Warisan

1369 Kata
Bertahan pada situasi yang sulit, atau pergi mencari kenyamanan? Berdiri tegar dengan rasa sakit, atau melangkah menuju bahagia? ***** “Lo serius mo PHK Claudia malam ini?” Embun memandang wajah pemuda itu dari samping ketika mereka berboncengan motor. Mereka sedang menuju taman kota untuk bertemu Claudia yang sebentar lagi akan mengisi daftar barisan para mantan seorang Alaska. “Ciyus lah!” Alaska yang mengenakan jaket bomber army sedikit berteriak. Entah kenapa, dari semua gadis yang hinggap di pelukannya, tak satu pun yang mampu membuat dia terikat dalam jangka waktu lama. Rekor pacaran paling lama bagi Alaska hanyalah tujuh bulan. Tentu saja, selama kurun waktu tersebut, dia sudah mencicipi tubuh mereka. “Pernah nggak, sih, mikir kasihan gitu sama mereka, Al?” Embun memeluk Alaska karena laju motor terasa lebih kencang dari sebelumnya. “Anggap aja gue lagi ngajarin mereka untuk jadi cewek strong, lebih dewasa, dan kagak mudah sedih,” jawab Alaska sekenanya. “Preses pendewasaan bagi mereka.” Embun cuma geleng-geleng kepala mendengar jawaban Alaska. Dia sebetulnya penasaran kenapa Al selalu bersikap seperti itu. Mungkinkah lelaki ini pernah patah hati yang teramat sangat? Bisa saja dia membalas dendam pada wanita dengan cara ini, seperti kebanyakan orang. Walau sudah cukup lama bersahabat, Alaska tidak banyak bercerita tentang diri dan perasaannya. Embun hanya tahu bahwa dia dua bersaudara dan kakak perempuannya sudah menikah sehingga tinggal terpisah dengan kedua orang tuanya. Orang tua Al membuka sebuah warung makan yang sudah mereka kelola selama beberapa puluh tahun. Bisa dibilang, secara ekonomi, keluarga Al cukup mapan. Memang Al bukan berasal dari keluarga kaya, tapi cukup layak secara keuangan. Meski begitu, pemuda ini selalu dibiasakan untuk mandiri dan membeli apa yang dia inginkan dengan cara menabung. Ya, setidaknya itu satu sisi positif yang dimiliki oleh seorang Alaska. Bukan pemuda manja yang hanya bisa menengadahkan tangan pada orang tua. Sifat cuek dan selengekan pria itu justru menjadi daya tarik tersendiri, membuat banyak gadis jatuh hati pada dia, tapi tidak dengan Embun. “Kenapa aku boleh naik motor kamu, Al? Teman-teman aja nggak ada yang boleh. Katamu, ini motor khusus pacar,” seru Embun memecah keheningan. Selama ini, Alaska memang melarang keras siapa pun untuk menyentuh, apalagi duduk di jok motornya. Dia sudah berikrar sejak awal bahwa yang boleh duduk di jok motornya hanyalah gadis dengan status pacar. “Lo spesial, makanya kudu terima kasih ma gue.” Alaska membelokkan kendaraan, memasuki area parkir motor. “Idih. Kok, jadi aku yang kudu berterima kasih? Kan, aku yang bantuin kamu. Ow, aku tahu. Karena aku bonceng motormu, jadi cewek-cewek itu percaya kalau kita jadian. Iya, kan? Dasar gayung bocor.” Embun memukul helm yang dikenakan Al. Alaska cuma nyengir. Dari kejauhan, nampak Claudia duduk di kursi taman berjarak beberapa belas meter dari area parkir. Setelah meletakkan helm di atas jok dan bercermin di kaca spion untuk merapikan rambut, Alaska menggenggam tangan Embun. “Yuk,” kata Al. Drama dimulai, pikir Embun. Di setiap hari PHK, memang inilah rutinitas yang mereka lakukan. Bergandengan tangan, nampak mesra untuk sesaat sampai calon mantan pacar Alaska pergi dari hadapan mereka. “Hai, Clau. Kenalin ini Sarah, cewek baru gue.” Alaska berucap dengan tenang sembari tersenyum. Yang diajak bicara hanya melotot kaget dan mulutnya ternganga, sedikit terbuka. Dia yang semula sangat gembira karena diajak berkencan oleh Alaska, tiba-tiba diberi kejutan seperti ini. Kejutan yang sama sekali tidak dia inginkan. “Maksud lo?” Gadis itu berdiri sambil menatap tajam ke arah Alaska. “Ya, ini cewek baru gue. Tadi siang kami jadian. Kita udahan.” Pria itu mampu tersenyum manis walau kata-katanya tentu sangat pahit terdengar di telinga Claudia. Gadis itu berlalu dengan menahan tangis. Nampak sekali, dia berusaha keras menahan butiran air mata untuk tidak turun ke pipi mulusnya. Ada rasa tidak tega menyelinap di hati Embun. Namun, mau bagaimana lagi. Dia hanya sekadar membantu, hadir sebagai pemeran pembantu dalam drama percintaan Alaska. Romansa tak bertepi. “Done,” kata Alaska singkat sambil melepas genggaman. “Syukurlah, hari ini SA-RAH tidak kena damprat. Sekarang SA-RAH lapar, kwe tiaw, kwe tiaw,” kata Embun sambil menekankan kata Sarah. Ada rasa geli melihat kelakuan Alaska, tapi juga ada rasa kasihan pada gadis-gadis yang dia campakkan. Entah kapan pria ini tobat. Begitu mudahnya Al membuang para gadis yang sudah dikencani, bahkan setelah beberapa menit PHK, dia sudah sepenuhnya lupa pada mereka. Benar-benar keterlaluan. Alaska tertawa mendengar Embun menekankan kata Sarah, nama yang terlintas begitu saja di benak dia. Pria itu merasa gemas dan tiba-tiba memegang kepala Embun lalu mencium keningnya. “Eh, ngapain kamu?” Embun tak sempat menghindar. Dia menatap tajam ke arah Alaska. “Hehe, sori, gue gemes. Jadi, lupa diri.” Al terkekeh. “Kamu bukan lupa diri, kamu itu nggak tahu diri. Jangan macem-macem, ya,” tegas Embun. “Sori, kelepasan doang tadi. Janji deh, kagak lagi-lagi,” jawab Alaska sambil mengacungkan telunjuk dan jari tengahnya, membentuk huruf V. Embun melangkah menuju area parkir dengan muka cemberut. Dia merasa sedikit terganggu dengan perlakuan Alaska tadi. Baru kali ini Al bersikap seperti itu, tidak sopan pada dia. Sepanjang perjalanan menuju Gatsu, Embun memilih diam dan duduk dengan menjaga jarak. “Masih marah? Sori, Mbun. Sumpah, kelepasan tadi,” kata Al lembut. “Jadi nggak nyaman kan karena sikap kamu,” jawab Embun. “Iya, maaf. Kan udah janji kagak lagi-lagi. Masa sih kagak mau maafin,” ujarnya memelas. “Kwe tiaw dulu, baru aku maafin,” jawab Embun sambil menyembunyikan senyum. Dia memang tidak tega kalau melihat sikap memelas Alaska. Pemuda badung itu bisa tiba-tiba seperti anak kucing yang imut dan lucu kalau sedang merayu atau merajuk. Menggemaskan! “Aseeeeeeek ....” Alaska tertawa bahagia. Beberapa puluh menit kemudian, mereka tiba di warung tenda kaki lima di jalan Gatot Subroto yang biasa dikenal dengan nama Gatsu. Warung langganan Alaska, yang kemudian jadi langganan Embun juga.   “Wei, mimi lan mintuno. Dari mana?” sapa bapak pemilik warung. Bapak ini memang selalu memanggil mereka dengan mimi lan mintuno. Sebuah ungkapan jawa untuk menggambarkan dua orang yang saling lengket. Ke mana-mana selalu bersama. “Biasa, nge-date,” jawab Al selengekan. “Cie, udah jadian, neh?” goda bapak itu. “Jadian ma buaya darat kaya dia? Ogah, Pak,” jawab Embun. “Dih, mas ini beneran cinta loh sama mbaknya. Suer, deh.” Si Bapak malah ngeyel. “Tuh, Bapak ini aja tau. Lo aja emang yang gak peka kalo gue tuh cintaaaaaa banget ama lo.” Alaska memasang wajah sok imut. “Pesen biasanya, Pak. GPL.” Embun segera menuju tempat duduk yang kosong. Dia malas meladeni ocehan Al dan si bapak warung. Al dan bapak warung senyum-senyum saja melihat Embun ngambek. “Jadi, belum ditembak juga, Mas?” Bapak itu berbisik pada Alaska. “Galak, Pak. Syerem. Hiii,” jawab Al sambil bergidik, lalu keduanya tertawa terbahak-bahak. Embun memandang mereka berdua dengan sebal dari kejauhan. Pasti ngomongin aku, gerutu gadis itu dalam hati. “Jangan kelamaan. Nanti nyesel loh kalo udah terlanjur kehilangan,” sahut bapak itu. Alaska tersenyum, lalu menyusul duduk di hadapan Embun. “Udah puas ngomongin aku?” Embun menopang dagu dengan tangan kiri sementara tangan kanannya sibuk menggulirkan layar telepon genggam. “Idih, GR. Siapa juga yang ngomongin lo. Pengen diomongin, ya,” canda Alaska dengan senyum nakalnya. “Al, kayaknya aku semester depan berhenti kuliah dulu, deh,” keluh gadis itu. “Loh, kenapa? Susah bagi waktu ma kerjaan? Capek?” Pria itu terkejut mendengar ucapan Embun. Setahu dia, gadis ini sangat bersemangat untuk kuliah. Membagi waktu, tenaga, dan konsentrasi antara pekerjaan dan perkuliahan, tentu tidak mudah. Namun sejauh ini, dia mampu melakukan dengan baik. Ini juga sudah satu tahun. “Keuanganku tidak memungkinkan,” jawab gadis itu singkat sambil menghelas napas panjang. “Lo butuh berapa? Biar gue bantu lo.” Alaska tulus ingin membantu. Dia tahu, Embun sangat mencintai kuliahnya. Alaska saja tidak mau kuliah, walau orang tuanya mampu membiayai. Dia lebih suka bekerja dan menghasilkan uang. Namun, Embun berbeda. “Jangan, Al. Aku nggak bisa terus mengandalkan orang lain. Tanggungan utang juga masih banyak. Mungkin, nanti setelah semua utang terbayar lunas, baru aku masuk kuliah lagi. Nggak mau terlalu banyak beban untuk saat ini.” Embun menunduk lesu teringat rentetan utang warisan ayahnya yang hingga kini belum terbayar lunas. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN