CHAPTER 2

1395 Kata
CANDICE EMRYS KUDAPAN yang sempat kusantap pagi tadi terasa bergejolak di alat pencernaanku. Aku tidak bisa menahan keinginan untuk tidak memeluk perutku yang melilit mual. Meski sesuatu yang sempat menyedot tubuhku tidak berlangsung sampai tujuh detik, namun imbasnya masih tak kunjung raib hingga detik ini. Tetap dalam kondisi terpejam dengan tubuh sedikit membungkuk, aku mulai menerka sesuatu yang baru saja menyedotku dari pintu janggal tersebut. Aku kembali membuka sepasang mata dan mengerjap beberapa kali untuk memastikan visualku kalau-kalau sedang mengalami kesalahan program. Berakhir di suatu tempat yang berbeda dari lokasi pertama tidaklah mungkin terjadi untuk seorang manusia biasa semacamku. Namun, setelah berkali-kali berkedip tanpa membuahkan hasil, yang kudapatkan hanyalah satu petak ruangan kosong dengan ukuran tak jauh berbeda dari perpustakaan mini. Seraya bertanya-tanya di dalam hati, aku beringsut dengan sempoyongan, meninjau apa pun yang tidak tampak dalam visualku. Sejauh kutinjau, tidak ada satu pun ventilasi dan jendela di sini—bahkan pintu sekali pun. Benar-benar sesuatu yang ajaib dan mengherankan, sampai-sampai suara decakan lolos dari bibirku. Batinku terus bertanya-tanya dengan berbagai rasa penasaran yang berkecamuk—bercampur aduk menjadi satu. Tanpa aksesibilitas semacam pintu dan celah masuk lainnya, bagaimana aku dapat berakhir di ruang sepetak ini? Tanpa sadar, langkahku tiba tepat di tengah ruangan. Aliran janggal tebersit di sekujur tubuhku ketika aku melintasinya. Baru saja aku hendak meneruskan langkah kembali, mendadak pendaran cahaya berspektrum penuh warna muncul dan bergerak membentuk pusaran spiral di tengah-tengah ruangan. Lama-kelamaan, spektrum itu menjelma menjadi sebuah telur berukuran sedang—kurang lebih dengan panjang lima belas senti dan mempunyai lebar delapan senti. Permukaan kulit telur itu berwarna biru muda dengan lambang kepingan salju di tengahnya. Sesuatu yang berada di dalam telur berlambang kepingan salju itu bergerak dan menghasilkan sebuah vibrasi renik. Ketika aku mulai mendekatinya dengan langkah skeptis, vibrasi telur tersebut semakin menjadi-jadi, seakan-akan ia mengetahui sesuatu yang besar—yakni aku sendiri—tengah mendekatinya dan ia perlu waspada. Jika aku sedang dalam keadaan lapar dan tentu juga dalam kondisi yang kondusif, bisa saja aku langsung tergoda untuk membawanya ke dapur dan memasaknya sebagai kudapan malamku nanti. Tetapi, kini situasinya berbeda dan aku tidak tahu-menahu apa yang tengah terjadi di sini; Berakhir di ruangan aneh tanpa aksesibilitas, dan; Menemukan telur yang ukurannya melebihi batas kelaziman. Kedua tanganku terulur untuk menggapai benda berbentuk bundar tersebut dengan penuh hati-hati. Aku tidak ingin menjatuhkan telur aneh itu dan membuat makhluk di dalamnya mati secara mengenaskan, jadi aku merengkuhnya di depan d**a untuk memberikan kehangatan yang signifikan. Vibrasi itu semakin terasa. Cahaya putih yang membutakan muncul dari balik telur tersebut dan melepaskan diri dari dalam rengkuhan. Aku hampir saja berteriak jika tidak mengingat bahwa aku perlu berpejam kembali untuk menghalau cahaya itu masuk ke dalam visualku dan merusak kerja indra penglihatku. Lima detik setelahnya, instingku memberikan titah untuk kembali membuka mata lebar-lebar, jadi aku langsung menaatinya. Sesosok makhluk bertanduk tampak sedang melayang tepat di depan hidungku. Ukurannya tidak jauh berbeda dari telur tadi, hanya lebih kecil beberapa senti saja. Kedua sayap mungilnya terus mengepak-ngepak dengan eloknya. Rupanya sebelas dua belas dengan makhluk mitologis berjenis pegasus. Tanpa sadar, tanganku terulur tepat di depannya. Ia langsung menghempaskan diri ke dalam tanganku dan mengusapkan moncongnya di pipiku. Surai biru lembutnya mampu menciptakan hasrat untuk meremas dan menjadikannya sebagai boneka tidur di malam hari—bisa juga sebagai bantal dan guling. Namun, aku tidak sekeji itu untuk melakukannya, karena jelas-jelas saja aku masih memiliki hati. Pasalnya, saat aku mengingat kembali asal mula makhluk aneh itu yang cukup tidak wajar, apakah hak asasinya akan terambil jika aku menghempaskannya? Aku mengurungkan niat untuk menghempaskan tubuhnya ketika ia mengeluarkan ringkik kecil yang membuatku merasa gemas setengah mati. Makhluk itu merangsek keluar dari rengkuhan, kemudian melayang di depan mataku lagi. Sepasang mata besarnya meninjauku sambil sesekali berkedip, seirama dengan kepakan sayap mungilnya. Bila kuperhatikan lebih cermat, kedua sayapnya turut diselubungi oleh surai biru yang sama dengan tubuhnya. Salah dua dari keempat kaki mungilnya berputar searah jarum jam, kemudian gemuruh terdengar menyusul tatkala ia menghentikan rotasi pada bagian kedua kakinya. Tidak lama setelah itu, muncul lima undakan yang mengarah ke sebuah pintu persegi panjang—selaras dengan pintu tersembunyi tadi—masih dengan sinarnya yang dapat membutakan visualisasi para penglihatnya. Termangu seperti orang sinting—yang kuharap akan menjadi kali terakhirnya berlaku seperti itu—hanya satu-satunya reaksi yang dapat kutampakkan untuk saat ini. Rentetan peristiwa yang berlangsung kurang lebih satu jam ini tidak ada lazim-lazimnya sama sekali, bahkan aku sendiri tengah mempertanyakan dalam hati tentang kondisi kejiwaanku kali ini. Pegasus versi kecil itu memelesat terbang menuju pintu persegi panjang tersebut. Sebelum ia benar-benar masuk, makhluk aneh (dan imut) itu berbalik sejenak dan menggerakkan satu kaki depannya, seakan-akan memanggilku untuk turut menyusul entah ke mana. Kendati demikian, ia sudah terlanjur masuk sebelum aku benar-benar mempersiapkan jiwaku untuk menghadapi peristiwa kelanjutannya. Butuh beberapa detik bagiku untuk mengumpulkan kesadaran hingga penuh, lalu beringsut menyusul makhluk itu dengan beragam pertanyaan tak terjawab di akal sehatku. Berderap langkah skeptis, kedua tungkaiku mulai menaiki satu per satu undakan. Sepasang mataku memicing, berusaha untuk tidak membiarkan satu pun sinar membutakan itu merangsek ke balik kelopak mataku hingga membawa dampak kebutaan permanen. Lagi, aku merasakan tubuhku tersedot oleh sesuatu tak kasat mata begitu aku mencapai puncak undakan. Dan tahu-tahu saja, aku tidak lagi berada di sini. * Bulevar membentang luas, memaparkan sejumlah kemeriahan Kota London yang kali pertamanya kulihat berdasar pengalaman pribadi. Cukup lama untuk menarik kesadaranku kembali dan selama itu pula kakiku bergerak menelusuri kota metropolis tersebut dalam kondisi kebingungan setengah mati. Kejanggalan ini terjadi bukan hanya satu atau dua kali. Namun, kewarasanku jelas masih utuh dan terkendali. Berdasarkan jenis pakaian yang dikenakan oleh para pedestrian—bermantel tebal dengan bahan wol—dan suhu lingkungan yang cukup rendah untuk membuatku berhasil menggigil, sekarang adalah musim dingin. Tanggal tujuh, bulan dua belas—satu hari sebelum usiaku bertambah satu tahun menjadi tujuh belas. Mengingat kami baru memasuki Bulan Desember, kepingan salju masih belum bertebaran di sudut kota. “Mom, coba lihat kakak itu! Bonekanya lucu sekali!” Sepasang mataku berpindah ke satu titik—seorang bocah lengkap dengan mantel tebalnya sedang mengacungkan jari telunjuk dari bulevar satunya. Apabila aku tidak cepat-cepat mengikuti arah acungannya, mungkin saja aku akan mengira si bocah tengah menunjuk ke arah dadaku dan menduganya sebagai boneka. Namun, yang kutemukan ketika sepasang mata hijauku bergerak menurun adalah makhluk aneh tadi—bertingkah seperti benda mati dan seakan-akan tak pernah hidup. Ialah sesosok makhluk—yang entah bagaimana caranya—dapat membebaskanku dari pengekangan seorang Candice Emrys di rumah sepetak, yang berkemungkinan besar akan terus berlangsung seumur hidup. “Jangan berlagak mati!” Aku mengangkat makhluk tersebut dan mengguncangkan tubuh mungilnya beberapa kali di udara bebas, namun ia terlampau cerdas untuk bersandiwara sebagai sebuah boneka biasa. “Katakan. Apa yang sedang terjadi kepadaku?! Semua benar-benar terjadi di luar akal sehat.” Ketika usahaku berujung waktu yang terbuang-buang saja, bisa kurasakan berpasang-pasang mata dari para pedestrian tengah melihat ke arahku penuh heran—mungkin mereka tak pernah sekali pun terbiasa melihat seorang remaja berbicara dengan sebuah benda mati. Andaikan mereka tahu kebenarannya, maka sudah pasti akan berlari kocar-kacir karena makhluk itu sebenarnya hidup. Bocah tadi telah dituntun pergi oleh sang Ibunda saat mataku tidak menemukan lagi keberadaan mereka di sana. Setengah mendengus, aku meneruskan langkah kembali seraya menahan diri untuk tidak membuang makhluk—imut—aneh tersebut dari rengkuhanku. Arah pandang berpasang-pasang mata itu masih mengikutiku saat aku mulai melintasi barisan bangunan yang tersusun dengan apik. Kurasa mereka akan berhipotesis tentangku sebagai bocah edan setelah ini. Mengesampingkan serangkaian peristiwa menjanggal pada hari ini, berada di alun-alun kota yang jauh dari pengawasan Paman Miles dan Bibi Harlow sudah dipastikan menjadi peluang terbesarku untuk melarikan diri. Kejenuhanku bahkan sudah terbayar telak pasca melintasi Kota London tanpa mengacuhkan tatapan para pedestrian—karena reaksiku bak orang sinting, tentu saja. Sentuhan mendadak di lenganku dari seorang berjubah hitam yang berpapasan denganku sontak mengalihkan atensiku dari bangunan-bangunan tersebut. Bahkan, aku tidak sempat melihat wajahnya ketika kurasakan percikan hitam muncul dari sisi telapak tangannya. Percikan itu sedikit menimbulkan rasa nyeri di permukaan kulit, namun tak cukup membuatku menjengit kaget. Begitu aku berupaya untuk berkelit darinya, rasa mual kembali menyiksa perutku. Seakan-akan sudah lumrah terhadap apa yang tengah menanti kepadaku setelah ini—sampai-sampai aku tak lagi acuh dengan kewarasanku sendiri—aku cukup positif terhadap pemikiran ‘barangkali tubuhku akan tersedot kembali oleh sesuatu yang sama’; … untuk ketiga kalinya.[]
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN