Makan Terakhir

1323 Kata

Kita hidup di dunia fana Tak ada yang baka Tidak dengan bahagia Tidak pula dengan luka *** Embun dan Pandu sudah tiba di kafe sebelum pukul empat sore. Sudah kebiasaan pria itu untuk datang sebelum waktu yang telah ditentukan. Mereka mengobrol santai sembari menunggu kedatangan Al di tempat itu. “Al sepertinya nakal lagi, Mas. Aku jadi merasa bersalah. Dia berubah kembali seperti dulu,” keluh Embun tentang perubahan sikap Al. “Dia bukan berubah, tapi memang itu sifat aslinya. Nggak ada manusia yang bisa mengubah Al, selain diri dia sendiri. Kita ini bukan dewa, apalagi Tuhan. Bukankah sebelum bertemu denganmu, dia sudah seperti itu? Jadi, kenapa kamu harus merasa bersalah?” Pandu selalu saja bicara dengan tenang, tetapi ucapannya serasa penuh bisa yang mematikan. Embun pasti terdi

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN