Lima Belas.

1684 Kata
Gebi berjalan menuju tendanya dengan tersenyum-senyum salah tingkah. Gadis itu membuka tendanya sambil menyapa riang teman-temannya, "Hai, guys." "Geb, lo dari mana jam segini baru balik tenda?" tanya Citra sambil memakan cemilannya. Gebi terdiam, lalu menyengir. "Nyari angin, hehehe." "Gue kira lo ilang lagi, petakilan banget sih lo." ujar Hanin. "Eh ya kali gue ilang lagi." Gebi terkekeh sambil menoyor pundak Hanin, "Gila lo!" "Elsa nyariin lo dari tadi." Citra bersuara sambil terus mengunyah cemilannya. "Malem ini kita api unggun ya?" Gebi justru mengalihkan pembicaraan. Hanin dan Citra saling menatap seolah saling bingung mengapa Gebi selalu menghindar jika ditanya tentang Elsa. Serta perilaku Gebi terhadap Elsa yang sangat jauh berbeda dengan perilaku sebaliknya. "Geb," "Ya?" "Lo anggap gue sama Citra sahabat gak sih?" tanya Hanin menatap mata Gebi dengan intens. "Ya jelas dong. Kenapa nanya gitu?" Gebi mulai kikuk rupanya. "Lo gak mau cerita?" "Ce- cerita apa?" "Elsa." "Kenapa?" Gebi masih berusaha seperti tidak terjadi apa-apa. "Geb, kita tau ada yang lo sembunyiin tentang Elsa. Gue sama Hanin kan sahabat lo, mulai sekarang lo harus terbuka sama kita, begitupun sebaliknya." Citra merangkul pundak Gebi dengan begitu friendly. Gebi menatap kedua sahabatnya kemudian kepalanya tertunduk. "Elsa saudara tiri gue." Hanin dan Citra merubah posisinya menjadi menghadap Gebi. "Saudara tiri?" "Bokap gue sayang banget sama Elsa, sedangkan gue- gue udah gak ada artinya dirumah. Gue tuh cuma kaya pajangan jadul yang udah gak dipeduliin sama pemiliknya." Gebi tersenyum pahit, "Sakit." tuturnya begitu lirih. "Geb..." "Mama meninggal sejak gue kelas 3 SMP. Dan mulai saat itu gue merasa hidup gue hancur sehancur-hancurnya. Gue pikir Papa bakalan selalu ada buat gue tapi ternyata gue salah, Papa gak kaya apa yang ada diekspetasi gue." lanjut Gebi sambil berusaha menguatkan dirinya sendiri. "Geb, sorry..." Gebi menegakkan kepalanya kembali sambil tersenyum yang sahabatnya pun tahu bahwa itu senyuman palsu. "Nggak apa. Gue seneng ketemu orang baik kaya kalian, gue seneng bisa have fun bareng kalian, karena kalo gue dirumah- gue gak bisa sekedar senyum pun." Hanin dan Citra memeluk Gebi dengan erat. "Lo gak perlu merasa sendiri Geb, karena kita bakalan selalu ada buat lo." ujar Citra yang matanya sudah berkaca-kaca. Gebi membalas dekapan itu dengan penuh rasa bersyukur. "Makasih, gue bahagia punya kalian." ujar Gebi yang ternyata sudah meneteskan air matanya, air mata bahagia kali ini. *** "Selamat malam anak-anak, salam sejahtera untuk kita semua. Gimana hari kedua studycamp?" pekik Pak Bunar sambil memperhatikan seluruh muridnya. Beragam jawaban dari anak muridnya pun terlontarkan. Pak Bunar tersenyum, beliau ikut bahagia melihat muridnya yang terlihat sangat bahagia dimalam ini. "Malam ini adalah malam api unggun sekaligus menjadi malam penutup untuk studycamp tahun ini, karena besok pagi kita akan pulang. Untuk itu Bapak sangat berharap kita bersenang-senang dimalam ini, tidak ada pertengkaran atau peristiwa-peristiwa lainnya yang meresahkan semua yang ada disini." ujar Pak Bunar. Gebi, Hanin, dan Citra yang berada dibarisan paling depan sangat fokus mendengarkan Pak Bunar yang sedang berbicara didepannya. Sedangkan Pandu, Gibran, Habib, Jeri, dan Ciko yang mulai mengawal Elsa lagi memilih baris dibarisan kedua. "Baiklah kalau semuanya sudah mengerti, selamat bersenang-senang malam ini." ujar Pak Bunar lagi. Seluruh murid langsung bergegas membentuk lingkaran. Malam penutupan adalah acara bebas, tidak ada aturan khusus dari Pak Bunar atau siapapun. Jadi seluruhnya bebas mengekspresikan apapun dimalam penutupan ini. Geng Killer seolah menjadi sorotan diacara malam ini. "Pandu, nyanyi dong!" teriak kaum hawa yang matanya sudah berbinar-binar. "Kamu bisa nyanyi, Pan?" tanya Elsa sambil tersenyum manis. Pandu menggeleng, "Ngaco." "Bisa! Bisa banget." ujar Ciko antusias. "Apaan sih, lo aja sono." Pandu menoyor pundak Ciko. "Nyanyi dong, Pandu." Elsa menatap Pandu seolah merengek, menyuruh Pandu untuk bernyanyi ditengah lingkaran. "Gas, Ndu. Permintaan Ratu Cantik nih," ujar Habib sambil memainkan kedua alisnya. Pandu beranjak dari duduknya kemudian berjalan kearah Rafael diujung sana yang sedang memegang gitar. Seluruh perhatian tertuju pada Pandu yang kini mulai memposisikan dirinya ditengah-tengah lingkarang. Duduk diatas kursi yang sudah disediakan, kemudian ia memetikkan sejenak jarinya disenar gitar itu. Pandu menarik napasnya, "Lagi ini gue persembahin untuk seseorang yang gak perlu gue sebutin namanya. Gue cuma mau bilang, semangat terus jalanin hidup diseribu masalah yang lo punya. Be yourself." ujarnya membuat seluruh yang ada disana mulai melemparkan pertanyaan satu sama lain. Sedangkan Gebi, gadis kecil yang duduk diantara Hanin dan Citra itu terdiam membisu sambil merasakan jantungnya yang kini berdegup sangat kencang. Gadis itu menatap Pandu yang detik itu juga mata Pandu tertuju padanya. Bagus sekali, ia sangat mati kutu. Apa benar lagu yang akan Pandu bawakan adalah persembahan dari cowok nyebelin itu untuknya? Untuk dirinya? Setelah matanya bertemu pandang dengan Gebi untuk beberapa detik, Pandu segera mengatur kunci gitarnya untuk kemudian jarinya mulai memainkan gitar itu dengan bunyi yang sangat indah. Serat-serat harapan Masih terjalin Suaramu terdengar Masihlah nyaring dan bergema Diruang-ruang hatimu Tenangkan hati Semua ini bukan salahmu Jangan berhenti Yang kau takutkan takkan terjadi Yang dicari, hilang Yang dikejar, lari Yang ditunggu Yang diharap Biarkanlah semesta bekerja Untukmu... Lagu Rehat dari Kunto Aji yang dibawakan oleh Pandu itu sangat berhasil membuat seluruh yang ada disana terasa menjadi tenang dan damai, terutama Gebi yang kini sedang memeluk dirinya sendiri, sambil matanya terpejam akibat terlalu menikmati lagu yang dinyanyikan oleh Pandu yang ia sangat yakin bahwa itu untuk dirinya. Sedangkan keempat teman Pandu sangat terheran-heran karena tak biasanya Pandu sehangat ini, bahkan nyaris tidak pernah. Aneh sekali malam ini. Dan Elsa, rupanya selain menikmati lagu yang dibawakan oleh Pandu, isi kepalanya ikutan bertanya untuk siapa Pandu mempersembahkan lagu itu? Manis sekali pikirnya. Tenangkan hati Semua ini bukan salahmu Terus berlari Yang kau takutkan takkan terjadi... Tepuk tangan serta riuh suara kaum hawa pun mulai terdengar saat Pandu selesai menyanyikan lagu itu. Pandu beranjak dari duduknya, kemudian mengembalikan gitar kepada Rafael. Lalu ia berjalan kembali ketempat semula ia duduk bersama teman-temannya, sambil matanya tertuju pada Gebi, senyuman tipis tercetak dibibir yang jarang tersenyum itu. Gebi membalas senyuman tipis itu dengan sedikit pipinya yang memerah. "s****n, bisa-bisanya gue salting." gumam Gebi. Hanin dan Citra menatap Gebi dengan intens. "Jangan bilang..." Citra berujar dengan penuh penekanan. "Apaan sih," "Lagu itu buat lo?!" pekik Citra dihadiahi bekapan dari Gebi. Hampir seluruh pandangan tertuju pada ketiga gadis itu. "Cit, apaan sih! Malu tau!" ujar Gebi sambil masih terus membekap mulut Citra. Hanin menutup wajahnya dengan syal yang melingkar dilehernya. "Malu-maluin anjir." "Cit, ah! Suara lo gede banget tau gak?!" Gebi melepaskan bekapannya sambil mengomel, ia memelototkan Citra dengan geram. Citra menyengir. "Reflek, sorry." "Gak lucu tau, malu!" "Emang beneran lagu tadi buat lo?" Citra berbicara dengan sangat kecil. "Gue gak tau." ujar Gebi. "Kenapa sih nggak mau jujur?!" suara Citra memekik lagi, membuat seluruh pandangan kembali tertuju kepadanya dan kedua temannya yang ikut-ikutan dicap sebagai si cerewet. "Citra, tolonglah!" Gebi memelototkan matanya lagi. "Han, temen lo dong!" ujar Gebi kepada Hanin yang masih menutup wajahnya dengan syal. "Kasih tau!" ujar Citra yang rupanya masih bersikekeuh. "Nanti gue ceritain, sekarang lo diem!" ujar Gebi membisiki Citra. Citra tersenyum sambil mengacungkan jempolnya. "Bukannya dari tadi." ujarnya dengan wajah tanpa dosa. Gebi memutar bola matanya malas. "Edan nih punya kawan." *** Malam itu berlalu dengan cukup seru dan heboh serta menghibur. Selain Pandu yang bernyanyi, ada juga yang mempersembahkan lagu untuk sang kekasih, bahkan sampai ada yang stand up comedy. Pagi ini seluruh yang ada disana mulai bergegas membereskan barang-barang serta tenda masing-masing. Setelah bus datang, semuanya segera naik dengan berebut agar dapat tempat duduk yang sesuai ekspetasi mereka. Ternyata Geng Killer bersama Elsa masih belum terpisah oleh Gebi, Hanin, dan Citra. Mereka berada dibus 2, namun kali ini Gebi duduk bersama Elsa karena Elsa yang menolak halus ajakan duduk bersama yang ditawarkan oleh Habib (lagi). "Gakpapa kan kamu duduk sama aku?" tanya Elsa pada Gebi. Gebi menoleh sebentar kemudian menganggukkan kepalanya. "Maafin aku ya soal kemarin, aku udah bikin kamu ngiget luka lama kamu." ujar Elsa lagi. "Gak usah dibahas." ketus Gebi. Elsa menghela napasnya berat. Sampai kapan hubungannya dengan Gebi selalu seperti ini? Gebi yang sudah muak mendengar omongan Elsa pun segera memasang airpodsnya untuk kemudian is memutar lagu-lagu yang ada di playlist ponselnya. Elsa semakin putus asa. Kini, masih adakah kesempatan untuknya agar bisa kembali berdamai dengan Gebi? Kemungkinan itu sangat kecil bahkan nyaris tidak akan mungkin. *** Setelah memakan waktu hampir 3 jam, akhirnya mereka sampai di GIS. Seluruhnya turun dari bus untuk kemudian pulang kerumah masing-masing. Adanya mengambil kendaraan mereka yang mereka titipkan disekolah, ada juga yang meminta jemput, ada juga yang langsung memesan kendaraan online untuk mengantar mereka pulang. "Kalian dijemput?" tanya Gebi kepada Hanin dan Citra yang sudah terlihat lesu. "Iya Geb. Lo gimana?" "Gue naik ojek online aja deh, tunggu kalian dijemput." ujar Gebi dengan perasaan yang sebenarnya iri melihat temannya dijemput oleh orangtua mereka. "Bareng gue aja, Geb." ujar Citra. "Atau gue," sahut Hanin. Gebi tersenyum palsu, "Nggak usah, arah rumah kita kan beda." jawabnya. "Nggak apa-apa kok, Geb." Gebi menggeleng lagi sambil tersenyum, "Gakpapa kok gue naik-" ucapannya terputus saat matanya menangkap seseorang yang sangat ia kenali. Itu Firman, Ayahnya. Ia datang untuk menjemput Elsa yang sudah dikawal oleh Geng Killer didepan gerbang sana. Firman keluar dari mobil untuk membawakan barang Elsa yang semula ada ditangan Habib dan Ciko. Setelah mencium puncak kepala Elsa, Firman segera mengambil barang puteri tirinya itu untuk ia masukkan kedalam bagasi. Kemudian Firman merangkul Elsa serta pamit kepada kelima cowok yang sudah sangat baik karena selama studycamp telah menjaga Elsa. Setelah Elsa pergi bersama mobil yang dikendarai oleh Firman, Geng Killer pun segera beranjak menuju parkiran  motoru untuk mengambil motor masing-masing. Sedangkan Pandu, matanya terus mencari keberadaan gadis yang sejak tadi memenuhi isi kepalanya. Dan ditempat Gebi berdiri sekarang, disanalah ia ingin lenyap detik itu juga. Hatinya bagai dirujam beribu jarum  saat ia saksikan dengan mata kepalanya sendiri bahwa Ayahnya yang seharusnya menjemput dirinya, malah menjemput orang lain yang padahal bukan anak kandungnya. Sebulir air mata mulai terjatuh dipipi Gebi yang sumpah Gebi tak mampu menahan itu untuk tidak keluar. Ini sungguh menyakitkan, ini yang dinamakan patah hati sebenarnya. Hanin dan Citra yang ikut menyaksikan adegan tadi tentu mengerti sekali bagaimana perasaan Gebi sekarang. Mereka memeluk Gebi dengan erat, mencoba mentransfer kekuatan untuk sahabatnya yang mereka sangat paham bahwa saat itu sedang rapuh. "Gebi, kita yakin lo kuat..." Gebi melepaskan pelukan itu kemudian berlari menuju keluar gerbang. "Geb!" teriakan dari Hanin dan Citra itu mampu membuat Pandu akhirnya menemukan sesosok yang ia cari. Saat Gebi berlari melintasinya, ia segera menahan tangan Gebi. Langkah Gebi terhenti, kemudian Pandu berbicara dengan sangat tegas namun mampu membuat Gebi tenang; "Lo balik sama gue." Hanin dan Citra yang tadinya ingin mengejar Gebi, tetapi memutuskan untuk tidak jadi melakukannya saat dilihat Pandu yang mulai menarik Gebi kedalam rangkulannya untuk kemudian mereka berjalan menuju parkiran. Meski kini Hanin dan Citra bertanya-tanya, namun menurut mereka yang terbaik adalah ketenagan bagi Gebi, dan mereka sangat berharap bahwa Pandu dapat memberikan hal itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN