Adakah aku dalam doamu?
Hadirkah aku dalam mimpimu?
Sedangkan aku hidup dalam mimpi kita
Dan doa itu pun selalu tentang kita
***
“Tapi bukannya banyak di luar sana gadis lain yang jauh lebih cantik dan menarik daripada aku, Al?” Embun tahu selera gadis seperti apa yang selama ini disukai oleh seorang Alaska. Yang jelas, bukan wanita kurus kering seperti dirinya.
“Itu hanya lapar mata, Mbun. Sama seperti kita tergoda untuk membeli dagangan orang. Setelah dibeli, seringnya malah kita sendiri jadi bingung mau diapain. Setelah dibeli, baru sadar kalau nggak ada gunanya. Itu hanya nuruti ego aja, ngerasa seneng ngedapetinnya setelah mengejar-ngejar. Habis itu, ya digeletakin aja. Indah dilihat, tapi nggak ada manfaat. Buat apa?” jawab Al dengan tenang.
“Emang, aku ada gunanya?” Gadis itu balik bertanya.
“Kamu bukan cuman berguna, tapi kamu itu segalanya buat aku. Aku hidup tidak lagi berpikir tentang mimpi, tapi aku menjalani hidupku dalam mimpi itu. Dan mimpi itu selalu tentangmu, Mbun.” Al meraih puncak kepala Embun, lalu mengusap sekilas.
“Jadi, soal kita hanya sebatas mimpi ya, Al? Suatu saat, kamu harus terbangun dan menyadari bahwa semua itu tidaklah nyata.” Mata Embun menerawang jauh, seolah tak sadar dengan apa yang telah dia ucapkan.
“Mimpi dan nyata sudah jadi satu, Mbun. Seperti aku bilang tadi, kita hidup di dalam mimpi itu.” Pemuda itu memandang gadis di sampingnya, berusaha memahami arah pembicaraan Embun tadi.
“Aku tak lagi punya mimpi, Mbun. Karena aku sedang menjalani semua mimpi itu, denganmu,” lanjut Al.
Embun menghela napas panjang, seolah ada beban teramat berat dalam dirinya.
“Sudah, jangan banyak dipikir. Kita jalani aja semuanya dengan santai. Yang penting, jangan pergi terlalu lama. Aku pasti rindu,” ucap Al.
Embun tersenyum dan membalas tatapan Al. Dia memang berharap pemuda ini adalah penyembuh luka bagi dirinya. Luka yang selama ini sudah terlalu dalam ditorehkan oleh ayah serta pamannya sendiri.
“Terima kasih untuk semua hal yang sudah pernah kamu lakukan buat aku ya, Al. Semoga, kita memang berjodoh. Tapi kalaupun tidak, aku berharap kamu akan menemukan gadis yang benar-benar tulus mencintai dan selalu ada untuk kamu, kapan pun, dalam situasi apa pun.” Embun menyentuh pipi kanan Al dengan telunjuk, mengusapnya perlahan.
Al mendekatkan wajah. Perhatian pemuda itu tertuju pada bibir Embun yang merah alami dan selalu terlihat basah walau tak pernah menggunakan pelembab. Nampak gadis itu membuka sedikit bibirnya, membuat Al semakin tak bisa menguasai diri. Wajah mereka semakin dekat.
Dua puluh sentimeter ....
Lima belas sentimeter ....
Sepuluh sentimeter ....
Embun menahan napas, lalu menutup mata. Dia mampu mendengar embusan napas Al dalam jarak sedekat ini.
Lima sentimeter ....
Napas Al terasa hangat di permukaan wajah gadis itu. Semakin hangat ... dan Embun menggeser duduknya. Al terkejut. Napasnya sedikit terengah-engah. Entah karena gairah atau terkejut karena gadis itu tiba-tiba beringsut menjauh.
“Huf, panas ya, Mbun,” kata dia untuk menutupi rasa malu.
“Jangan sekarang ... dan jangan di sini. Nggak enak kalau dilihat orang,” jawab Embun yang juga berusaha menutupi rasa canggung. “Besok pagi, aku ke kantor Bathara itu.”
“Aku anterin, ya,” tawar Al.
“Nggak usah. Aku dijemput sekretaris kantor itu, kok. Ada beberapa proses juga perlu dilakukan. Jemput di kosan pas mau berangkat kerja aja, ya,” tolak Embun dengan halus.
“Siap, Bos.” Mereka memang sepakat untuk berangkat dan pulang kerja bersama. Bahkan, Al sudah mengatur jadwalnya agar sesering mungkin bisa satu shift dengan Embun.
“Aduh, dadaku sakit, Mbun.” Al tiba-tiba meringis.
Tentu saja Embun sangat terkejut melihat perubahan ekspresi kekasihnya itu.
“Kamu nggak papa, Al?” Embun memegang lengan Alaska. Dia menatap khawatir.
“Kamu ... sudah mengaduk-aduk hatiku dari tadi.” Alaska tertawa terpingkal-pingkal. Embun meraih telinga kanan Al dan menjewer dengan keras.
“Aduh, aduh. Ampun. Kan, cuman becanda.” Pemuda itu berusaha melepaskan telinga dari jemari lentik Embun. Namun, gadis itu benar-benar kuat memegang dan menariknya.
“Kebiasaan. Bikin orang kaget dan khawatir aja,” seru Embun gemas, lalu melepaskan jeweran.
“Cie ... cie ... yang mengkhawatirkan aku. Cie ... cie.” Alaska dengan gembira menggoda gadis itu.
“Udah, yuk. Waktu istirahat udah mau habis ini.” Embun mengajak Al untuk kembali bekerja. Mereka berdua beranjak meninggalkan ruang makan karyawan untuk kembali ke restoran.
Sementara di sebuah sisi lain, dalam kamar sebuah apartemen, Pandu sedang sibuk memandangi kaktus yang telah dia beli.
Kaktus ini sangat tepat untuk menggambarkan kepribadian Embun. Bukan sesuatu yang romantis, tetapi mampu bertahan dalam situasi sulit, gersang, bahkan panas sekalipun. Dia tetap menyimpan kesejukan di dalam. Dia menumbuhkan duri di sekujur tubuh untuk melindungi diri. Terlihat garang, tetapi lembut di dalam.
Dia indah dipandang, tetapi tak mudah untuk digenggam. Dia hanya butuh sedikit siraman untuk membuatnya bertahan hidup. Orang yang tidak akan banyak menuntut dan meminta. Dia akan selalu menghargai serta bersyukur atas kenikmatan meski hanya setitik.
Bunga cantik di sekeliling Pandu memang banyak. Bahkan, mereka dengan sukarela akan memberikan madu tanpa harus terlalu keras berupaya. Namun, pria itu bosan melihat wanita dengan balutan pesona yang terkesan dibuat-buat. Palsu!
Tawa renyah, terdengar mesra, tetapi hanya rentetan suara penuh drama di telinganya. Para wanita itu tergoda paras tampan, tubuh atletis, hartawan, yang memang dengan susah payah dia pahat dan tentu kemapanan yang dia miliki dengan kerja keras.
Pandu inginkan wanita yang lebih memandang hati, juga dirinya sebagai seorang pria atau manusia, tanpa embel-embel lainnya. Rupanya, Pandu belum paham bahwa sejak dulu begitulah cinta. Datang dari mata, lalu turun ke hati dan sering kali naik lagi ke mata, lalu turun lagi sebagai air mata.
Bukankah semua manusia menyukai keindahan? Bohong jika harus mengabaikan paras tampan yang dia miliki dan tubuh atletis yang sudah dia jaga sedemikian rupa hanya untuk mengenali hati serta dirinya sebagai manusia.
Bukankah Embun tertarik juga karena tatapan mata dia? Atau mungkin itu tidak termasuk kategori menyukai paras? Terlalu dini untuk mengatakan jatuh cinta pada hati, sementara mereka baru saja saling mengenal. Bahkan, yang sudah mengenal bertahun-tahun pun belum tentu bisa mengenali hati dan kepribadian seseorang, kok.
[Jangan lupa besok pagi jam tujuh ya, Mbun.]
Pandu mengirimkan pesan singkat. Dia tahu, gadis itu sedang bekerja. Jadi, dia tidak berani mengganggu dengan menelepon, meski dalam hati dia ingin sekali mendengar suara gadis itu.
Ah, rasanya sudah tak sabar menunggu besok pagi, batin dia.
Lama tak ada balasan dari Embun, Pandu memutuskan untuk mengerjakan beberapa pekerjaan karena besok dia akan meninggalkan kantor sampai siang.
Sekitar pukul sembilan, Pandu sudah terlelap tidur. Pukul sepuluh malam, Embun telah selesai bekerja. Berdua dengan Alaska, mereka menuju loker karyawan untuk mengambil tas serta jaket yang disimpan di sana. Iseng, Embun mengecek telepon genggam yang sedari tadi dia simpan di dalam loker. Peraturan perusahaan memang melarang karyawan untuk membawa telepon genggam selama bekerja.
Ada sebuah pesan dari Pandu. Segera dia buka. Gadis itu tersenyum simpul membaca pesan dari Pandu. Tak ada yang istimewa dari pesan tersebut, tetapi entah kenapa bibirnya tak kuasa untuk melebar, menyunggingkan sebuah senyuman.
“Ngapain senyum-senyum? Coba lihat.” Al berusaha mengintip pesan yang dibaca oleh Embun.
“Nih. Aku seneng karena besok jadi ke kantor itu. Biar cepet berangkat.” Embun menunjukkan pesan tersebut pada Al.
“Kamu sudah nggak sabar ya pengen segera pisah sama aku? Kayaknya cuman aku doang yang ngerasa berat dengan perpisahan ini, kamu enggak. Aku jadi takut kalau ini akan benar-benar misahin kita, Mbun,” ucap Al lesu.
“Hus, nggak usah mikir macam-macam. Kamu sendiri yang bilang, kita jalani aja semuanya dengan santai. Iya, kan?” Embun menyenggol tubuh pria itu dengan lengannya.
Al hanya mengangguk pasrah.
“Itu kenapa jam tujuh? Kantor kan buka palingan jam delapan.” Al memandang curiga.
“Bosnya ... minta jam delapan ketemu. Jadi ... jam tujuh biar aman. Berangkatnya ... biar nggak telat maksudnya,” jawab Embun sedikit tergagap. “Daripada telat. Masa ketemu pertama udah telat. Kan, nggak enak, Al.”
“Ya, sudah. Besok kabarin aja kalau sudah sampai di kantor. Kalau butuh apa-apa, kabarin juga.” Al coba menepis keraguan.
“Iya. Doakan besok semuanya lancar ya, Al. AKu berharap banget bisa kerja sama dengan mereka. Buat peningkatan hidup kita juga ke depannya. Yuk, pulang.” Embun menggamit lengan kiri Al dan memeluk erat. Dia berusaha menghilangkan kegusaran pemuda itu sekaligus rasa bersalah dalam dirinya sendiri yang tiba-tiba menyelinap tanpa izin.