Jari-jari Lu Mochuan bergerak seperti sedang memainkan piano lalu dia mengayunkan tangannya pelan-pelan sambil meningkatkan kekuatan untuk kembali menggerayangiku. Rasa kebas sekaligus nikmat segera menjalar ke sekujur tubuhku. Tindakan Lu Mochuan saat ini membuat aku jadi hilang akal dan hampir gila. Aku semakin kesulitan bernapas, dan tanpa sadar aku mendesah. Seakan telah lupa siapa diriku dan apa posisiku di sini, naluriku mengatakan agar aku menerima semua perlakuan Lu Mochuan dengan senang hati. Lelaku ini bisa bersikap ganas dan lembut padaku di saat yang bersamaan. Rasanya seolah dia sedang melemparkanku jauh ke awan, namun dengan lembut menangkapku setelahnya. Beberapa menit kemudian, sepertinya aku mulai sedikit sadar bahwa aku telah melakukan sesuatu yang tidak benar. Saat itu

