15. Kedai Kopi dan Dinihari

1636 Kata

Bugh! “Aduh!” keluh Suara saat kepala naasnya menabrak pintu kaca. Eh, kok pintu kaca? Suara melebarkan matanya sampai-sampai bola mata itu bisa saja meloncat dari pelupuknya kalau lem perekatnya bukan ciptaan Tuhan. Dia memperhatikan sekitar dan baru menyadari sesuatu. Aneh. Untuk memastikan apa yang baru saja dilihatnya, Suara menambah kadar kelebaran matanya dan menajamkan matanya. Dan benar saja, apa yang saat ini tertangkap di netranya benar-benar aneh. Dia ada di kedai kopi depan gang yang baru sore tadi terdapat kejadian memilukan di sana. Pinggangnya mencium ujung mesin kasir karena nenek lampir. Sial! Ia tidak bisa menerka konspirasi macam apa yang tega-teganya menelantarkannya di sini. Perasaannya, dia berjalan cukup jauh dan kakinya beberapa kali tersandung benda-benda yang b

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN