Meskipun dia tidak menyukai nyonya Wilson, tapi Tara tidak akan pernah membiarkan David meninggalkan keluarganya hanya demi dirinya.
"Tapi."
"Sudahlah, kau berhak bahagia. Wanita seperti ku tidak pantas untuk mu, dan jika kau memang merasa terganggu akan kehadiran ku! Maka aku akan menutup klinik ini."
Tara tidak ingin membuat keributan apalagi pada keluarga Wilson. Dia lebih suka mengalah dari pada dijadikan bahan hinaan.
"Tidak perlu, jangan pergi. Meskipun aku tidak bisa memiliki mu, biarkan aku tetap bisa melihat mu."
Sebenarnya, David seorang CEO di perusahaan keluarganya. Dia hanya datang ke klinik ketika senggang atau saat dirinya merindukan Tara.
"Baiklah, kalau begitu aku akan istirahat."
Lalu, tanpa mendengarkan jawaban David. Tara langsung menutup matanya, meninggalkan David yang tengah sedih karena sebentar lagi wanita itu akan menikah dan menjadi milik pria lain.
Ingin rasanya David memarahi Tuhan karena sudah membuatnya jatuh cinta pada Tara. Wanita muda yang sangat dingin ,tidak berperasaan dan acuh pada lingkungan. Tapi, David tidak bisa. Dia hanya manusia biasa. Mungkin dirinyalah yang salah karena mudah tergoda.
"Bagaimana aku bisanmerelakan mu menjadi milik pria lain? Memikirkannya saja akubsudah terluka." Hati pria mana yang tidak sakit ketika tahu wanita yang ia cintai sebentar lagi akan menjadi milik pria lain. "Setidaknya, biarkan aku tetap bisa melihat mu meskipun tidak bisa memiliki mu."
*******
"Kak, ku dengar kau akan menikah Minggu depan."
"Apa kau begitu bebas sehingga bisa bergosip dengan ku?"
Rafael Caisar Xavier, putra pertama Alexander dan Bella. Lumpuh akibat kecelakaan beberapa bulan yang lalu, namun masih bisa menjadi putra mahkota yang di takuti oleh banyak pebisnis.
"Kak, aku hanya mengkhawatirkan mu."
Andreas Jonathan Xavier, putra kedua sekaligus anak terakhir Alexander dan Bella.
Kelahirannya yang tidak terduga, sebenarnya Bella tidak sengaja melepaskan pelindung karena berpikir bahwa dia tidak akan bisa hamil setelah menggunakannya selama 5 tahun. Namun, siapa yang menduga akan ada anak kedua. Tentu saja Al marah. Dia bahkan lebih memusuhi anak kedua mereka.
Hanya saja, setelah melihat betapa cerewetnya Nathan, kebencian Al pada anak kedua karena takut kehilangan istri hilang begitu saja.
Kalau Rafael mewarisi semua sifat sang ayah. Maka Nathan mewarisi sifat Bella.
Hal tersebut membuat Al dan Rafael begitu memanjakan Nathan. Untungnya didikan sang ibu tidak membuatnya sombong atau pun suka melakukan kesalahan dengan wajah bangga.
Nathan tumbuh dengan sangat baik. Dia juga ikut campur dalam bisnis keluarga, meskipun tidak gehebat makanya dalam posisi. Tapi keberadaan Nathan sangat di hormati.
Usianya yang kini beranjak 23 tahun sedangkan Rafael memasuki usia 28 tahun. Hubungan mereka sangat harmonis, bahkan jauh dari isu perebutan kekayaan keluarga
"Aku baik-baik saja, dia wanita yang cukup baik. Setidaknya ayah dan ibu tidak akan menikahkan ku dengan wanita serakah."
Rafael sangat percaya pada Alexander dan Bella. Dia tidak masalah jika keduanya membuat pernikahan tiba-tiba tanpa meminta pendapat darinya.
"Hm, aku juga tahu itu. Dia seorang mahasiswi, sangat cantik dan sangat dingin seperti es di kutub Utara. Bahkan ratu Elsa di filim Disney kalah jika di bandingkan dengannya." Nathan memang suka melebih-lebihkan kebenaran.
"Maka kau tidak harus khawatir mulai sekarang. Kecemasan mu tidak akan terjadi."
"Tapi kita tidak tahu bagaimana hatinya, Kak. Meskipun aku tahu Kakak mungkin sulit menerimanya, tapi aku takut dia sedang merencanakan sesuatu yang buruk mengingat kondisi Kakak."
"Aku tahu apa yang kau khawatirkan, tapi percayalah pada ayah dan ibu. Mereka tidak akan memberikan wanita acak untuk ku?"
"Baiklah, berbicara dengan mu memang membutuhkan banyak kecerdasan. Kepala ku jadi panas sekarang."
Nathan menggosok kepalanya. Membuat Rafael tersenyum kecil. Adik laki-lakinya masih sangat lucu meskipun sudah berusia cukup dewasa.
"Apa kau akan melakukan pernikahan kontrak?"
"Entahlah. Aku takut ibu akan marah kalau aku melakukannya."
"Benar. Apalagi dia begitu memuja calon menantunya, aku bahkan tidak bisa tidur setiap kali dia mulai bercerita."
"Dia seperti itu karena sudah menemukan seseorang yang mampu menarik perhatiannya."
"Ya, kalau begitu. Kakak harus memberitahu ku jika wanita itu melakukan hal curang! Aku pasti akan membalasnya."
"Tentu." Rafael tidak akan melakukanya. Dia tidak suka membuat adik kecilnya dalam masalah, lagi pula dia memiliki banyak kekuatan yang akan mendengarkan perintahnya.
Detik-detik pernikahan akan di selenggarakan. Tara tiba-tiba mendapat pesan dari calon suaminya. Jika hanya ingin bertemu, mungkin Tara akan mengabaikannya. Namun sepertinya pria itu tahu karakternya sehingga langsung memberitahu apa agenda dari Pertemuan mendadak mereka.
Jadi, sekarang mereka sedang duduk berhadapan di restoran yang memiliki kamar pribadi. Tidak ada tanda-tanda gugup atau terpesona. Tara menganggap Rafael sebagai orang tidak penting.
Rafacl yang sedang duduk di kursi roda, sedikit terkesan dengan keberanian Tara. Wanita tersebut sangat jauh berbeda dari.wanita yang selama ini sering ia.temui. Kecantikannya bahkan sulit di utarakan dan di gambarkan. Membuat pria sekeras batu seperti Rafael terpesona.
Keheningan biasanya akan membuat siapapun merasa canggung atau bahkan tidak nyaman. Tapi tidak berlaku untuk Tara, dia baik-baik saja dan bahkan makan dengan lahap seperti sudah tidak makan selama satu hari penuh.
Sebenarnya, ketika Rafael mengajaknya bertemu. Tara baru saja selesai memeriksa para pasiennya, dan dia sangat lapar. Ditambah lagi, ia tengah saat ini. memikirkan penghasilannya bulan Maklum, cita-cita terbesar Tara adalah menjadi wanita kaya raya dan terbebas dari keluarga Moore. Hanya itu, tidak ada yang lain.
"Jika kau merasa kurang, kau bisa menmesannya lagi."
Rafae tidak tahu apa yang sudah terjadi pada Tara sehingga wanita itu begitu lahap saat makan.
"Tidak, terima kasih. Aku sudah merasa cukup, maaf kalau cara makan ku membuat mu terganggu."
Tidak ada tanda-tanda penyesalan di wajah .Tara saat mengatakan maaf. Membuat Rafael tersenyum kecil, wanita yang ada di hadapannya sangat unik dan dia sedikit tertarik karena sifatnya yang berbeda dari wanita kebanyakan.
"Aku baik-baik saja dengan cara makan mu. Setidaknya bukan menyerupai wanita yang suka berpura-pura."
Tara mengabaikannya, ia masih fokus pada acara makannya hingga semuanya selesai lalu sekarang tinggal Rafael yang membicarakan maksud dan tujuannya.
"Baca dan tanda tangani jika kau setuju."
Rafael menyodorkan sebuah surat perjanjian. Dengan senang hati Tara mengambilnya. Setelah selesai membaca, tanpa bertanya atau protes. Dia menandatangani surat perjanjian pernikahan mereka.
Hal tersebut membuat Rafael tercengang. Dia yakin isi suratnya akan membuat wanita manapun marah. Namun tidak untuk Tara. Wanita super abnormal baginya.
"Kau langsung menandatanganinya?"
"Apakah aku harus bertanya lebih dulu atau meminta izin pada mu?"
"Tidak, bukan seperti itu. Maksud ku, apa kau yakin tidak keberatan dengan isinya?"
Sekarang Rafael bahkan dibuat semakin tercengang. Hanya Tara, satu-satunya orang yang bisa membuatnya tidak bisa untuk tidak takjub. Pertemuan pertama yang memberikan kesan yang cukup istimewa untuk Rafael. Pria dingin yang terkenal alergi pada wanita yang berlomba-lomba mengejarnya.
"Aku sangat yakin. Lagi pula, ini sama-sama menguntungkan dari masing-masing pihak. Aku terbebas dari keluarga Moore dan tidak perlu menjadi istri penurut. Sedangkan kau mendapatkan kebebasan dan tidak perlu takut di anggap tidak kompeten sebagai seorang pria."
Kata-kata Tara cukup membuat Rafael mengingat kondisinya. Dia lumnpuh, dan banyak mata yang memandang remeh padanya. Bahkan jika ada wanita yang bersedia menikahinya mungkin mereka mengincar harta keluarga Xavier bukan berniat menjaganya.
"Kau benar-benar wanita abnormal."
"Aku hanya berpikir realistis. Dan ku harap kau juga mengingat isi perjanjian, tidak diperbolehkan menyentuh pihak B tanpa izin dan dilarang membawa wanita lain ketika masih berstatus suami-istri
"Baik. Kita akan tinggal di mansion milik ku! Kau bisa
melakukan apa saja asal tidak melanggar kontrak yang ada."
"Aku akan melakukannya." pertemuan pertama mereka berakhir dengan sangat cepat. Bahkan Rafael masih belum percaya kalau menghadapi Tara tidak serumit yang ia pikirkan.