Embun

1396 Kata
Perbedaan membuat kita saling jatuh cinta Persamaan membawa kita mengikat cinta Jadi tak perlu lagi berdebat tentang sama dan beda Keduanya ... menyatukan kita ***** “Bik!” Lady berteriak keras. Wanita yang dipanggil Bik Maneh, datang dengan tergesa-gesa. “Aya naon, Non?” tanyanya. “Bikinin teh sama kopi,” jawab Lady singkat. “Iya, Non. Siap.” Bik Maneh segera kembali ke dapur. Dalam hati, dia bertanya-tanya melihat kedua majikannya mandi keringat, seperti habis berolahraga. Ah, itu mah urusan mereka, tegur Bik Maneh pada diri sendiri sembari cekikikan. “Honey, kamu ada referensi dokter yang bisa kita andalkan untuk rencana kita?” tanya Kala. “Ada. Untuk urusan dokter, semua biar gue yang urus. Tugas lo, cari wanita yang mau kita sewa rahimnya. Gue juga akan bantu cari, kok. Mana yang duluan dapet aja, ya,” jawab Lady bahagia karena akhirnya Kala setuju juga untuk menyewa rahim. “Jadi, kita mau anak cowok apa cewek, Honey?” tanya Kala. “Kembar aja sekalian, cowok cewek. Jadi, kita nggak perlu sewa-sewa lagi. Sekali kerja, dapat dua anak. Lebih praktis, kan?” jawab Lady sambil menyandarkan kepala di bahu kanan sang suami. Dia menggenggam erat tangan Kala. “Benar juga, sekali jalan. Kamu benar-benar cerdik,” puji Kala, mengecup ringan rambut Lady. “Tapi semua itu dilakukan tanpa seks loh, ya. Jangan harap lo bisa awok awok sama dia,” tegas Lady. “Hahaha. Duh, kenapa harus jealous, sih. Iya lah. Fokusnya kan bukan cari selingkuhan atau istri baru, tapi anak.” Kala tertawa bahagia melihat istrinya sedikit cemburu. “Syukurlah. Gue potong titot lo kalo sampe berani selingkuh, terus gue kasih ke gukguk tetangga biar dimakan sampai habis,” tukas Lady. Sebenarnya, ada sedikit rasa bersalah menghinggapi diri Lady karena mereka harus menyewa rahim orang lain untuk memiliki keturunan dan bukan dari rahim dia. Sejak awal menikah, Kala sudah mengungkapkan niat untuk segera memiliki anak. Namun, Lady selalu mengatakan bahwa dia belum siap. Tiga tahun memang sudah terlalu lama untuk menunda punya momongan. Syukurlah, akhirnya pria itu setuju dengan ide sewa rahim. Kala bukan tipe pria romantis, tetapi dia adalah pria yang baik. Lady tak pernah meragukan itu. Mereka sama-sama berasal dari keluarga konglomerat. Kehidupan yang mereka lalui sejak kecil, bisa dibilang hampir serupa. Hanya saja, Lady lebih ceria dan sosialita dibandingkan Kala yang lebih serius dan lebih suka menghabiskan waktu dengan bekerja.   Hal menyolok yang membedakan Kala dengan pria kaya lain di sekitarnya adalah sikap tidak merendahkan orang lain dan tak pernah mengandalkan uang untuk menyelesaikan apa pun. Pria ini bukan orang yang mendewakan harta dan merasa bahwa apa pun bisa dibeli. Bagi Lady, Kala adalah sosok pria kaya yang sangat bermoral. Karena itulah, dia tahu bahwa tidak mudah bagi sang suami untuk menyetujui ide sewa rahim yang bisa dibilang masih kontroversial untuk adat ketimuran. Bik Maneh datang membawa minuman dan kudapan untuk mereka. “Taruh di situ aja, Bik,” kata Lady sambil menunjuk meja di depannya. “Ashiap, Non.” Pembantu bertubuh gendut itu menjawab sambil menahan senyum melihat dua majikannya mesra. Masih kurang kayaknya. Bik Maneh cekikikan dalam hati. “Ngapain senyum-senyum, Bik? Lagi jatuh cinta?” tanya Kala. “Buahahaha. Aden mah bisa aja. Suami Bibik mau dikemanain atuh, Den?” Kesempatan baginya untuk melepas tawa tanpa dicurigai kedua majikan. “Terus, kenapa senyum-senyum kayak gitu?” tanya Kala lagi. “Ah, Aden mah. Bibik teh seneng aja liat Non sama Aden mesra gitu. Kalau kata anak zaman now, ada konektivitas, sejenis Wifi atau Bluetooth gitu,” jawab Bik Maneh sambil tersipu dan memilin rambut ikalnya. “Hahaha. Gaul banget sih, Bik. Kebanyakan nonton toktok, sih. Udah sono, gue mo lanjut mesra-mesraan. Awas, jangan ngintip, ya.” Lady terbahak mendengar jawaban pembantu kesayangannya itu. “Don’t worry be happy, Non. Aman terkendali, kok.” Bik Maneh berlalu sambil mengedipkan satu mata. “Hahaha. Dasar pembantu satu itu. Tuhan, bersyukur banget dia bisa jadi hiburan.” Kala juga tak  mampu menahan tawa melihat kelakuan wanita paruh baya yang masih terlihat energik dan penuh semangat itu. Mereka kemudian melanjutkan diskusi tentang rencana sewa rahim. Lady akan segera mempersiapkan dokter dan segala sesuatunya, sementara Kala akan meminta Pandu, sekretaris pribadinya, untuk menyiapkan perjanjian bersama tim legal dan mulai mencari kandidat yang sesuai untuk disewa rahim. “Oke. Fix semua, ya. By the way, kita makan malam di luar, yuk. Kita rayakan kesepakatan hari ini,” kata Kala. “We have to shower now, Bee. Bareng, yuk.” Lady berucap manja.  Mereka berdua beranjak bangkit dari sofa dan menuju kamar mandi pribadi di ruang tidur. Berada di bawah shower berdua merupakan salah satu momen favorit mereka. Saling memandang wajah dan mengagumi tubuh, juga memberikan sentuhan-sentuhan kecil menjadi momen kebersamaan yang istimewa bagi mereka sambil sesekali bibir bertaut dan meratakan sabun di tubuh pasangan. “Not now, Bee. Nanti aja after dinner,” cegah Lady melihat Kala mulai b*******h lagi. “Hahaha, oke. Udah, yuk.” Kala mematikan shower, lalu mengambil handuk untuk Lady dan dirinya sendiri. Mereka menuju ruangan wardrobe. Lady memilih baju terusan selutut berwarna biru dengan dua buah tali kecil di bahu. Sederhana, tetapi tetap seksi. Melihat istrinya memilih gaun biru, Kala sengaja mengambil kaos rajut lengan panjang berwarna senada, kemudian mengenakan celana jeans hitam ketat dengan sobekan kecil di kedua lutut. Kala mengarahkan mobilnya menuju Crown Hotel di kawasan Jakarta Pusat. Tempat kenangan saat masih PDKT dulu. Di masa itu, mereka sering menghabiskan malam di restoran yang menjadi salah satu fasilitas hotel bintang lima tersebut. Selain suka dengan pemandangan kota dari ruangan itu, Lady sangat menyukai tuna steak andalan mereka. Lady dan Kala memilih meja paling ujung, persis bersebelahan dengan dinding kaca bangunan tersebut. Meja itu favorit mereka dari dulu. Kala sengaja memilih meja itu supaya bisa berbincang dengan lebih nyaman sambil menikmati pemandangan kota yang penuh gemerlap lampu. Dua orang gadis cantik segera datang menghampiri mereka. “Tuna Steak 2, Americano Coffee, dan Hot Lychee Tea, please,” kata Kala pada salah satu gadis itu sambil menolak buku menu yang disodorkan. “Baik, Pak,” jawab pelayan tersebut, sementara gadis satu lagi menuangkan air putih di gelas mereka. “Bee, waitress tadi lumayan cantik, loh,” ucap Lady setelah pelayan restoran berlalu dari meja mereka. "Yang mana?" tanya Kala karena tadi ada dua orang waitress yang melayani mereka. Dia tidak tahu, mana yang dimaksud cantik oleh Lady.  "Yang nuangin air putih untuk kita," jawab Lady sambil menatap ke punggung gadis yang melangkah menjauh itu. “Terus? Maksudnya?” Kala masih tidak mengerti arah pembicaraan sang istri. “Coba Pandu suruh selidiki dia. I have a good feeling on her,” jawab Lady. Kala ikut memandang waitress itu dari kejauhan. Memang terlihat cukup menarik, walau tidak secantik Lady tentunya. “Kenapa kamu milih dia?” tanya Kala penasaran. “Sudah beberapa kali tiap kita ke sini, gue ngerasa klik aja sama dia. Sepertinya dia pendiam, tertutup, gadis baik-baik. Gue sering liat sorot mata dia yang sedih dan kesepian. Lo tahu kan feeling gue ini kuat?” kata Lady penuh keyakinan. Memang, wanita di hadapan Kala ini punya feeling yang kuat dalam menilai seseorang. Sudah sering dibuktikan. Berulang kali penilaian dia terhadap partner bisnis ataupun karyawan memang tidak pernah meleset. “Jadi, besok suruh Pandu mulai selidiki itu cewek. Kalo emang cocok, kita bisa segera sewa rahimnya.” Lady memberikan penegasan. “Oke,” jawab Kala singkat. Dia tidak menyangka, secepat ini mereka menemukan kandidat. Ya, walau masih belum tahu kepastiannya. Tak selang berapa lama, gadis itu datang lagi membawa minuman ke meja Kala. “Terima kasih, Mbak ....” Kala sengaja memancing gadis itu untuk menyebutkan namanya. “Embun, Pak. Silakan, Pak, Bu. Untuk tuna steaknya, mohon ditunggu sebentar,” jawab gadis itu ramah. “Terima kasih ya, Mbak Embun,” ucap Lady sembari tersenyum. “Sama-sama, Bu.” Gadis itu menganggukkan kepala, lalu melangkah menjauh.  “Apa saja yang bisa kita tawarkan pada kandidat sewa rahim?” tanya Kala. “Uang. Kasih aja satu miliar. Kalo masih kurang, bisa kita tambah lagi. Selama masa kehamilan sampai melahirkan, semua biaya hidup dan keperluan apa pun kita yang tanggung. Dia bisa tinggal di villa kita di Bogor, tapi tidak boleh menemui siapa pun. Kontrak berakhir setelah dia melahirkan. Selebihnya, bicarakan saja pasal demi pasal dengan tim legal agar aman.” Lady memberikan penjelasan tegas pada sang suami. Kala mengangguk-anggukkan kepala.    
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN