"Nih Mas, kembaliannya ambil aja." ucap Gebi memberikan uang lima puluh ribu kepada tukang ojek yang mengantarnya sekolah.
"Makasih Neng."
Gebi melangkah masuk kedalam sekolah barunya, seraya menyapa ramah Babeh Dirno yang sedang menyeruput kopinya. Ini adalah hari keduanya bersekolah sebagai anak baru di GIS. Gadis itu sangat berharap bahwa hari ini akan lebih baik dari hari kemarin yang sungguh menyeramkan.
Tin! Tin!
Langkah Gebi berhenti mendadak saat ia baru saja ingin menyebrang menuju koridor.
"Woi, minggir dong!" pekik cewek yang mengendarai mobil sportnya.
Gebi menoleh kearah mobil itu. "Sorry." ucapnya lalu mengangkat bahunya tak peduli kemudian melanjutkan langkahnya.
"Eh!"
Cewek itu memutar balikkan tubuh Gebi dengan mencengkram bahunya dari belakang, sontak Gebi langsung terkejut dan menatap tajam cewek itu.
"Apaan sih?" pekik Gebi, ia melirik badge name cewek dihadapannya itu; Nadine Aliya. "Nadine?" sahutnya dalam hati, sepertinya ia pernah mendengar nama itu.
"Kalo jalan tuh liat-liat dong!" pekik Nadine tak mau kalah.
Gebi menatap Nadine kembali. "Gue kan udah minta maaf, lagian lo aja yang terlalu ngebut bawa mobilnya."
Pandangan Nadine pun turun kearah badge name milik Gebi. Lalu ia bergumam, "Gebi Kintan Clarasya. Oh jadi lo Gebi?" ujar Nadine menatap sinis.
"Kenapa memang? Ada yang salah?"
"Oh ya jelas ada dong,"
Gebi memutar bola matanya malas, "Udah deh gue gak ada urusan sama lo. Bye." ujar Gebi lalu pergi meninggalkan Nadine begitu saja.
"Woi!" Nadine menjerit namun Gebi tidak menghiraukan, ia akan tetap terus berjalan menuju kelasnya.
Gebi melangkahkan kakinya masuk kedalam kelasnya, ia duduk dibangkunya lalu melepas tas ranselnya. Kelas masih kosong, hanya ada dirinya dan yang bisa ia lakukan hanyalah menunggu Citra dan Hanin datang.
"Eh yayang Gebi udang dateng nih,"
Suara itu mengalihkan pandangan Gebi. Habib dan Gibran. Gebi tersenyum lalu melirik kearah pintu lagi, ia seperti menunggu kehadiran seseorang.
Habib jadi ikut-ikutan menoleh kearah pintu, "Nyari siapa, Geb?"
Gebi menggeleng cepat. "Gak kok." ucapnya lalu tersenyum kikuk.
Habib beranjak duduk disamping Gebi lalu memandang Gebi dari dekat. "Lo itu cantik banget sih Geb." ujar Habib memuja.
Gebi hanya mengernyit. Sedangkan Habib masih asik memandangi wajah Gebi saat selanjutnya Gibran langsung menoyor kepala Habib dan menarik kerah baju balakang Habib untuk berdiri.
Gibran mendekatkan wajahnya kepada Habib, "Gak usah ganjen." ujar Gibran lalu menarik Habib kebelakang.
Gebi hanya terkekeh melihat aksi kedua orang itu. Detik berikutnya, tatapan Gebi kembali kearah pintu. "Mana sih tu orang, kok gak dateng-dateng."
Menit-menit berikutnya banyak murid IPA3 yang berlalu lalang datang, hampir seluruhnya tersenyum dan menyapa ramah kepada Gebi si anak baru.
"Morning, Gebi." Citra memekik dari ambang pintu, bersama Hanin pastinya.
Kedua gadis itu segera berlari kearah Gebi. "Geb, semoga hari kedua lo sekolah disini-" Citra menjeda ucapannya lalu menoleh sinis kearah Habib dan Gibran, "Gak digodain lagi sama kadal-kadal disini." lanjutnya penuh penekanan.
"Heh Citra!" dengan cepat Habib menceletuk, "Gak usah ngompor-ngomporin Gebi nape sih."
Gibran memutar bola matanya malas, "Bib udah lah gak usah diladenin, masih pagi." ucap Gibran.
Gebi terkekeh, "Cit udah deh ah."
Citra dan Hanin duduk dibangku depan Gebi untuk sementara mengobrol dengan Gebi. "Lo tadi dateng jam berapa?"
"Jam tujuh, kepagian sih kayanya."
"Iyalah Geb itu mah kepagian." ujar Hanin sambil bercermin dilayar ponselnya.
"Awas layar pecah." celetuk Habib lalu bersiul.
Hanin menatap tajam kearah Habib, "Sewot aja lu!" ketusnya.
Bel masuk telah berbunyi, Citra dan Hanin segera beranjak duduk dibangkunya. "Eh eh Cit,"
Citra mengurungkan niatnya saat Gebi memanggilnya, Gebi langsung berdiri dan mendekatkan wajahnya kepada Citra. "Hm, Pandu kemana ya? Kok udah jam segini belum dateng juga?" tanyanya dengan bersusah payah untuk tidak gengsi.
Citra tersenyum nakal lalu memincingkan matanya, "Hayo, udah mulai kesem-sem sama most wanted boy apa gimana nih?" ujarnya sambil mencolek lengan Gebi.
Gebi membelalakan matanya, "Apaan sih lo gue cuma nanya kali."
Citra terkekeh geli. "Pandu diskors selama tiga hari."
Sontak Gebi memekik, "Hah?!" membuat seluruh pandangan beralih kedirinya. Gebi menutup mulutnya lalu membisiki Citra, "Kenapa bisa?"
"Loh kenapa? Bukannya seharusnya lo seneng ya dia kena skors? Kan lo jadi gak duduk bareng dia, iya kan?" Citra menaikan satu alisnya dengan senyuman samar.
Gebi langsung mengalihkan pandangannya, "Oh- iya, iya dong seneng banget gue. Kenapa gak sekalian- hm, anu tuh seminggu kek skorsnya, atau sebulan kek, kalo perlu setahun kek. Ya kan?"
***
killer katanya
Pandu Longsadapit:
gue suntuk dirmh
Jeriko Denandra:
sini skul
Ciko Aji Prasetya:
gue dirooftop nunggu jeri boker, habib sm gibran mah payah
Jeriko Denandra:
si beler buka kartu aja, w pap jg nih
Ciko Aji Prasetya:
njs ?
Habib Alfathur:
gibran gk mau cabut
sial
Pandu Longsadapit:
payah
Habib Alfathur:
cemen memang
Jeriko Denandra:
lg apa emg anak itu
Habib Alfathur:
sedang fokus menulis, teman-teman:)
Ciko Aji Prasetya:
hu gk jaman bgt
sini aja ngudut geng
sini pan pain drmh aj, nelor ntr lu
(read 3)
Ciko Aji Prasetya:
ajg
(read 3)
Ciko Aji Prasetya:
bgst gue sumpahin jempol lo pada keram
(read 3)
Pandu mematikan layar ponselnya, lalu ia beranjak mengganti pakaiannya dengan seragam sekolahnya, ia akan kesekolah dan mana mungkin jika ia berpakaian bebas. Setelah salin, cowok itu mengambil kunci motornya yang ada dilaci nakas, ia segera melangkah keluar kamarnya. Saat ia melintasi ruang tengah, langkahnya terhenti saat suara seorang wanita memanggilnya.
Wanita paruh baya itu menghampiri Pandu lalu menyentuh pundak Pandu. "Kamu mau kemana?" ujarnya lembut.
"Sekolah." jawab Pandu tanpa melihat kearah lawan bicaranya.
"Kok siang sekali berangkat sekolahnya?"
Pandu menyingkirkan tangan itu dari pundaknya. "Pandu buru-buru." ucapnya lalu meneruskan langkahnya.
"Pandu," wanita itu memekik keras, namun Pandu tetap tidak menggubrisnya.
Wanita itu hanya menghela napas berat saat lagi-lagi ia mendapatkan perlakuan tak wajar dari anak kandungnya sendiri. Wanita itu adalah Dinda-Ibu kandung Pandu.
***
"Gue pikir lo gak bisa masuk Ndu,"
"Santai, masuk doang mah gampang." ujar Pandu sambil tersenyum miring.
"Tapi kalo ketahuan Bu Sukma bisa abis lu Pan." ujar Jeri.
"Selama gak ada cepu, gue aman disini." ujar Pandu memainkan alisnya.
"Oh Habib biasanya." celetuk Ciko sambil bersiul.
"Dih kok gue?"
"Elu kan Pak lambe, Bib, masa lupa sih." kata Ciko mengundang tawa Jeri dan Pandu.
"Dih apaan sih sekate-kate banget lo Cik, gak segitunya juga kali gue cepuin temen sendiri." Habib menggerutu kesal.
"Oh, kita temen?" Pandu menyahut membuat ledakan tawa kini terdengar lagi.
"Parah lu pada ye sama gue," Habib membuang wajahnya berlagak ngambek.
"Gak usah drama, Markonah!"
Kehadiran Gibran yang tiba-tiba langsung dihadiahi oleh sorakan hangat dari teman-temannya.
"Udah ngerjain tugasnya?" celetuk Ciko menahan kekehannya.
"Gimana anak rajin, absen bagus?" ujar Jeri dengan cengiran andalannya.
"Gue jangan lupa nyontek ya?" ucap Habib langsung disambut dengan toyoran Gibran.
"Parah lu Bib ninggalin gue," gerutu Gibran.
"Yeh, salah elu sendiri kagak mau ikut gue cabut." ujar Habib mengangkat bahunya.
"Gibran kan murid ter-taat." ucap Ciko lalu bersiul.
Gibran melirik sinis kearah Ciko, "Bangsat."
"Oh iya woi, pada mau tau gak?" tutur Habib membuat perhatian tertuju kearahnya.
"Apaan?"
"Si Elsa itu masuk kelas IPA1, top markotop otak tuh anak." ujar Habib mengacungkan jempolnya.
"Seriusan? Gue belum pernah ketemu deh." ujar Jeri.
"Jangankan elu yang kelasnya jauhan, gue yang kelasnya hampir sampingan aja gak pernah ketemu. Katanya sih jarang keluar."
"Dia saudaranya si Gebi atau gimana sih?" tanya Jeri dengan jiwa kekepoannya.
"Gak tau dah gue."
"Ah gimana sih lu Bib nyari info setengah-ssetengah." Jeri memukul lengan Habib dengan cukup keras.
"Ya gue bukan emak dia tau semua tentangnya." ujar Habib.
"Pan, lu diem aja. Jangan-jangan lu udah ngegebet tuh cewek ya?" Ciko memincingkan matanya.
Pandu melirik Ciko, "Apaan? Gue aja gak tau yang mana orangnya."
"Lagian tuh hobi lu pada itu ya ngerumpi mulu kaya emak-emak, panas kuping gue dengernya." Gibran kini angkat suara.
"Yeh, iye sih paham yang hobinya belajar mah." Habib bersiul.
"Reseh lu ya, Bib."
"Oh iya, malem ini Killer kumpul di bash camp." ujar Pandu lalu dengan cepat diangguki oleh keempat temannya.
"Eh Pan ngomong-ngomong, lo gak pake jaket?" tanya Jeri.
Sontak Pandu langsung melirik kearah lain, "Lupa make gue."
"Oh tumben, gak biasanya."
"Nanti sebelum kumpul gue balik dulu kok, ambil jaket." ujar Pandu meyakinkan teman-temannya bahwa dia memang benar-benar lupa memakai jaket kebangsaannya.
***
Saat sudah waktunya pulang, Gebi dan Hanin berjalan menuju koridor, sedangkan Citra yang notabenenya adalah bagian dari perangkat kelas sedang ada panggilan menghadap wali kelas.
"Geb, gue balik duluan ya soalnya Abang gue mau pake mobil." ujar Hanin yang sudah memegang kunci mobilnya.
"Oke Han, hati-hati."
Gebi menatap Hanin yang memasuki mobilnya, lalu ia tersenyum samar. "Kapan gue bisa--"
"Geb,"
Gebi menoleh keasal suara, lalu membuang wajahnya lagi saat ia tahu yang disampingnya kini adalah Elsa.
"Ayo pulang." ujar Elsa menarik tangan Gebi.
Gebi membelalakan matanya lalu dengan segera menarik tangannya dari genggaman Elsa. "Apaan sih Sa,"
"Pulang sama aku, Geb. Ayo-"
"Gue gak mau." ketus Gebi.
"Terus kamu mau naik apa?" tanya Elsa menatap fokus kearah Gebi.
Seketika Gebi mengingat kejadian kemarin, ia langsung mendelik ngeri. Namun ia tetap bersikekeuh tidak mau pulang bersama Elsa.
"Gue bisa baik ojek online." ujar Gebi, "Udah sana lo balik, gue gak butuh."
Elsa menunduk, "Geb mau sampe kapan sih kamu kaya gini sama aku?" tanya Elsa sambil meraih tangan Gebi.
Dengan secepat kilat Gebi menepisnya. "Gue gak butuh drama lo, Elsa."
"Geb, aku--"
"Stop ya Sa, mending lo pulang." ujar Gebi memutar bola matanya malas.
"Tapi kamu?"
"Gue bisa pulang sendiri, tanpa lo." ujar Gebi penuh penekanan.
Elsa menghela napasnya pelan lalu tangannya beranjak mengelus pundak Gebi. "Yaudah kamu hati-hati ya."
Gebi menyingkirkan tangan Elsa, "Iya, udah sana."
Dengan berat hati akhirnya Elsa meninggalkan Gebi.
"Apaan sih, drama queen parah." gerutu Gebi lalu ia berbalik badan dengan cepat sampai-sampai kakinya beradu lalu kehilangan keseimbangan, "Eh eh, aduh-" Gebi hampir saja terjungkal jika tidak segera ditahan oleh seseorang yang dengan sigap menahan tubuhnya.
"Pandu,"
Pandu melepaskan lingkaran tangannya, Gebi pun menjauh menciptakan jarak diantara keduanya. "Makasih, Pan." ujar Gebi kikuk.
Pandu hanya tersenyum simpul lalu berniat melanjutkan langkahnya.
"Eh eh Pan,"
"Kenapa?" alis Pandu terangkat sebelah.
"Kok lo sekolah? Bukannya lo--"
"Gue suntuk dirumah." ujar Pandu.
Gebi mengangguk paham, lalu ia seakan ingat sesuatu. Ia mengambil sesuatu dari dalam tas ranselnya, "Nih jaket lo." Gebi memberi jaket itu kepada Pandu.
Pandu mengambil jaket itu lalu mengangguk, "Iya."
Gebi menatap heran kearah Pandu. "Nih cowok irit ngomong banget sih," gumamnya.
Pandu melangkahkan kakinya pergi tanpa sepatah katapun.
Gebi memekik lagi, "Pandu!"
Pandu memberhentikan langkahnya, lalu dengan segera Gebi menghampirinya.
Alis Pandu terangkat sebelah seolah mengisyaratkan 'ada apa?'
"Hmm, gue cuma mau bilang makasih aja sama lo karena lo udah nolongin gue kemarin. Gue gak tau lagi gimana nasib gue kalo gak ada lo."
"Iya, sama-sama. Kemarin tuh cuma kebetulan, lo kena apes dan kebetulan ada gue." ujar Pandu.
Gebi terkekeh sedikit, "Iya deh." ujarnya.
"Dan jangan pernah berpikir kalo gak ada gue nasib lo bakalan gimana, tapi makasih aja sama Tuhan karena itu artinya Tuhan masih sayang sama lo." ujar Pandu dengan wajah datarnya lalu kembali meneruskan langkahnya.
Gebi menggelengkan kepalanya heran, "Flat banget sih tuh orang." gerutunya sebal.