bab 1.1

700 Kata
Langit sudah menunjukkan sisi gelapnya. Kedudukan mentari tergantikan sudah oleh bintang dan rembulan. "Enggghhh ..." suara erangan terdengar begitu nyaringnya. Adelia mulai mengerjap-ngerjapkan matanya. Seketika ia tersadar, ia menolehkan wajahnya ke samping, menatap jam digital yang terpajang cantik di nakas kayunya. "Sudah pukul enam lebih ternyata," gumamnya ketika melihat waktu yang sudah menunjukkan pukul 18.23, Adelia segera bangkit dari tidurnya, dan berjalan menuju kamar mandi. Adelia mengambil selembar handuk yang tergantung di lemarinya, lalu membawa handuk itu ke dalam kamar mandi. Sekitar 25 menit berselang, Adelia keluar dari kamar mandi. Rambutnya terlihat basah, tubuhnya hanya dibalut selembar handuk saja. Adelia mengambil gaunnya dan memakai gaun itu. Penampilan Adelia terlihat sederhana tapi tidak menghilangkan kesan kecantikannya. Setelah selesai, Adelia berjalan menuju meja riasnya. Adelia mengambil hair dryer-nya. Adelia mulai mengeringkan rambutnya. Tak kurang dari lima belas menit, Adelia sudah selesai dengan rambutnya. Sekarang, ia tengah memolesi wajahnya dengan bedak. "Huh..." Adelia menghela napasnya, rasa gugup sedikit menghantuinya. "Apa hal ini benar-benar udah terjadi padaku? Apa benar aku tengah mengandung anak Pak Billy? Kenapa semua ini begitu rumit?" benak Adelia masih bertanya-tanya, ia begitu bingung dengan keadaannya sekarang. "Bagaimana aku bisa hamil anaknya, kalau kami tidak pernah berhubungan badan? Apa hal yang sebenarnya udah terjadi?" gumamnya lagi. Sungguh, ini diluar dugaannya. Adelia khawatir, ia panik, namun ia tidak bisa menunjukkan rasa paniknya. Bukannya tidak bisa, tapi tidak boleh. Jika ia terlihat panik, pasti gelagatnya bisa dibaca oleh sang ibu. Tok tok tok. Suara ketukan pintu kamarnya, membuat Adelia segera menyelesaikan aktivitasnya itu. "Sayang, Billy dan orang tuanya udah datang, cepet keluar Sayang," ucap sang ibu dari balik pintu kamarnya. "Iya Ma, aku udah selesai," jawab Adelia yang langsung berdiri dan berjalan menuju pintu. Adelia membuka pintunya dan melihat sang ibu tengah tersenyum, Adelia membalas senyuman ibunya. "Ayo!" **** Billy dan kedua orang tuanya tengah berbincang dengan Ayah Adelia, William Subroto. Kebetulan yang sangat mencengangkan, adalah ayah Adelia dan ayah Billy ternyata sudah berteman lama. Dan itu membuat suasana tidak terlalu kaku. "Wah, ternyata kita memang ditakdirkan menjadi besan, Will," ucap ayah Billy, Tristan Wijaya. "Ini terasa semakin mudah bukan?" sahut ibu Billy, Ruth Rihana. "Aku sama sekali tidak menyangka jika hal ini akan terjadi." William terkekeh pelan, membuat area sekitar matanya menampakkan kerutan tipis. Billy hanya diam menyimak, ia hanya mendengarkan celotehan-celotehan dari manusia-manusia paruh baya itu. Sesekali ia tersenyum tipis jika ada kalimat yang menyangkut dirinya. "Aku tidak menyangka kalau putramu akan setampan ini. Oh ya, kalau tidak salah jarak umur putramu dengan putriku itu, sekitar delapan tahun, bukan?" tanya ayah Adelia, pada orang tua Billy. "Delapan tahun tujuh bulan tepatnya," ucap ayah Billy dengan kekehannya. "Ingatanmu masih sangat bagus, persis seperti dulu," balas ayah Adelia. "Tentu saja." Ruth hanya terkekeh mendengar ucapan suaminya yang terdengar sombong itu, sedangkan Billy hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Berbeda lagi dengan ayah Adelia yang sudah tertawa terbahak. "Pa, kalo ketawa jangan gitu, nggak malu diliatin calon besan." tiba-tiba ibu Adelia --Andini Reihana-- menyahut, William menghentikan tawanya, dan menatap Andini yang tengah menggandeng Adelia. "Kalian sudah datang, sayang? Ya sudah, kalian duduklah," ucap William yang tengah menyunggingkan senyum menawannya. Andini tersenyum dan mengambil duduk di samping suaminya, sedangkan Adelia duduk di samping Billy. "Baiklah, lebih baik kita memulai acara ini." Tristan --ayah Billy-- memulai pembicaraan serius itu. "Sehubungan kedatangan kami bertiga di sini, saya sebagai ayah dari Billy Almando Wijaya, ingin menyampaikan keinginan anak saya, Billy. Untuk mempersunting putri dari bapak William Subroto. Bagaimana keputusan Anda, bapak Subroto?" tanya Tristan dengan gaya bicaranya yang serius. Bagi seorang William Subroto, yang tidak bisa bersikap serius itu, malah terkekeh mendengar ucapan serius dari teman lamanya. "Keputusan ada di tangan putri saya, Adelia bagaimana keputusanmu, sayang?" tanya William yang akhirnya bisa berbicara serius. Adelia yang sedari tadi menunduk, kini mendongakkan kepalanya. Adelia menatap setiap orang yang ada di sana, mulai dari Tristan, Ruth, Andini, William, dan Billy. Billy menyunggingkan senyum tipisnya, ketika manik matanya bertemu dengan manik mata Adelia, Adelia hanya membalas dengan senyum canggungnya. "Saya setuju," jawab Adelia akhirnya, semua orang tersenyum senang. Bahkan reaksi paling mengejutkan datang dari William dan Tristan yang langsung berpelukan, tanpa medulikan pandangan risih dari istri mereka masing-masing. Billy dan Adelia, kompak tersenyum tipis menanggapi pemandangan itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN