Yi Cheng menatapku dengan serius. Yi Cheng yang usianya masih di awal dua puluhan tahun itu punya pesona yang unik dan maskulin. Ekspresi wajahnya yang tegas membuatku mengerti bahwa dia tidak main-main. Semua yang dia katakan itu tulus dari lubuk hatinya. “Yi Cheng, ada beberapa hal yang sulit dijelaskan. Aku tak tahu bagaimana menggambarkannya. Yang pasti, aku wanita yang sangat kotor dan menjijikkan,” kataku lagi sambil menangis tersedu-sedu. Yi Cheng meletakkan tisu di atas tanganku dengan lembut. “Kakak, Kakak bukan wanita kotor. Yang kotor adalah orang yang menyakitimu. Kakak akan selalu menjadi seorang dewi yang bersinar terang di mataku,” sahut Yi Cheng dengan mata yang berbinar-binar seperti kerlipan bintang. Dan juga seperti sinar matahari yang indah.

