Raut itu berubah kecut. "Kau menolakku?"
"Ya, tentu saja. Kau mendengarnya secara benar." Itu alasan logis yang bisa Vania pikirkan sekarang. Untuk menyetujui pernikahan konyol bersama pria bertempramental seperti balita, itu seakan menambah masalah. "Aku dan kau hanya dua orang asing yang secara kebetulan bertemu di sebuah tempat."
Fagan memicing dingin. Sorot matanya berpendar kesal seolah sanggup membuat kulit Vania merinding di banyak bagian dalam sekali pandang. "Aku tidak berpikir itu menjadi malam paling aneh dalam hidupmu. Karena Mam, bukan aku yang menawarkan apa pun padamu. Kalau kau tidak ingat, biar aku yang membuatmu mengenangnya kembali."
Bola mata sehijau daun di musim semi itu berputar bosan. "Aku tidak pernah bisa lupa dan itu tidak merubah alasan apa pun. Karena kita tetap dua orang yang saling tidak mengenal. Dulu atau pun saat ini."
Pria itu diam dan Vania merasakan prasangka buruk ketika mata mereka bertemu. Fagan sedang mencoba menelaah isi kepalanya hanya dengan melalui sorot mata.
"Aku masih belum memahami." Fagan berkata muram. "Jika aku menawarkan kencan selama beberapa bulan, itu tidak berhasil bagi kita berdua."
Vania mungkin mengiyakan semisal ini ajakan kencan biasa. Karena kencan bukan berarti mengikat dan bisa lepas kapan pun. Dia tidak sempat memimpikan perceraian dengan segala urusan melelahkan.
"Aku tahu kau tertekan dan putus asa. Wajahmu menjelaskan semuanya," tuduh Vania letih. "Namun bukan berarti kau bisa membawaku ke hubungan yang lebih serius hanya karena kau ingin anak yang sah secara hukum."
Kedua mata itu menyipit. "Apa kau perlu cinta?"
"Tentu, aku memerlukannya." Dasar pria konyol. Untuk apa menikah tanpa cinta? "Kau tahu, pernikahan adalah dua orang yang punya masa lalu sendirian dan masa depan bersama. Tidak mudah berbaur satu sama lain dengan sikap semaunya. Kalau tidak terjalin komunikasi yang baik, hubungan itu tidak akan berhasil."
Fagan tercenung. Ia mengenang pernikahan orangtuanya yang hidup walau telah lama berlalu. Ayahnya mungkin menikah lagi walau sekadar mencari cinta baru, dia tidak mampu. Semua berujung pada perpisahan hingga membuat Fagan kecewa. Kakaknya yang tinggal di luar negeri, mengeluhkan sikap pria renta satu itu. Perempuan muda adalah benalu yang sebenarnya. Mengumpulkan banyak uang dengan usaha minimal adalah kunci utama.
"Lagi pula, sebelumnya kau menduga aku Isabelle. Kenapa tidak kau cari perempuan itu saja?"
"Isabelle berambut hazel dan kau merah muda. Itu tidak sama. Aku merasa bersalah atas itu," kata Fagan pelan menyadari dia salah tuduh dengan maksud memalukan. Vania dan Isabelle berbeda. Hanya kebetulan datang dengan maksud sekadar iseng. "Aku mencoba mengerti jika kau marah karena tudingan tersebut. Aku tidak akan bersamanya."
"Aku bukan pencari harta," tukas Vania sinis.
Fagan bernapas berat melalui mulutnya. "Aku tahu."
"Aku juga tidak akan menikah denganmu."
Untuk kalimat satu itu, Fagan bergeming. Sinar matanya sama sekali tidak melembut ketika wanita itu malah berani mengejeknya.
"Apa kau bisa menyebutkan alasan mengapa harus aku?"
"Karena kau sesuai denganku." Fagan mencoba mengabaikan ekspresi pahit di wajah wanita itu dan kembali bersuara. "Kau tidak suka mendengar alasannya."
Bibir Vania menipis penuh antisipasi.
"Aku pernah menuduhmu buruk sebelum ini."
"Tidak ada pria seperti aku," ujarnya percaya diri. Perutnya serasa seperti mulas ketika Fagan mendekat, memangkas jarak di antara mereka dan mengulurkan tangan untuk menyentuh rambutnya. "Aku tidak bisa membayangkan kau menjadi seorang ibu. Tetapi melihat kau di ranjang setiap malam, aku masih sanggup."
Kedua matanya melebar dengan dengusan pendek yang meluncur. Fagan bukan hal yang bagus, terlalu membuatnya gelisah. Vania tidak mungkin bersama pria bermasalah yang suasana hatinya terus memburuk dan mudah kesal.
"Aku tidak pernah bersama wanita sepertimu sebelumnya dan malam itu kau bertingkah seakan bukan seorang amatir."
Satu seringai lain muncul. Vania akan senang hati memprotes semuanya sebelum bibir itu mendarat lembut di atas bibirnya, mencium untuk membungkam semua penolakannya dengan manis.
***
"Aku tidak menyangka dia pemilik tempat malam yang cukup sukses. Keuntungan bisnis tersebut tidak sedikit."
Kenta menyuarakan pemikiran bingungnya yang mampir ketika melihat Vania sibuk sendiri di dapur dengan adonan tepung dalam wadah besi. Ketika Fagan baru saja muncul dari kamar, segar sehabis mandi. Kemudian bergabung dengan ayahnya yang penasaran mengapa suasana rumah tampak lebih sunyi dari biasa.
"Aku rasa dia punya alasan," balasnya pelan sambil mengacak rambut belakangnya yang basah. "Vania tidak mau membicarakan itu pada siapa pun."
Sudut bibir Kenta berkedut. "Aku mengerti maksudnya. Itu termasuk bagian dari privasi. Kalau kau dekat dengannya dalam arti yang membuatnya nyaman, dia akan berbicara hal itu secara sukarela. Semua orang punya rahasia terdalam yang tidak mereka bagi pada siapa pun kecuali cinta dalam hidup."
Fagan tidak menyahut. Ia ingin mengetahuinya secara pasti. Dari segi finansial, Vania tidak seharusnya perlu bekerja menjadi staf biasa hanya untuk memenuhi kebutuhannya. Tapi di sisi lain, perempuan itu bisa menempatkan dirinya dengan posisi berbeda. Seperti pesta hari itu misalnya. Vania bertransformasi menjadi perempuan hebat kelas atas.
"Fagan, aku tahu kau terbebani terhadap masalah cinta dalam hidupmu. Tetapi percayalah, kau mampu mendapatkannya. Mungkin sekarang dirimu masih sangat keras kepala lambat laun kau ingin mencari seseorang yang bisa membagi pikirannya denganmu, bicara tentang keluhan dan harimu. Seseorang yang melihatmu dari dua sisi berbeda. Fagan si pebisnis atau hanya manusia biasa. Kau membutukannya seperti aku."
"Aku tidak berpikir dua kali seandainya menemukan sosok ibu di diri perempuan lain," kata Fagan mencela cemberut menatap sang ayah. "Kau beruntung. Ibu milikmu sampai dia pergi lebih awal."
"Cintaku hanya besar untuknya. Pernikahan yang gagal menjadi peringatan terselubung. Aku seharusnya tidak mencari cinta lain karena memalukan. Astaga, aku ingin menangis di depan makam istriku sekarang." Kenta berujar sedih.
"Lupakan saja soal mereka yang mengambil uangmu. Wanita seperti itu tidak akan berubah sebelum mendapat pahitnya kehidupan," ujar Fagan datar membayangkan perempuan pengejar harta di luar sana kian meresahkan.
Kenta mengangguk kecil. Menyesali semuanya tidak ada gunanya karena telah berlalu. Yang harus dia perhatikan adalah masa depan kedua putranya termasuk Fagan.
"Vania tidak buruk, bukan?"
Sementara Kenta mencerna semuanya dengan baik, kesiap muncul sebagai reaksi kecil. Iris gelapnya melebar kemudian mendengus. "Aku tidak yakin Vania mau bersamamu."
Seakan itu yang ingin Fagan jelaskan. "Ya, dia menolakku. Kami hanya dua orang saling tidak mengenal dan itu kata paling aneh yang pernah dia dengar."
"Vania menolakmu bukan karena wanita di luar sana atau dia ingin membuatmu terkesan. Dia hanya tak mau bersama pria yang membuatnya kesulitan dan tidak nyaman."
Alisnya bertaut bingung. "Aku pria bermasalah?"
"Kau seharusnya berkaca pada dirimu sendiri." Kenta selesai mengobrol dengan putra bungsunya ketika berbalik dan kembali ke kamar.
Membiarkan Fagan mematung, melamun menatap sosok yang sibuk di dapur dengan tatapan datar penuh minat.
***
"Kau tidak berkenan mengenalkan siapa perempuan yang tinggal bersamamu di pulau selain Nina?"
Senyum Ivan terpatri penuh ejekan kala mereka bertatap muka melalui panggilan video yang tersambung. Fagan mendengus pelan, memainkan jemari di atas meja sembari berpikir. "Ayah cukup menyukainya. Tapi bukan berarti mereka akan serius berhubungan ke jenjang lebih lanjut."
"Aku paham itu. Kita berdua tidak menginginkan adanya pernikahan membuang waktu terjadi lagi padanya. Apa kau berpikir panjang sekarang?"
Alis Fagan menaut satu sama lain. "Apa?"
"Fagan, aku tahu apa yang ayah pikirkan tentangmu."
Seketika napasnya berembus berat. Kalimat tersirat ungkapan sang dokter tentang kondisi ayahnya mungkin membuatnya lebih panik dari pada masalah internal kantor yang sering membuat kepalanya pusing.
"Aku tidak tahu. Kau tidak perlu bertanya karena aku belum menemukan perempuan mana pun yang seperti ibu," tambahnya sinis.
Ivan melempar ringisan geli dari seberang sana.
"Malang sekali. Ibu tidak akan suka mendengarnya dari surga. Kau tidak harus mencari perempuan sesempurna ibu kita. Setiap orang memiliki takdirnya sendiri. Sesekali aku sering berpikir istriku punya kepribadian mirip ibu dan sekarang tidak lagi. Aku mencintainya apa adanya dan itu nilai tambah."
"Kalian berdua menikah karena cinta. Dua anak itu sebagai buktinya," tukas Fagan datar yang membuat kekehan senang mampir.
"Kau tidak pernah iri padaku dan sangat mengherankan. Kau juga sudah dewasa. Terkadang ayah bersikap berlebihan namun dia hanya ingin yang terbaik bagi putranya."
Ivan benar. Fagan tidak punya kuasa atau alasan untuk memberi komentar. Jika ini tentang bisnis, dia punya seribu alasan untuk berkilah. Tapi mereka berbicara sebagai ayah dan anak. Fagan tidak ingin mengelak lagi. Penderitaan ayahnya sudah cukup mengkhawatirkan.
"Aku akan sangat senang kalau lau mau mengenalkan perempuan luar biasa yang sempat ayah bicarakan padaku. Karena aku mau mendengarnya langsung darimu."
Sembari menghimpun semangatnya untuk bangun dari kursi ini dan pergi, suara ketukan pintu agak tergesa menggema. Vania muncul sebelum dirinya sempat berkata masuk.
"Kau mencariku?"
Fagan mengernyit. "Tidak."
"Oh, benarkah?" Vania tampak bingung. "Mungkin aku salah dengar."
"Siapa yang bilang padamu?"
"Ayahmu." Vania menghela napas.
Fagan lantas berdiri dari kursi. Memandangi Vania dengan serius bersama apron cokelat muda pada bagian depan. Rambutnya tergelung tinggi. Mungkin dia baru saja membantu untuk mengisi tempat makan ayahnya dan pergi untuk membereskan sesuatu di kamar. Tetapi Kenta menaruh masalah lain dengan bicara kalau sang anak mencarinya.
Seketika pikirannya mendadak terkuras habis. Fagan melamun selama beberapa detik dan menarik napas panjang bersama kesiap. Sesuatu yang lapar, dirinya yang belum melakukan hubungan selama sibuk di pulau, semua membaur menjadi satu. Lalu Vania di sana untuk mengabulkan semua imajinasinya selama ini.
"Kalau tidak ada, aku undur diri."
"Sebentar," Fagan mengambil napas panjang dengan bibir menipis rapat. "Ada kota di luar pulau ini. Apa kau berniat ke sana?"
"Jika kau setuju, silakan lepas apron lusuh itu dan segera berganti pakaian. Ayahku butuh banyak tidur dan dia tidak akan mencari kita. Nina bisa menjelaskannya kalau dia terbangun nanti."
Vania masih mematung. Tetapi sorot matanya menjelaskan bahwa dia antusias. "Oke, aku segera kembali."
Pintu tertutup setelahnya. Tidak ada suara apa pun lagi yang Fagan dengar selain dari dalam diri sendiri. Semuanya meneriakkan kalimat menuduh untuk mendekap wanita itu hingga tidak bisa berhenti memikirkannya, menyerukan semangat agar dirinya lebih intens untuk semakin dekat.
Pernikahan itu harus. Fagan hanya perlu mempercepat segalanya tanpa membuang kesempatan.