Terik matahari, membuat kelas yang di pasang kipas kecil terasa sangat panas. Tapi hal itu, sama sekali tidak membuat mood para pemuda yang sedang berada dalam masa puber itu risih.
Ketujuh pria sedang saling pandang. Sesekali mereka tersenyum dan saling menggoda.
‘Teng teng’
Pukulan lonceng istirahat berbunyi.
“Kambing, kambing... enggak sangka aku kita bisa barengan, ini bukan mimpi, kan!”
Arsen terkekeh geli sambil meletakkan tas yang sejak tadi di atas kepala. Mode pria satu ini, semua di bawa asyik sampai kadang lupa diri.
“Du ileh, si Kambing! Lo kata ini hantu...” Alex menempeleng kepala Arsen yang terus senyum sumringah.
‘Plak’
Sam melemparkan buku di atas meja. “Sudah aku isi semua, noh LKS bahasa inggris, cepat salin...”
Arsen dan Alex saling pandang.
Ini baru masuk sekolah, bisa-bisanya Sam mengerjakan semua isi LKS, padahal di pelajari saja belum. Keunggulan kumpulan ini, orang pintarnya enggak pelit dan makan sendiri.
“Pelajarannya saja belum di mulai, bagaimana kamu, Sam! Kamu ingin kita gila...”
Sam mengibaskan tangannya, dia tidak mau tahu, yang jelas dirinya sudah menawarkan.
“Fey, pulang sekolah aku ke rumah kamu, ya...”
Sam berkata sambil membuka baju, kalau yang satu ini, selalu pakai baju dalam ke sekolah. Untuk apa? Supaya baju seragam dia enggak bau keringat. Hanya Sam yang punya satu seragam pramuka, dan satu seragam putih abu-abu.
“Oke...”
“Ngapain kamu ke rumah, Fey!”
Sam menggeleng, malas sekali baginya untuk membalas pertanyaan bodoh Alex.
“Dia mau belajar Matematika, kita nyalin aja...” Satria memberi kode agar tidak membuat Sam kesal.
Ini, hari pertama setelah pembagian kelas, mereka semua sudah sah jadi siswa SMA Xaveri sekarang. Jam pelajaran belum full, jadi mereka bertujuh niat untuk cabut dari sekolah.
“Time zone...”
“Oceeeh...”
Mereka semua beranjak dari kelas. Mereka tidak sadar kalau pasukan itu kurang satu, sampai di parkiran, Arsen yang berusaha membuka mobil Taft 4x4 pun mencari di mana sang pemilik.
‘Brak’
Arsen menendang bagian belakang mobil Ethan.
“Sama Mauren lagi, dia?”
Mereka semua saling pandang sambil menghela napas. Sam yang biasanya kalem pun sekarang punya sebuah ide.
“Kita susul dia... gotong sekalian!”
Ya... mereka saling melempar senyun jahil dan mengangguk. Satria memainkan mata, dia bersiap untuk mencari di mana Ethan berada. Dia membuat dirinya penuh pesona, Satria begitu percaya diri.
Pelan, dia mencoba mengintip ke belakang kelas, dimana sepasang muda-mudi itu sering berduaan. Satria memberi kode kepada teman-temannya untuk diam, agar Eth dan Mauren tidak tahu kalau mereka ada di belakang, sedang mengintip.
Mereka semua mengintip sambil tersenyum, Eth dan Mauren lagi-lagi saling mencumbu, ah pria itu memberikan cupangan pada tubuh Mauren.
‘Glek’
Mereka yang mengintip menelan saliva. Ini adalah live pertama bagi mereka.
“Gue tegang...”
Wajah Satria memelas dan kini sudah memerah, keringat dingin muncul di keningnya. Sikap iri dengki keluar, dan dia juga ingin melakukannya. Satria membuka baju seragamnya. Dia menunjukkan sesuatu di balik seragam ini, dua titik yang ujungnya sudah megeras.
“Jijik banget, bro! Tutup...”
Arsen menempeleng kepala Satria.
“Gue beneran tegang....”
“Mati aja, Lo!”
Alex mengumpat sambil tertawa, mereka bercakap-cakap hingga tanpa sadar Ethan sudah berada tepat di depan mata.
“Gila, ya...”
Pria itu mengumpat, ke enam pria terkejut dan menatap horor ke arah Ethan.
Berlari, mereka semua berpencar kesana kemari. Jay menumbur tong sampah besar di kelas sebelah sedangkan Arsen, kakinya masuk ke dalam got satu, hingga dia tersungkur.
Ethan melipat tangannya, apalagi saat dia melihat Fey dan Alex menumbur gerombolan siswi cewek. Mereka semua bersorak sambil memukuli mereka berdua. Pada zaman ini, para siswi memang suka bergerombol membentuk sekutu.
Bersih, mereka semua sudah lari entah kemana. Ethan pun menarik tangan Mauren dan menggosok bawang putih pada bekas-bekas yang dia timbulkan.
“Kamu yakin ini enggak pa-pa... aku takut ketahuan guru...”
“Besok kita enggak usah sekolah, lagi pula belum belajar full, di rumah aku sedang tidak ada orang. Mama dan papa masih di London...”
Mauren tersenyum, dia senang dengan Ethan yang hanya memandang ke arahnya. Pria bertubuh tinggi dan berkulit putih itu, tidak pernah tersenyum pada wanita lain. Hanya Mauren, gadis itu yang berhasil mencuri senyum Ethan.
Ethan menatap mata Mauren, bibir tipis pria itu ingin menempel lagi pada bibir pacarnya.
“Eth, nanti saja... jangan di sini lagi, aku malu...”
Pria itu tersenyum, dia berharap Mauren tidak akan menolaknya. Pria itu suka wangi tubuh Mauren, setiap sentuhan yang wanita itu berikan padanya sangat lembut. Ethan sangat suka itu, dia suka kelembutan yang hadir di setiap bibir Mauren bicara.
Mereka berdua akhirnya pergi dari tempat itu, Ethan mengantar Mauren pulang, hari ini, dia tidak ingin bertemu dengan teman-teman gilanya. Dia tidak ingin berakhir dengan jepitan kulit jengkol.
Sepanjang perjalan, Mauren tersenyum, tangannya terus menggenggam tangan Ethan. Dia tidak ingin menghindar dari sang kekasih yang haus kasih sayang.
Sebagai anak pertama dengan seorang adik perempuan, Ethan pasti kesepian karena orangtuanya jarang di rumah.
“Kamu mau mampi...? Mama dan papa pasti sudah di rumah, ada mobil mereka di sana.” Mauren menunjuk garasi rumahnya.
“Tidak, aku harus pulang. Adikku, Senja. Dia pasti sudah menunggu. Walau aku kesal, sebenarnya aku sangat sayang dia...”
Mauren merapikan rambut Ethan yang turun ke bawah menyerupai poni.
“Kamu kakak yang baik, aku percaya kamu bisa jaga Senja...”
‘Cup’
Lagi, pria itu mengecup bibir Mauren.
“Aku tidak takut, mungkin aku sudah gila... ini pertama kalinya aku pacaran.”
“Kamu, bisa di kesot sama papa, kalau berani begini di depan dia. Enak kalau kita di nikahkan... kalau yang lain, bagaimana...”
Ethan menarik hidung Mauren, “pintar otaknya ya...”
“Aku memang pintar, baik hati, enggak sombong lagi...”
“Aku pulang...”
Ethan mengacak rambut Mauren.
Dengan mobil Taft 4x4, Dia pun pergi dari hadapan Mauren, gadis itu tidak bisa menahan senyumnya, bahagia sekali dirinya bisa bersama Ethan. Jika pria itu selalu terang-terangan berkata sangat bahagia dengan hubungan ini. Tapi tidak dengan Mauren.
Bersambung... sepertinya aku akan jarang update, karena Tugas Negara sedang sibuk-sibuknya. Maaf ya, Bro! Ini bukan karena tidak niat.