TA - 27

2219 Kata
Bertemakan kaca besar yang membingkai hampir memenuhi ruangan, pemandangan kota yang indah dengan selimut awan tipis sebagai pemanis menambah kesan baik dari jendela lantai lima puluh sebuah gedung swasta pencakar langit. Fagan menopang dagu, bersandar tanpa ekspresi berarti yang menampilkan potret kota di sore hari sebelum senja. Semburat indah muncul dari ufuk barat. Jalan raya tidak terlalu padat dan merayap seperti pagi hari yang sibuk. Ada waktu di mana mereka bisa bernapas. Sebuah ketukan mampir. Seharusnya Fagan tahu siapa tamu yang sedang dia tunggu. Tapi kesabaran seakan tiada guna saat ia duduk menyendiri dengan segelas minuman dingin menemani selepas rapat panjang yang melelahkan. "Tidak perlu, aku bisa mengatasinya sendiri. Terima kasih." "Kau bisa tinggalkan kami sendiri, Alin." "Tentu, aku pergi." Akhirnya mereka berdua diberi privasi yang cukup setelah pintu tertutup. "Mengesankan." Vania bersuara setelah suasana senyap, ada di dalam ruangan besar bersama pria yang sempat menghabiskan malam dengan label buruk dan banyak uang. Ya ampun, dia mau bersembunyi apa bila mengingatnya. Ruang pribadi Fagan tampak seperti kamar hotel kelas suite termewah yang memanjakan mata. Kantor yang ada di bisnisnya tidak seluas ini. Tetapi cukup menampung beberapa buku dan menyembunyikan rahasia Sarah dari dunia luar. Ruang pribadi pria itupun besar. Vania bukan pertama kali menginjakkan kaki ke tempat serupa. Dia pernah masuk untuk mengantar makan siang dan mendapat pandangan mencela dari pegawai di sana. "Selamat datang." Sungguh, sapaan yang membosankan. Vania memasang raut masam yang lekat. Mengamati interior di dalam kantor dengan tarikan napas gusar. "Ini sangat mengagumkan. Biaya pembangunan yang tidak sedikit, benar?" "Yang ini khusus desain tersendiri. Aku harus menyesuaikan tempatku secara pribadi karena di sini aku selalu menghabiskan banyak waktu." Fagan berkata santai. Fagan dan kesempurnaan tanpa cela. Ketika alisnya yang rapi terangkat naik, Vania mencoba mengumpulkan keberanian dari dalam dirinya sendiri. Peluang untuk merasa tampil baik ada saat ini. Dia tidak tengah memakai atribut seorang staf, yang ada hanya ingatan tentang loker dan kamar untuk pekerja yang sempit dari Lucy mantan atasannya dulu. "Aku berpakaian pantas dan sopan sore ini tetapi arti matamu mengatakan sebaliknya. Apa maksudnya? Memang sisi kepala pria tercipta dari bagian manifestasi imajinasi?" sindir Vania. Sudut bibir Fagan berkedut menahan tawa. "Aku tidak terkejut kalau itu datang darimu. Sebenarnya aku belum pernah katakan ini padamu, bagian dari diriku yang lain selalu muncul ketika melihatmu ada di sekitarku." "Begitukah?" Vania memasang tasnya kembali ke bahu. "Sepertinya lebih baik aku undur diri saja." "Tidak, hanya bergurau. Duduklah dulu." Fagan bangun dari kursi, memutari meja kerja dengan raut datar. "Kau ingin minum sesuatu?" "Aku harus tahu alasan kau berkenan mengundangku kemari dan mengapa harus melewati Sarah?" tanya Vania dengan kedua alis tertaut. Kerutan di dahi Fagan muncul sebagai reaksi. Vania memerhatikan tingkah pria itu sampai matanya yang dingin berpindah ke arahnya. "Aku tidak memliki nomor ponselmu yang baru. Kau tak mau memberikannya padaku semalam. Apa ingin dengar penjelasan lagi?" "Kau menyerah tanpa mendapat nomorku?" "Kau tahu ini belum seberapa," Fagan mendengus. "Lantas?" Vania dibuat bingung. Fagan berbalik menuju kulkas dua pintu berwarna abu-abu yang mahal. Semua yang ada di ruangan ini menggambarkan dekat bagaimana pria itu serta sifat aslinya. Fagan bukan pecinta warna cerah seperti Sarah dan Vania memaklumi hal itu. Terasa aneh semisal dia melihat campuran hijau dan kuning di dalam ruangan. "Aku menghargai kemandirianmu," dengan mengulurkan sekaleng soda dingin. Vania lebih butuh ini dari sekadar air dingin biasa. "Itu yang kau mau, bukan?" "Cukup terdengar masuk akal," tambahnya sembari membuka tutup soda dari meja. "Jadi, apa yang ingin kau bicarakan?" Fagan menyugar rambutnya yang berantakan dalam bungkam. Dari tempat Vania duduk saat ini, dia bisa mengamati bagaimana ekspresi itu terlihat tidak bersemangat dan sosok Fagan dengan tampilan tampan setelan jas yang menarik. "Perdana Menteri mengundangku secara pribadi untuk makan malam." "Ya Tuhan," Vania berkata takjub. "Dia sudah punya tiga anak. Salah satunya perempuan yang paling bungsu. Kami sempat ada di sekolah menengah atas sama sebelum akhirnya dia pindah ke luar negeri untuk melanjutkan studi," kata Fagan menjelaskan. "Kalian berkencan?" Sinar mata Fagan berubah. "Tidak pernah." Vania mendengarkan tanpa menyahut. "Ivan sempat dekat dengan ayahnya sebelum dia pergi dari negara ini. Saat itu belum menjabat sebagai pemimpin hanya sebatas anggota dewan. Istrinya bekerja sebagai notaris ternama di kota ini." Fagan sesekali melirik Vania yang memerhatikan. "Aku tahu," kata Vania pelan. "Dia terkenal tidak ramah. Sarah menceritakan sebagian rahasia padaku." "Kau benar," Fagan menimpali sinis. "Aku hanya tidak ingin acara formal tersebut mengarah pada kesepakatan lain." Alis Vania terangkat sebelah. "Aku tidak memahami maksudnya." "Aku tidak ingin perjodohan dalam bentuk apa pun terjadi. Ayah dipastikan tidak ikut karena harus tidur lebih awal di rumah. Aku yang akan datang ke sana atas nama keluarga. Kau mengerti?" "Tentu," balas Vania lamat mencoba menahan kalimatnya agar tidak berbicara pada Fagan untuk mengambil peluang berlian ini. Mencari pelabuhan terakhir untuk meminang salah satu putri pemimpin tertinggi sebagai istri. "Kau hanya ingin memilih pasanganmu sendiri?" Ekspresi Fagan sama sekali tidak bersahabat. "Iya dan itu serius. Aku berusaha sendiri." "Baik, aku bisa menemanimu. Jam berapa?" Vania tersenyum penuh janji. "Tujuh malam. Sebutkan alamat barumu." Vania membeku di kursinya. "Apakah itu penting?" "Kau bertanya?" Fagan mengulang ucapan wanita itu dengan datar. "Kita adalah sepasang kekasih. Kau dan aku berada di masa kencan saat ini. Kenapa aku tidak bisa mendapatkannya?" "Begini, kau harus mendengar alasanku terlebih dahulu." Vania mencoba bicara penuh arti. "Aku sudah bosan mendengar sekian banyak alasan darimu," tukas Fagan seraya melirik pandangan dingin yang membuat Vania tak mampu bergerak. "Jika kau ingin bersama selama satu bulan, berarti kencan nyata. Bukan kepalsuan atau semacamnya. Kau tidak menjelaskan secara mendetail dan hanya memperbolehkan aku menemukan perempuan lain yang sekiranya pantas. Aku memahami batas toleransimu." Ya ampun. Kepala Vania mendadak pusing. "Aku tidak bisa bicara apa pun lagi dan akan memberikan nomor baruku padamu. Kau tidak perlu bertanya dengan Sarah nanti." "Apa itu artinya kau mau mengangkat panggilan dan menjawab pesanku?" tanya Fagan curiga. Bibir Vania menipis. Pipinya menekuk ke dalam karena cemberut. Lama dia menatap Fagan lalu menghela napas berat. "Tergantung situasinya bagaimana." "Kenapa bisa?" Fagan terkejut dengan jawabannya sendiri. "Kalau kau terus mengganggu seperti serangga terbang saat aku sedang sibuk, aku pasti memblokir semuanya sampai waktu santai tiba. Kau paham sampai sini?" Vania mengembuskan napas seperti anak kecil penyabar. "Pemilik bisnis tidak sesibuk itu," keluh Fagan. "Tutup saja pendapatmu. Kau menerima banyak pekerja sementara aku terbatas. Aku menoleransi diriku sendiri dengan manusia baru," kata Vania ketus setelah menulis pada selembar memo yang dia bawa bersama pulpen dalam tas selempang serba ada miliknya. "Jadwalku padat. Kuharap kita saling mengerti." Fagan melempar senyum yang tak terlukiskan. Vania tidak akan meresapi itu sebagai rayuan dari pria tampan di depannya. Segalanya bersifat semu dan dia tak terkecoh. *** "Kau luar biasa. Gaun ini tampak hebat pada dirimu. Kalau ada pria lain menatapmu cantik, Fagan siap membuatnya bermimpi buruk. Aku serius untuk yang ini," kata Sarah riang memandang Vania dari cermin meja rias dengan seulas senyum manis. "Fagan si ikan?" canda Vania yang terkekeh geli. "Pria yang terkenal tidak sabaran dan anti sosial. Jam berapa kalian berangkat?" Sarah memastikan tatanan rambut panjang sahabatnya tertata rapi. Vania melirik jam di dinding kamar. "Dua puluh menit lagi dia di sini." "Oke, kau punya waktu untuk bernapas sebentar. Mau minum? Aku membeli banyak stok soda kaleng untuk kita berdua di rumah tanpa harus merepotkan orang lain," gumam Sarah senang lalu melangkah keluar dari kamar dan berbelok ke laci kaca yang menempatkan ragam botol minuman baru mereka di sana. "Seorang atasan mesti berpenampilan menawan." Vania meringis dan membenarkan dalam hati. "Aku belum memberi makan Milen dan Fagan." Sarah mengangkat alis, membuka tutup dan menuang ke gelas kaca saat Vania mengulurkan tangan ke atas aquarium, mendesis menatap bagaimana gesitnya Fagan dan tidak membagi kesempatan Milen ikut makan. "Hei Fagan, kau tidak boleh nakal," tegur Vania gemas. Kembali berbuat adil hingga Fagan dengan cepat menyantapnya sampai habis. Milen hanyalah butiran rumput laut buatan, tak ada eksistensinya. "Tipikal pria itu sekali. Benar Vania idemu bagus menamai ikan kecil itu sesuai," ujar Sarah dengan gelengan membiarkan Vania bergabung dan minum dari gelas. "Kau membutuhkan ini karena Perdana Menteri kita kadang tak bisa mengendalikan ucapannya." Vania mengembuskan napas kalah. "Aku tidak menyukai istrinya. Terlalu angkuh dan tak dewasa," sahut Sarah tanpa raut berarti. Vania menanggapi dengan murung. Kesempatan Fagan mendapatkan calon istri hanya dua puluh persen. Namun Vania tidak merasa frustrasi dan merubah hal tersebut sebagai prioritas. "Sebenarnya, kalian berdua aneh." "Atas dasar apa kau bicara begitu?" Vania tercenung mendengar Sarah tertawa singkat. "Kalian berpacaran dan kau membiarkan Fagan melirik wanita asing. Apa dia berkata yang sebaliknya?" Sarah yang penasaran dengan reaksi sahabatnya hanya meneleng. Vania mematung. Wajahnya terasa kaku karena tidak serta menjawab. "Tidak ada, tapi itu sudah menjadi persetujuan sejak awal." "Kita lihat ke depannya berjalan bagaimana." "Kau memiliki firasat buruk?" Vania berkata getir saat mata mereka bertemu. Kepala Sarah menggeleng dua kali. Bias matanya memancarkan nilai positif bagi Vania. "Aku tak ingin Fagan berbuat semaunya padamu. Pria yang menghabiskan cinta semalam tidak pantas melakukan tindakan di luar nalar." Dalam sayup mendengar suara mobil dari depan pagar. Sarah bangun dari sofa, mengintip ke luar jendela dengan satu alis naik. "Fagan baru saja datang. Ambil tasmu cepat, aku pulang sebentar lagi." "Kupikir kau menginap?" Vania terdiam selama beberapa saat menatap temannya. "Aku tidak bisa tidur tanpa dipeluk. Aku menginginkannya sekarang," timpal Sarah dengan seringai. Vania berjalan menuruni anak tangga. Membiarkan pintu tertutup saat Sarah melambai dan tidak perlu terlalu lama menunggu balasan Fagan di depan sana. Ia mengantar Vania seperti seorang ibu kemudian bersantai di dalam rumah. "Aku pikir kau menjemput terlalu cepat?" Perasaannya membuncah dengan antisipasi ketika sorot kelam Fagan memandangnya tanpa ampun. Tak meninggalkan setitik saja jarak untuk melihat penampilannya. Vania terhitung jarang memakai gaun dalam acara resmi kecuali pesta bulan itu dan karena begitu penasaran. Lalu saat ini? Tentunya dia tidak mau mempermalukan kekasih bohongan. "Kau membeli pakaian khusus untuk malam ini?" Dahi Vania mengernyit. "Bukan. Seseorang memberi hadiah baju mahal ini." "Sarah?" Fagan terlihat gelisah. Vania menggeleng sebagai balasan. Ekspresi Fagan berubah dingin. "Siapa itu?" "Temanku," katanya ceria. Vania menatap rupa pria itu selintas. Sebelum pandangan mereka bertemu dan dia kehilangan suaranya selama beberapa menit hanya mengagumi paras dan bagaimana setelan mewah itu terpasang sempurna pada bidang atletis. "Kau tak kenal dengannya. Ayo, kita pergi sebelum terlambat." "Kenapa kau tergesa sekali?" "Seharusnya pertanyaan itu berbalik kepadamu," sungut Vania agak kesal. "Mengapa kau datang terlalu cepat?" "Supaya kita tidak terkena macet di jalan utama. Kota sedang ada perbaikan aspal dan memakan waktu tidak sebentar." Fagan mengutarakan alasan yang bisa wanita itu terima. Kemudian pada gerakan yang mendebarkan ketika Fagan bersikap rileks dengan berjalan menghampiri. Vania terdiam, memandang pria itu datar. "Kau tidak boleh berbuat aneh di muka umum." "Aku ingin merasakan sensasi itu bersamamu," sahutnya ringan yang malah membuat semu merona timbul di kedua pipi Vania. "Aku meminta satu ciuman singkat." Apa dunia tahu kalau Fagan ternyata begini? "Tidak bisa, kau mengacaukan riasanku." Senyumnya lekas terbit. Yang membuat Vania berhenti bernapas, kakinya gemetar. "Aku mengalah untuk kali ini. Mari, kita simpan itu berikutnya dan aku senang melihat dirimu memoles kuku." "Ini sebetulnya ide Sarah." Vania memejamkan mata. "Dia kurang suka melihatmu menggigit kuku," tukas Fagan berpendapat. "Sarah bilang aku bisa saja terkena penyakit dan itu bohong. Aku bersih," kata Vania berdalih kemudian melangkah mendekat ke mobil untuk masuk. Kali ini bukan tipe yang sama melainkan sebuah kendaraan hitam yang berkelas. "Apa yang biasa para manusia lakukan di pesta?" "Mencari rekan baru dalam berbisnis. Mereka harus pintar mencari celah dan berbincang mengenai kualitas diri. Pengusaha tidak sesantai itu di awal debut mereka," balas Fagan sedikit menjelaskan bagaimana kehidupan berat yang dimulai dari perjuangan. "Mereka bisa melihat hasil saat teman penting memberi rekomendasi dan terkenal demi keuntungan sepadan." "Apa seperti itu caramu menghidupi bisnis?" tanya Vania setelah mendengarkan. "Aku selalu mengawasi celah yang tidak selalu muncul." Vania mematung. Tercenung merasakan mobil mahal ini beraroma sama seperti Fagan. Bagian interior yang nyaman membuat Vania nyaris tertidur pulas. Dia tidak mungkin menghamburkan biaya dengan percuma hanya untuk satu kendaraan super di garasi. "Bagaimana ceritamu membangun bisnis?" "Kisahnya berliku dan panjang. Ini semua bukan berkatku. Tanganku tidak sedingin itu dalam mendirikan sebuah usaha," akunya pahit mengakui dengan lamat kalau dia sebenarnya payah. "Sepantasnya aku cocok dengan pekerjaan yang lama. Tetapi aku berubah sepertimu, sedang memantau waktu." "Apa yang ingin kau lakukan?" Fagan kembali bersuara penuh tahu. "Aku setuju mengambil alih sebuah restoran tua yang tidak lagi populer di pasaran. Masih tahap perjalanan dan berbekal pengetahuanku yang sudah berkecimpung di bidang sama walau sebagai staf biasa." Vania mengukir satu senyum setelah menatap pria itu. Fagan terlihat kurang sependapat. "Kau yakin dengan prospek tersebut?" "Sebenarnya tak terlalu berharap. Aku sedang berupaya," balas Vania lirih menatap pemandangan deretan ruko di pinggir jalan. "Aku tidak pernah tahu jika belum mencoba." Fagan tidak berkomentar setelahnya atau Vania menerka pria itu malas membuka percakapan. Bisnis mereka berjalan berseberangan. Fagan sudah melihat hasil yang berganda sedangkan Vania di ujung merintis. "Ayah baru bertanya kabarmu. Kau diminta untuk mampir selagi ada luang," suaranya membuyarkan lamunan Vania dari lampu tinggi kota yang redup. "Catatan medisnya berjalan sesuai harapan. Dokter menyarankan beberapa alternatif agar segera sembuh." "Apa ayahmu memungkinkan melewati prosedur yang lebih berat?" Vania berkata sedih. Fagan mengangguk membenarkan. "Berapa persen dengan target berhasil?" "Tiga sampai empat puluh persen," suara pria itu memelan dan Vania melihat sesuatu yang tak biasa dari Fagan setelah membahas Kenta. Vania menunduk, mengamati pegangan tangan itu yang bergetar pada kemudi mobil.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN