Tiga.

1547 Kata
Gebi, Citra, dan Hanin berjalan menuju kantin. Ketiga gadis itu terlihat seperti ketiga sahabat yang sudah lama akrab. Memang begitu Gebi, mudah akrab dengan orang yang nyaman diajak bicara. Diperjalanan menuju kantin, seluruh pandangan siswa siswi tertuju kepada Gebi. Gebi merasa ada yang janggal, ia jadi risih jika terus-terusan begini. "Ih apaan sih, gue jadi pusat perhatian begini." gerutu Gebi sambil melirik kanan kiri. Hanin terkekeh, "Mereka penggemar lo, Geb." "Dih apaan deh, gue bukan artis kali." Gebi mendelikan bahunya geli. "Lo itu harus dibilangin berapa kali sih, kalo mulai detik ini tuh lo jadi the most wanted girl." tutur Citra sambil tersenyum simpul, "Akhirnya gue punya temen yang famous." Hanin mencubit lengan Citra, "Heh, pansos lo!" Citra terkekeh, "Becanda Hanen." "Hanin woi, Hanin!" Gebi terkekeh geli melihat ulah kedua teman barunya ini. Ketiga gadis itu mulai memasuki area kantin, mata mereka mulai mencari dimana tempat duduk yang kosong. "Duh, penuh lagi." ujar Hanin cemberut. "Apaan sih Han, mata lo rabun apa gimana deh? Itu masih ada yang kosong," Gebi menunjuk kearah tempat duduk Geng Killer. Citra memutar bola matanya jengah, "Jangan, Gebi." Hanin mengangguk. "Kalo kita disitu bisa bahaya." Gebi mengernyit heran, "Kenapa memang? Bangku kosong? Ada setannya?" Hanin menggelengkan kepalanya. "Plis deh Geb, itu tempat punyanya Geng Killer." Alis Gebi terangkat sebelah, "Geng Killer?" "Pandu tuh ketua gengnya." sahut Citra dengan wajah muaknya. "Pandu?" "Iya, yang berantem sama lo tadi dikelas. Dia itu Pandu, ketua Geng Killer. Dia dan keempat temennya itu pentolan GIS, bertindak sesuka hati mereka, selain itu juga mereka the most wanted boys nya GIS." jelas Hanin secara detail. "Apaan sih ni sekolah, mistis banget perasaan gue. Geng-gengan segala lah." Gebi memutar bola matanya jengah, "Ah bodo amat gue gak peduli, gue mau duduk disitu." Gebi berjalan dengan cepat menuju tempat duduk Geng Killer. "Eh eh, Geb!" Kedua temannya segera menyusul untuk mencegah Gebi agar tidak duduk disana. Gebi mengernyit saat membaca tulisan yang tertera dimeja kantin itu. "Apaan sih norak!" pekik Gebi. Seluruh pandangan pengunjung kantin teralih kepada Gebi yang barusan mengatakan itu. Mereka bergumam bermacam-macam karena melihat aksi bar-bar nya Gebi, baru kali ini ada yang berani mengusik tempat makan milik Geng Killer. Hanin menarik lengan Gebi. "Ah Geb udah deh, menjauh dari sini. Ayok!" "Tau nih Geb, lo first day disini jangan nyari masalah deh." ujar Citra dengan wajah masamnya. Gebi menyingkirkan tangan Hanin. "Duh Han, Cit, udah deh jangan lebay. Mereka siapa sih? Manusia kan? So..." "Bukan masalah itu Geb, tapi--" Gebi lantas duduk ditempat itu lalu tangannya ia angkat untuk memesan makanan. "Abang bakso, Gebi disini!" ujar Gebi pada pedangang Bakso. "Geb, jangan duduk!" Hanin memaksa Gebi untuk berdiri dari situ. "Geb, cari tempat lain aja." timpal Citra. "Kalian gak liat? Disini tuh penuh, tinggal sisa ini nih." Gebi menunjuk meja. "Norak," gumamnya sambil menatap tulisan dihadapannya. "Geb, ayolah kita--" "Suruh siapa lo duduk disitu?" Gebi, Hanin, serta Citra menoleh keasal suara. Bukan hanya mereka bertiga, tetapi seisi kantin pun menyaksikan bagaimana; Pandu, Habib, Gibran, Ciko, dan Jeri yang tiba-tiba datang. Gebi menaikkan satu alisnya kearah Pandu si pemilik suara tadi. "Ada apa ya?" tanyanya. Sedangkan Ciko dan Jeri membelalakan kedua matanya. "Gebi," ujarnya bersamaan. Gebi melirik kedua cowok itu dengan mengernyitkan dahi. "Calon pacar gue," gumam Ciko. "Gue!" sahut Jeri. Pandu melirik kedua temannya geram. Namun tatapan tajamnya beralih lagi kepada Gebi si cewek tengil yang berani-benarinya mengambil alih tempat makan Geng Killer. "Suruh siapa lo duduk situ?" "Eh nggak apa, Gebi. Disitu aja gak masalah." Ciko beranjak duduk disamping Gebi namun baju seragamnya ditarik lebih dulu oleh Pandu. "Gak usah ganjen." ujar Pandu. Hanin dan Citra hanya diam seperti ayam sayur, jika Pandu sudah sangar begini mereka mana berani bertindak. Gebi berdiri sambil menggebrak meja, "Kalian gak usah sok spesial deh, kita disini sama-sama sekolah, sama-sama murid, dan sama-sama bayar. Jadi kita itu sederajat, gak usah lo sok tinggi." ujar Gebi ketus. Hebat. Baru kali ini ada yang berani menentang ucapan Pandu, si ketua Geng Killer yang sangat disegani seantero sekolah. Pandu melangkahkan satu kakinya, namun tangan Gibran dengan sigap menahan d**a Pandu. "Inget Pan, dia bukan lawan lo." Jemari Pandu terkepal, ia sangat geram kali ini. "Ya kalo kalian mau duduk disini ya duduk aja kali, kenapa repot sih?" Gebi kembali duduk ditempat lalu menatap kedua temannya yang kini benar-benar mirip seperti ayam sayur. "Eh Han, Cit, duduk." ujarnya. Hanin dan Citra sama-sama kicep, lalu mereka duduk dengan sungkan disisi kanan dan kiri Gebi. Gebi mengangkat tangannya lagi, "Abang bakso, baksonya tiga ya!" pekik Gebi langsung disambut anggukan si Abang bakso. Gebi mengulas senyumnya untuk kemudian melirik kelima cowok dihadapannya yang masih berdiri ditempat. "Kenapa masih disitu? Mau duduk? Atau pergi sana sekalian, gak usah kaya orang bisulan gak bisa duduk." Pandu memilih pergi dibanding ia harus melawan wanita. Keempat temannya yang sudah seperti magnet itupun langsung membuntuti Pandu. Gebi mengernyit saat Pandu melangkah pergi. "Dasar, cowok aneh." gumamnya. Pesanan datang, mereka langsung menyantap bakso itu dengan lahap. "Eh Geb, lo itu keren banget sih bisa ngelawan Pandu." ujar Citra mengacungkan jempolnya. "Iya Geb, baru ini nih ucapan Pandu bisa ditentang." timpal Hanin. Gebi hanya terkekeh sebagai responnya. Saat mereka sedang asik menyantap bakso, kehadiran gadis berambut sebahu sontak menghentikan aktivitas mereka. "Eh, Elsa?" ucap Hanin. Gadis itu tersenyum lantas mengulurkan tangannya kepada Hanin dan Citra untuk berjabat tangan. "Elsa," ucapnya. "Hanin," "Citra." Sedangkan Gebi, gadis itu memutar bola matanya malas. "Ngapain lo kesini?" tanyanya dengan ketus. Elsa tersenyum, "Nanti kamu pulang bareng aku kan?" "Gak usah, gue naik taxi aja." ujar Gebi lalu melanjutkan aktivitas makannya. Hanin dan Citra saling menatap, mereka sama-sama bingung dengan sikap Gebi terhadap Elsa. "Sama aku aja, Geb." ujar Elsa lagi. "Gue bilang enggak ya enggak, Sa." Gebi berdiri dari duduknya, ia mengeluarkan uang lima puluh ribu dari saku bajunya lalu ia taruh diatas meja. "Jangan bikin mood gue jelek deh ya." ujarnya ketus lantas pergi dari hadapan Elsa. Elsa menatap kepergian Gebi dengan wajahnya yang sedikit masam. "Eh, Gebi kenapa?" ujar Hanin. Citra mendelikan bahunya pertanda tak tahu. "Kenapa sih, Sa?" Elsa hanya tersenyum, "Gak apa-apa. Gebi emang gitu orangnya." ujarnya lembut. *** Kini Pandu dan keempat temannya telah berada dirooftop. Wajah Pandu terlihat sangat tidak berselera sekali, dan teman-temannya paham akan hal itu. "Udahlah Pan, lo jangan bete gitu sama si Gebi." ujar Ciko. "Iya Ndu, lagian lu sama cewek bening begitu kok ribut mulu sih." timpal Habib. Pandu tidak merespon. "Gebi bakalan jadi temen sekelas kita satu tahun kedepan Pan, ya lo gak usah ribut mulu lah sama dia." tutur Gibran diiringi dengan anggukan kepala Habib, Ciko, dan Jeri. "Eh lu pada beruntung banget deh sekelas sama Gebi, cuci mata dah tiap hari." sahut Jeri mengerucutkan bibirnya. "Beruntung ndas mu." gumam Pandu. "Ngomong-ngomong cewek satunya mana ya? Masuk kelas apa?" tanya Jeri. Semua mendelikan bahu, kecuali Pandu. "Anak IPA juga, tapi gak tau deh IPA berapa." ujar Habib. "Eh Pak lambe, cari tau dong." ujar Ciko terkekeh. Habib memincingkan matanya, "Kurang ajar lu pada ye." "Gue mau balik sekarang." ujar Pandu berdiri dari duduknya, "Lagian juga kan mulai besok gue udah ngejalanin masa skorsing gue." lanjutnya dengan senyum samar. Gibran menghela napasnya jengah, "Heran gue, diskors malah seneng." Pandu makin melebarkan senyumannya. "Kalo lo udah pernah diskors, masa SMA lo itu lebih ada sensasinya." Setelah mengatakan itu, Pandu berlalu. Ia meninggalkan teman-temannya yang kini mendelikan bahu mereka ngeri. Omongan Pandu penuh arti juga ternyata. *** "Eh Geb, ini kembalian lo dari Abang bakso." Citra mengeluarkan uang tiga puluh lima ribu milik Gebi. Gebi meraih uang itu dengan senyuman dibibirnya, "Makasih ya." "Lo tadi kenapa sama Elsa?" tanya Hanin yang tak bisa menahan kekepoannya yang sudah diujung tanduk. Lengkungan senyum dibibir Gebi seketika luntur saat pertanyaan itu meluncur begitu saja dari mulut Hanin. Ia tak berniat menjawab pertanyaan itu, gadis itu sangat tidak berselera. Citra menyenggol lengan Hanin sambil memelototkan kedua matanya, memberi isyarat agar tidak usah melanjutkan ajang keponya kali ini. Namun Hanin tak peduli, jika dirinya sudah sekepo ini, maka ia harus tahu kebenarannya. Pantang menyerah pokoknya. "Si Elsa itu saudara lo kan ya?" Hanin melontarkan pertanyaan yang lagi-lagi membuat Gebi tidak betah berada didekatnya. Citra mencubit pelan lengan Hanin, dan kembali memberi isyarat agar Hanin segera mengunci mulutnya untuk sementara ini. "Geb, jawab napa?" Hanin bersuara lagi seakan tak ada letihnya. Gebi mendongakkan kepalanya menatap Hanin, "Dia bukan siapa-siapa gue." jawabnya lalu kembali memandang lurus kearah depan. Pandu, Gibran, dan Habib memasuki kelas bersamaan dengan bel masuk yang berbunyi. Namun Pandu menatap sinis kearah teman sebangkunya, cowok itu menarik tas ranselnya yang ada diatas meja. Lalu beranjak melangkah pergi. "Eh Pan, mau kemana?" ujar Gibran. "Balik." jawabnya datar. "Lah lo seriusan mau balik?" Habib menyaut. Pandu hanya mengangguk lalu kini melangkah pergi. Citra dengan segera memekik keras, "Pandu!" Pandu memberhentikan langkahnya lagi, "Apa lagi?" "Lo itu gak ada puas-puasnya ya cabut mulu," Citra menggerutu sebal. "Bukan urusan lo." ujar Pandu lalu kini ia benar-benar melangkah pergi keluar kelas. "Pandu, ihhhh!" Citra melirik kepada Habib dan Gibran, "Kalian juga mau ikutan cabut? Mau bikin gue sengsara lagi?" pekiknya sambil melotot. "Kagak Cit, ah elu seudzon aja sama orang ganteng." ujar Habib menyengir. Citra melipat kedua tangannya didada sambil tersenyum simpul. "Bagus. Nanti kalo guru nanya kemana tuh temen lo, lo berdua aja yang jawab!" Gibran menaikkan satu alisnya, "Itu tugas sekertaris." ujar Gibran lalu berjalan menuju bangkunya yang kini ada dipaling belakang. Habib terkekeh, "Bener tuh!" Citra menggempalkan jemarinya geram, "Ihhh, nyebelin banget sih lo pada!" Gebi mengernyitkan dahinya. "Cit, lo kenapa sih? Ya biarin aja kali si Pandu cabut, lagian kan kalo gak ada dia dikelas gue jadi gak harus duduk sama dia. Bagus dong," ujar Gebi tersenyum lebar. "Bukan itu masalahnya, Geb." "Lah terus?" Hanin duduk disebelah Gebi berniat untuk menjelaskan semuanya, "Citra itu udah diancam Pandu untuk jangan bi--" "Woi Hanin, mulut lo cablak bener dah heran gue!" pekik Habib dari ujung sana. Hanin menutup mulutnya, lalu menoleh kearah Habib dengan menghadiahkan cowok itu cengiran ciri khasnya. "Siape yang nyuruh lu nyengir?" Habib memutar bola matanya jengah. "t*i gigi lu!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN