Aku inginkan tiga hal
Jangan beri lebih
Juga jangan kau kurangi
Tiga saja, itu cukup
***
“Sudah siap?” Kala menunggu Lady mengiakan ajakannya. Pagi ini, mereka ingin mendengarkan penjelasan langsung dari Pandu setelah dia bertemu dengan Embun. Kala sudah tidak sabar ingin segera tahu perkembangan rencana besar mereka.
“Ayo, Bee. Gue juga penasaran dengan laporan Pandu soal gadis itu.” Lady beranjak dari duduk dan melangkah di samping Kala.
“Menurutmu, kabar baik atau buruk yang akan dibawa oleh Pandu, Honey?” tanya Kala sedikit cemas.
“Untuk apa dipertanyakan lagi. Kita dengar saja nanti. Kalau berhasil, itu bagus. Kalau gagal, ya ... kita cari gadis lain. Dibuat simpel aja, Bee,” jawab Lady tenang.
Ya, dia sudah bisa tenang. Setidaknya, masalah dokter sudah terselesaikan. Kalau soal mencari kandidat, itu urusan yang jauh lebih mudah dibandingkan dengan urusan menemukan dokter yang tepat untuk rencana mereka.
“Oke.” Kala manggut-manggut.
Berdua masuk ke mobil dan segera meluncur ke kantor Kala. Tidak banyak percakapan selama di perjalanan. Sesekali berbincang santai karena Kala lebih sibuk dengan telepon genggam, begitu juga dengan Lady. Kala sibuk dengan pekerjaan, sementara Lady sibuk dengan teman-temannya.
Perjalanan hampir satu jam, mereka akhirnya tiba di ruangan Kala. Pandu mengekor di belakang dua bosnya. Dia duduk di hadapan Lady dan Kala setelah sepasang suami istri itu menghempaskan tubuh di sofa panjang, duduk berdampingan.
“Jadi, bagaimana hasil pertemuanmu dengan Embun?” Kala langsung bertanya dengan tidak sabar.
“Sejauh ini semua berjalan lancar, Pak. Embun akan mempertimbangkan semuanya dalam beberapa hari ini. Ada beberapa poin juga yang sudah dia ajukan untuk kita. Saya butuh jawaban dari Bapak dan Ibu untuk kemudian saya sampaikan pada dia. Pertama, soal uang jasa, dia sebesar lima milyar. Kedua, soal villa, dia minta villanya di Lampung saja.”
Pandu lantas menjelaskan alasan Embun memilih Lampung sebagai tujuan pengasingan. Kala mengulum senyum. Dalam hati, dia kagum dengan kejelian gadis itu. Gadis itu terkesan polos, tetapi ternyata penuh pertimbangan.
“Ketiga, dia minta ketemu dan bicara dulu dengan dokter yang akan menangani semua proses ini. Mungkin, dia juga ingin memastikan keselamatannya bahwa dokter yang kita adalah dokter profesional atau mungkin dia meminta dokter itu untuk mengawasi semua proses sampai selesai, termasuk menjamin keselamatan dia pasca melahirkan.” Pandu melanjutkan pemaparannya.
“Ketemu sama dokter? Menjamin keselamatan pasca melahirkan? Apa maksud semua itu, Pandu?” Kala tidak mengerti. Dia menatap keheranan pada sekretarisnya itu.
“Menurut analisa saya, Embun punya kekhawatiran bahwa kita akan membunuh dia setelah melahirkan. Mungkin, karena semua proses ini dilakukan secara rahasia dan tidak ada yang boleh tahu selain dari pihak kita. Wajar saja dia berpikir sampai sejauh itu, mengingat tidak ada satu orang pun dari pihak dia yang tahu soal kerja sama ini, bahkan pacar baru dia. Dokter adalah satu-satunya pihak paling netral yang tidak ada sangkut pautnya dengan kita. Ya, meski sebenarnya tidak juga. Bisa saja dokter memihak kita sebagai pihak yang punya uang, kalau mau curiga lebih dalam.” Pandu memberikan penjelasan.
“Smart girl. Cerdas, tapi rasional. Dia tidak menentang rencana ini, itu bagian terpentingnya,” ucap Kala kagum.
“Wait, kamu bilang dia punya pacar baru? Terus, apa tidak akan jadi masalah? Biasanya pacar baru itu maunya nempel terus. Nggak akan mau pisah, apalagi dalam jangka waktu yang lama.” Lady justru menyoroti tentang pacar baru Embun. Dia teringat pada hubungan dirinya dengan Broto. Broto tidak bisa lepas dari dia, bahkan baru beberapa jam saja sudah bilang rindu dan ingin bertemu, apalagi Embun dan pacar barunya. Mereka masih gairah muda. Mestinya, jauh lebih menggebu daripada Broto dan dirinya.
“Dia bilang, dia akan mengatasi semua itu. Dia gadis yang sangat cerdas. Dia pasti punya cara baik untuk itu,” jawab Pandu.
“Oke. Yang penting kamu sudah jelaskan bahwa selama di villa, dia tidak boleh berkomunikasi apalagi bertemu dengan siapa pun,” tegas Lady sedikit mendongak sambil menyilangkan tangan di perut.
“Sudah, Bu. Semua sudah saya jelaskan dengan detail dan rinci. Dia juga paham itu.” Pandu berucap tegas sambil menganggukkan kepala
“Bagus. Poin pertama dan kedua, setujui saja. Soal uang, kami tidak masalah. Soal villa, kamu cari yang sesuai dengan kriteria dan keinginan dia saja. Pastikan dia nyaman di sana.” Pandu mengambil keputusan.
“Lalu tentang ketemu dengan dokter, itu boleh juga. Kabari saja dia maunya kapan. Saya akan aturkan jadwalnya. Jangan mendadak, karena dokter juga padat jadwalnya.” Lady angkat bicara karena urusan dokter adalah bagian dia. Wanita itu tersenyum puas. Intuisi dia mengatakan bahwa Embun pasti akan menerima tawaran mereka.
Gadis secerdik Embun tentu tidak akan melewatkan kesempatan baik seperti ini. Hanya menerima beberapa tetes cairan untuk disematkan dalam rahim, bersantai selama sembilan bulan, selesai. Tak perlu bersusah payah cari uang banyak. Nilai lima milyar, bukan nilai yangs edikit. Belum tentu dia bekerja seumur hidup bisa mengumpulkan uang sebanyak itu, batin Lady.
“Terlalu bodoh kalau ada orang miskin yang menolak tawaran menggiurkan seperti ini. Jadi, dia pasti menerima tawaran kita. Dia bukan gadis yang bodoh,” ucap Lady penuh keyakinan.
“Ditambah lagi, dia dikejar utang. Hidupnya sulit. Dia pasti akan menerima ini sebagai rezeki dadakan. Malahan, bisa jadi dia anggap ini adalah pertolongan dari Tuhan.” Lady tersenyum sinis.
Kala memandang istrinya. Dia selalu percaya penuh pada intuisi wanita itu. Kalau dia sudah mengatakan bahwa Embun pasti menerima tawaran mereka, dia pun yakin itu akan terjadi. Lady tidak akan bicara sembarangan dan tanpa pertimbangan.
“Semoga, Bu. Hari ini, saya akan coba temui Embun lagi untuk menyampaikan kabar bahwa kita menyetujui semua permintaan dia,” kata Pandu.
“Harus ketemu? Jaman sudah modern, telepon saja. Untuk apa menghabiskan waktu?” tegas Lady.
“Sekalian mendorong dia untuk segera menandatangani perjanjian, Bu. Negosiasi akan jauh lebih efektif dengan tatap muka.” Pandu memberikan alasan logis pada bos wanitanya itu.
Lumayan bisa ketemu Embun. Enak aja mau menghalangi, pikir Pandu.
“Betul juga. Pastikan dia tidak berpikir terlalu lama.” Kala sependapat dengan Pandu.
“Oke, terserah kalian. Tapi menurutku, Embun bukan tipe yang mudah dibujuk. Beri dia alasan dan masukan yang rasional. Itu akan jauh lebih efektif daripada sekadar membujuk dengan pepesan kosong.” Lady bangkit berdiri. “Saya masih banyak urusan lain. Bee, gue cabut dulu, ya. Bye.”
“Hati-hati, Honey.”
“Selamat jalan, Bu,” ucap Pandu sembari bangkit berdiri dan menunduk hormat.
“Kamu pikir saya mau mati? Pakai selamat jalan segala.” Wanita itu berlalu meninggalkan ruangan.
Salah lagi, batin Pandu. Dia menyesal harus menyapa dengan cara seperti itu.
“Hahaha. Kamu sudah hafal sifat istri saya, kan? Jangan terlalu diambil hati. Ada beberapa hal yang saya perlu diskusikan dengan kamu.” Kala melihat semburat masam di wajah Pandu karena ucapan istrinya. Berdua, mereka melanjutkan diskusi dan perbincangan terkait pekerjaan.