TA - 23

2109 Kata
Fagan mencela dari tempatnya. Masih bersentuhan dengan pakaian yang menempel lekat satu sama lain. Vania terselamatkan dari sengatan panas yang melingkupi dirinya berkat Ivan dan sekarang masih mencoba menghimpun tekad untuk menjauhi Fagan. "Ceritakan padaku." "Apa?" Vania bingung luar biasa. "Kau punya masalah," Fagan menarik diri dari atasnya. Ia membiarkan Vania mengurus dirinya sendiri selagi memperbaiki penampilan yang kacau. "Apa ini soal bisnismu?" "Ya," akunya muram. "Tapi tidak terlalu penting. Sarah bisa mengatasinya di sana." "Kau butuh bantuan?" Vania mendengus, mengerucutkan pangkal hidungnya dengan gelengan tipis. "Tidak. Ini bukan perkara bangunan akan digeser atau semacam itu, semua masih aman. Hanya ada pengacau." "Pengacau juga bukan sesuatu yang bisa kau remehkan." "Kau benar. Tapi tempat itu sendiri bermakna kekacauan. Pelarian yang bersifat sementara. Apa yang kau harapkan?" Vania merapikan rambutnya sendiri. Dia seharusnya mengepang pagi ini dan tidak sempat. Lalu tangan Fagan yang terampil berhasil membuatnya berantakan. Fagan hanya diam. Sambil mengamati serius, menelisik semua ekspresi andai dia melewatkan sesuatu yang penting. "Aku tidak keberatan membantumu." "Oh, itu sama sekali tidak perlu." Vania mencoba tenang untuk tidak merinding. Masalah akan cepat teratasi seandainya Fagan turun tangan. Tetapi ini bukan urusan pria itu. "Kau sangat berbaik hati, sayangnya itu tidak diperlukan." Jarak mereka masih terlampau dekat. Lutut mereka saling merapat satu sama lain. Walau Fagan berdiri menjulang di depannya, Vania masih merasa gemetar. Pada dasarnya Fagan tercipta untuk mengaburkan logika normal para perempuan. Jika bertemu pria ini, yang dipikirkan hanyalah bagaimana membawa Fagan ke tempat terpencil dan membuat pria itu memberikan perasaan. Vania tidak sampai ke tahap sana. Kecuali bagian pertama, dia membawa Fagan ke kamar. "Kau melamun," teguran baru yang membuat Vania mendongak, memilih untuk menjalin tangannya dipangkuan karena keinginan menggigit kuku itu ada. "Sampai kapan Ivan ada di sini?" "Aku tidak tahu. Dia yang berhak menentukan." Kening Fagan berkerut dalam. "Kenapa?" Vania menarik napas, tidak tahu bagaimana cara memulai. Setelah bebas dari pulau ini, dia harus memikirkan cara baru untuk menata hidup. "Aku harus kembali." "Pulang?" Fagan bertanya spontan. "Iya. Aku memang penggangguran sekarang dan bukan berarti aku bisa bersantai. Kalau aku memijak tanah negaraku sendiri, kurang dari dua puluh empat jam aku bisa mendapatkan pekerjaan baru." Fagan kurang menyukai ide perempuan ini bekerja selagi bayangan terbang di udara belum sepenuhnya bebas. Vania sangat mandiri, terlalu sibuk memikirkan dunia sampai melupakan kalau dia butuh istirahat lebih. "Kau berniat mencari pekerjaan begitu pesawat lepas landas?" Alisnya menaut dingin. "Apa aku diberi kesempatan untuk tidur dan bersantai?" "Siapa yang sebenarnya kau nafkahi? Kau bekerja seperti singa sirkus." Vania sama sekali tidak menaruh sakit hati karena ucapan Fagan benar. Dia mencari uang untuk dirinya sendiri. Kesibukan yang berhasil membuatnya melupakan beberapa bagian kecil dari kenangan yang ada di masa lalu. "Aku tidak pernah meminta karyawan untuk menambah lembur. Itu semua instruksi dari kepala tim demi mempercepat pekerjaan. Tetapi tidak pernah lengah membayar gaji seharusnya karena mereka layak mendapatkannya." Kepala itu menengadah, Vania menipiskan bibir. Sarat akan kepahaman bahwa dunianya dan Fagan terlampau berbeda. "Aku pun memastikan bayaran pegawai di kantor tidak terlambat. Teruntuk tentang ini, kau dan aku jelas berbeda." "Tidak, kita berdua sebenarnya sama. Kau hanya peduli tentang dirimu yang bukan pebisnis dan memilih jalur pintas sebagai staf lokal biasa," keluh Fagan dingin. "Kau terdengar keberatan?" sindir Vania masam. Fagan menggeleng. "Bukan begitu. Aku merasa kau lebih pantas memberi arahan, memegang kendali dari pada memamerkan senyum ramah demi menarik orang lain untuk datang lagi besok." "Apa kau baru saja mengajukan komplain?" Kedua mata Fagan menyipit pahit. *** "Aku tidak menyangka duduk makan malam bersama adik dan perempuan berbakat. Selain keluargaku, tentu saja pengecualian. Meja makan ini sangat tenang." Fagan mengunyah brokoli dengan sorot dingin. "Kau tidak bisa membandingkan tempat ini dengan anak kembarmu." "Si kembar sedang dalam tahap perkembangan. Aku bangga melihat mereka bertambah besar dengan cara mereka sendiri," ujar Ivan tulus. Yang menarik perhatian Vania adalah bagaimana raut itu melembut. Keluarga Fagan begitu mengayomi dan menyayangi anggota mereka sendiri. "Anak-anak terbiasa bertingkah itu lumrah. Selama masih ada di batas aman, kita tidak perlu mencemaskan apa pun." Senyum Ivan terpatri manis. "Tepat sekali. Khusus untuk perempuan lajang, kau cukup paham. Fagan sama sekali tidak mengerti. Saat kami makan di meja, dia hanya mengambil satu sampai dua lauk lalu menghilang." "Pada dasarnya aku tidak suka suara berisik," kata Fagan datar menyantap makan malamnya dengan tenang. "Sekarang Ivan melakukannya." "Kau suka bicara saat masih pendek dan tidak sadar?" "Aku mengakuinya dan tidak lagi mengulang kesalahan yang sama. Ini hanya berlaku untuk ayah yang masih seaktif biasanya," balas Fagan skeptis yang membuat bibir Ivan berkedut cemberut. "Terlepas dari bagaimana menjengkelkan Fagan sekarang, masakanmu terasa lezat. Kau belajar semua ini dari mana?" "Tak ada yang khusus. Aku menyukai ketika menghabiskan waktu di dapur selagi libur." "Buku resep." Ivan menebak tepat sasaran. Vania mengulum senyum. Ia memiliki hobi membeli kumpulan buku masakan dan mencobanya di rumah. Kreasinya tidak akan berhenti sampai di sana. Selayaknya seorang profesional, dia harus belajar sampai melakukannya dengan sempurna. "Sungguh perempuan potensial," puji Ivan tulus dan Vania merasakan pipinya tersipu. Ivan telah selesai menyantap makanannnya. Dengan sopan mencuci piring sendiri tanpa membiarkan Vania mencuci semua ditambah peralatan memasak. Setelahnya Ivan masuk ke dalam kamar. Vania bisa mendengar percakapan lirih di antara kakak beradik itu sebelum Ivan berlalu dan membiarkan Fagan duduk di ruang makan sendiri. "Kau perlu sesuatu?" "Tidak, aku sudah hampir selesai." Vania menggeleng. Selesai menawarkan bantuan, Fagan tidak pergi dari sisinya. Sementara Vania sibuk, pria itu tidak pernah lepas mengamatinya. Karena dia merasa demikian dan sibuk menganggap Fagan tidak ada ternyata sulit. "Ada apa?" Vania bertanya pelan tanpa menoleh. "Tidak ada. Hanya menyadari kalau kau begitu rileks di dapur dan cukup terampil. Biasanya perempuan senang di sini ketika hendak memasak ramen." Fagan tersenyum. Vania mengangkat bahu. "Itu berlaku kepada Sarah." Menuntaskan semua pekerjaan tanpa membiarkan sisanya menumpuk di dapur. Vania baru bernapas lega saat dia mengamati seisi rumah, memandang lurus pada kolam renang yang tenang. Bersamaan tiupan angin yang menyapa dedaunan kering di malam hari. Lalu berjalan naik ke lantai atas, menemukan Fagan berdiri di depan pintu kamarnya. "Aku tidak bisa tidur," lirih pria itu. Vania tanpa sadar mendengus. "Kau baru saja naik delapan menit lalu dan mengeluh masalah yang tidak serius?" "Buatku ini masalah. Aku tidak bisa memejamkan mata. Sebenarnya butuh istirahat," akunya sambil memijit kepala. "Baru saja memeriksa kondisi ayah di dalam." "Tidak ada sesuatu yang mencurigakan?" Fagan menggeleng singkat. "Aku tidak punya apa pun kalau kau ingin bertanya," kata Vania setelah membuka pintu dengan napas pendek. "Selamat malam." "Aku tidak membutuhkan itu." Fagan menahan pintu yang nyaris tertutup dengan sebelah tangan. Yang sanggup membuat Vania membeku, memegang pintu kamar itu erat. "Aku mau ini," kemudian melesat masuk dan menutup pintu dengan sebelah kaki. Mencium Vania penuh kerinduan. "Semuanya. Hanya butuh memelukmu sekarang." *** Vania mengamati hamparan pasir putih yang pekat karena gelapnya malam. Bulan tidak bersinar terlalu terang. Karena dia kesepian, batin Vania sedih. Tidak ada bintang bersamanya. Lengannya menggigil karena baru beberapa jam sebelum dia turun dan membersihkan diri, dirinya tertidur di dekapan seorang pria. Fagan mendesak masuk bagai sosok misterius yang membutuhkan koleksi mahal untuk dipajang. Vania merasa rentan, tetapi payah dengan tak bisa menolak. Kegiatan mereka selalu singkat dan manis atau Vania yang berpikir begitu. Serta adanya kemungkinan lain yang membuat pikirannya berhenti bekerja sebagaimana semestinya. Satu malam terakhir, namun menurut Fagan itu baru awal. Vania sungguh tidak mengerti mengapa harus dirinya? Tidak ada prospek menjanjikan jika mereka menikah. Vania tidak yakin dia bisa jatuh cinta pada Fagan saat ini atau masa depan. "Kau melamun." Suara Ivan yang dalam menyapa ramah. Pria itu beranjak mendekat dengan sekaleng minuman dingin di tangan. "Aku ingin mengucapkan terima kasih." "Aku tidak bertindak sebagai pahlawan dalam rangka apa pun di sini." Sudut bibirnya tertarik, tersenyum geli. Terlepas dari Ivan yang tampak muda dan gagah, dia telah menikah. "Itu kebenaran. Tetapi aku rasa kehadiranmu berhasil memikat hati dua pria saat ini." "Siapa saja?" Vania membeo bingung lalu mendesah berat. Memahami alur percakapan ini secepat sapuan badai katrina. "Apa rencana masa depanmu?" Mendadak Ivan bertanya. Tak ada maksud menyinggung atau membuat Vania kembali larut perihal harapan yang sempat hidup sebelum menyerah. "Aku belum tahu," akunya sendu. "Aku ditakdirkan untuk menjalani kehidupan sekarang dan esok hari. Masa depan terlalu buram." "Aku setuju. Prinsip manusia adalah tetap bertahan di situasi sulit yang sedang berjalan karena masa depan dibiarkan sebagai kejutan." Vania sepakat dengan itu. Intonasi suara Ivan yang bersahabat serupa yang Kenta bicarakan. Fagan dan Ivan adalah dua individu berbeda. Manusia yang bertanggung jawab terhadap diri mereka sendiri. "Aku mendengar Fagan akan menikahimu selepas kalian kembali dari pulau ini," ujar Ivan berbisik sembari melirik Vania yang kaku. "Ayahku terlihat gembira walau sejujurnya dia mencemaskanmu." Vania memberi senyum prihatin. "Ayahmu pria yang hebat dan dalam konteks ini, adikmu jelas berbeda." "Aku bisa menerimanya." Ivan membalas dengan ringisan maklum. "Aku tidak punya pandangan bagus tentang pernikahan. Semua ini terlalu cepat dan membingungkan. Aku bertemu Fagan karena kesalahan." Alis rapi Ivan tertaut. "Mengapa begitu?" "Aku tak bisa melihat diriku sendiri. Ketika bersamanya, dunia terasa lain. Tolong jangan berasumsi bahwa sedang jatuh cinta. Aku yang paling mengenal diriku sendiri," sahutnya pelan dan Ivan memilih diam. Kemudian pada dering ponsel yang berbunyi di tengah senyapnya suasana. Vania mengangguk, mendapati senyum santai saat dia masuk ke rumah dan mendengar suara Sarah bicara. "Aku punya banyak waktu untuk bicara. Sambungkan padaku sekarang." Ivan berlalu masuk. Mencuci tangan dan memandang Vania dengan kekehan kecil. "Abaikan aku," gumamnya berbalik setelah menemukan dua sisaan kue manis. "Halo, sudah lama sekali. Bagaimana kabarmu?" Fagan terkesiap dari langkahnya saat mencari ke mana Ivan pergi. Karena sang kakak tidak ada di kamar, dia menduga Ivan pergi ke sekitar kolam renang. Kakaknya gemar menyendiri saat keluarganya terlelap. Terkadang Alena menemani meski mereka tidak saling mengobrol. Hanya bersandar satu sama lain. Kehidupan cinta yang aneh. "Aku baik," suara Vania terkesan ceria. "Sudah berjalan cukup panjang. Aku sebenarnya ingin berbincang banyak. Astaga, tanganku dingin." Vania seolah tidak memedulikan eksistensi Ivan yang seperti rubah amatir dengan kue di tangan. Kakaknya bersembunyi tanpa suara dan Fagan mendengus keras. Tetapi tidak bisa mengalihkan pandangan dari Vania yang duduk, riang dan terlihat gembira dengan ponsel di telinga. "Ya Tuhan, jangan memujiku seperti itu. Aku juga merindukanmu. Sebenarnya kau harus berterima kasih pada Sarah. Dia yang menyambungkan percakapan kita." Suara percikan air mengaburkan bayangan Fagan. Ketika Ivan mendekat, berbisik pada adiknya seperti ajakan untuk segera berlari. "Vania sepertinya tengah sibuk. Tadi kami sempat bicara dan dia berbincang dengan temannya di ponsel." Ivan berkata kepada adiknya yang melamun. "Teman yang mana?" Kening sang kakak berkerut bingung. "Astaga, mana aku tahu?" "Dia tidak punya teman baik selain Sarah," balas Fagan serak dan suaranya mendadak dingin. "Apakah itu seorang pria?" Ivan mundur untuk segera meneliti raut bosan Fagan yang datar. Seakan ada sesuatu menyala di matanya. Kemudian Fagan mendecih, melangkah pelan ke atas. "Oh, tunggu sebentar. Aku harus pindah tempat dulu, jangan matikan teleponmu." Vania bangun, tersenyum tipis pada Ivan saat dia menunjuk kamar dan pria itu sama sekali tidak keberatan setelah memberi anggukan. Sebelum Vania menyentuh gagang pintu, Fagan muncul dari dalam ruang kerja dengan ekspresi murung. Vania menurunkan ponsel, mengamati pria itu dan mengembuskan napas panjang. "Aku masih di sini. Kita bisa bertemu saat aku tiba di apartemen." Fagan mengerutkan alis tak percaya. Namun ketidakberdayaan tetap membuatnya bergeming. Lalu kembali masuk, menutup pintu dengan keras dan sayangnya masih menimbulkan celah. "Vania, ada apa? Aku mendengar seseorang sedang kesal?" "Dia sedang mengalami periode bulanan hari pertama. Perempuan cenderung sensitif dengan perasaan dan tidak peduli moral saat tertekan." "Apa semua baik-baik saja? Kau memiliki teman selain Sarah?" "Bagaimana caraku mengatakannya? Kalau aku punya kesempatan, aku bisa mengenalkannya padamu. Kau mungkin sedikit syok tetapi kami hanya sekadar teman." Seseorang tertawa dan seringai Vania ikut merekah. Ivan sampai di lantai dengan tarikan napas panjang. Setelah melihat Vania memasukkan ponsel ke saku dan melakukan cium jauh, dia meringis padanya. "Kau tahu siapa bocah yang bermain pintu? Suaranya seperti bising angin ribut dan terdengar sampai bawah." "Dia mengalami setres." "Balita berkelakuan minus." Ivan mengoreksi. Lalu terdengar suara botol minuman yang terjatuh. Vania terlonjak kaget karena suaranya begitu dekat dan Ivan memijit pelipis. "Fagan terlibat kekacauan di sana." "Soal apa?" Vania gelisah sembari memandang Ivan panik. "Dia berubah tak terkendali. Itu terdengar bagaikan mimpi buruk ketika dia melakukan tindakan serupa setelah mengetahui ibu kami sakit parah dan tidak bisa selamat." "Bukan karena ayahnya?" tanya wanita itu iba. "Kenta tidak seperti itu. Efek kasih sayang ibu kami kepada Fagan sangat mendalam. Ayahku tampak sehat. Fagan tidak perlu mengkhawatirkannya berlebihan karena dia ada di sini, bersamanya." Ya Tuhan ada saja pekerjaan baru untuk membujuk pria manja macam Fagan. Saat Vania membuka pintu, mematung melihat pria itu mendadak berbuat sesuatu tak biasa di depannya. "Astaga, Fagan. Kau ini kenapa?" sangat kebingungan memandangnya bertingkah aneh.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN