitu bodoh." “Darren, kenapa kamu terus membela Khalisa, apa kamu.. " “Aku tidak membela siapapun, aku hanya mengatakan kenyataan Alana, Khalisa sungguh sial menikah dengan pria seperti Arsen." Darren menyela kalimat kekasihnya. Untung dia datang tepat waktu, jika tidak mungkin Khalisa sudah membeku di ruang pendingin itu, sungguh sangat kejam, terlebih Darren mendengar cerita salah satu maid, yang menceritakan kenapa Khalisa sampai mendapatkan hukuman seberat itu. Alana tercengang. “Darren kamu.. " gadis itu tidak sanggup melanjutkan kalimatnya. matanya berkaca-kaca. Darren selalu membela Khalisa dan terus terang mengatakan perasaannya pada wanita bercadar itu, tidak perduli jika Alana merasa sakit hati, sejak awal yang di cintainya adalah Khalisa. “Iya, Aku mencintainya." BUGH “DARREN!!" pekik Alana melihat tunangannya terjungkal akibat bogeman dari tangan seseorang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN