CANDICE EMRYS SATU kali. Dua kali. Tiga kali. Aku dapat menghitung berapa kali reranting pohon di edaran Hutan Imogen saling memukul dan menciptakan gemertak intimidasi. Setiap pukulan terdengar ritmis, pun dengan menit-menit yang berlalu sebab termakan waktu. Memikirkan spekulasi ketimbang melakukan sesuatu seharusnya tidak kulakukan pada saat genting seperti ini. Sepasang mata merah darahnya masih belum lepas dariku—memandang penuh kehausan yang dapat ia tahan secara mati-matian. Posisi kami masih sama seperti dua menit yang lalu. Aku terlalu kaku untuk beringsut dari tempat, namun pikiran untuk melarikan diri dari pemuda itu sama sekali tidak terlintas di otak. Setidaknya, sebelum aku melihat dua taring mencuat dari kedua sisi mulutnya. Pemuda itu belum bergeser dari tempatnya berlu

