Aroma cendana yang menguar dari tubuh Lu Mochuan terhirup ke dalam hidung hingga mulutku. Aku menjadi semakin gugup hingga kubenamkan wajahku di lengannya. Aku menjelajahi keindahan tubuh pria ini dan juga otot-ototnya yang maskulin. “Rupanya rubah kecil ini mulai menampakkan ekornya. Kamu begitu menginginkannya, tapi kenapa kamu masih saja berkata tidak mau?” tanya Lu Mochuan sambil menyindirku. Lu Mochuan langsung mengerahkan segenap kekuatannya. Sesaat setelahnya, udara dingin terasa menyapu dahiku. “Uh …” Aku secara refleks menggigit bahu Lu Mochuan dan kedua tanganku kulingkarkan di lehernya. Tidak bisa! Aku tidak tahan lagi. Tolong aku … Kemarilah dan bebaskan aku. Gejolak hasrat di tubuhku tidak berhenti meraung-raung, membuatku semakin tidak sabar dan buru-buru mendekat ke ara

