"Gum, bebaskan hatimu. Mungkin ibumu menunggu kata maaf darimu." Maesari mendekatinya, lalu bicara perlahan sambil mengusap bahunya dengan lembut. "Apakah mama masih bisa mendengar, Mak?" tanya Gumelar pada Maesari. "Katakan saja, Gum. Mumpung tarikan napasnya masih ada." bujuk Maesari, mengusap bahunya. Tangan Gumelar menyentuh wajah Rohayati. "Mama ... meski aku tidak pernah mengenalmu secara dekat, tapi Tuhan sudah menggariskan aku lahir dari rahimmu. Terima kasih sudah mengalami sakit karena melahirkan Gugum. Meski aku tidak merasakan kasih sayangmu, Gugum memaafkan Mama ...." Gumelar mengatakan dengan ketulusan hatinya. Terlihat air mata mengalir dari sudut mata Rohayati, hingga Gumelar mengusapnya. "Pergilah dengan tenang, Gugum mengikhlaskan semuanya." Dia mencium kening ibunya

