Jari-jari Lu Mochuan meluncur di sepanjang kakiku yang ramping. Melalui stoking, aku bisa merasakan rasa hangat yang samar-samar, menyebar ke pahaku dan akhirnya berhenti di sana. Tubuhku semakin gemetar. Sekujur tubuhku seperti tersengat listrik. Namun, aku tak bisa menghilangkan rasa sakit dari lututku, maupun rangsangan yang kurasakan dari jari-jari hangat Lu Mochuan yang bermain di titik-titik sensitif tubuhku. Pipinya sudah begitu dekat dengan wajahku. Gelombang panas yang menampar wajahku membuatku ingin secepatnya meninggalkan tempat ini. Seringai senyuman muncul di wajah Lu Mochuan. Jari telunjuknya meluncur di pipiku dan berhenti di bibirku. Dia menatap gunung kembarku yang putih dengan mata serakah. “Putih sekali!” Sebelum aku sempat menjawab, dia menindih tub

