Fagan ada di sana saat Kenta sedang senam pagi. Ditemani Nina yang berdiri sembari menatap lelah. Tiada hari tanpa debaran panik berkat kelakuan ajaib ayahnya. Kenta yang masih tetap aktif di usia tak lagi muda. "Dia sudah sarapan?" "Lima belas menit lalu," Nina membalas datar. "Juga dengan minum vitamin. Dokter ingin bicara sesuatu nanti malam, jam delapan." "Apa ini mendesak tentang kondisinya?" tanya Fagan yang mulai resah. Alis Nina yang tipis tertaut. "Tidak tahu. Dia hanya berpesan seperti itu." Fagan tidak lagi bersuara. Melainkan mendekati sang ayah yang tampaknya menikmati cahaya pagi dari pada menoleh untuk menyapa putra bungsunya. "Ayah," panggil Fagan lirih. "Oh, kau di sini." Kenta memberi senyum lebar. "Aku punya kabar bagus untukmu." Keningnya berkerut dalam. Secara

