SETIBA Graham di Desa Fallen pasca berselindung kabur dari pengawasan sang pemimpin guna membayar kerinduannya terhadap sang istri dan buah hati, kemurkaan langsung membuncah deras di jiwanya seperti erupsi gunung api. Pemuda bersurai biru tua itu mendapatkan fakta bahwasanya sang istri telah mati akibat kelaparan. Niatnya untuk melepas rindu langsung sirna—tergantikan oleh selimut duka. Belum lagi, sang buah hati diungsikan menuju pusat rehabilitasi akibat syok menderanya. Perasaan di benak pemuda itu bercampur aduk menjadi sesuatu yang tidak dapat digambarkan secara rinci. Graham sangat kecewa dan benci dengan Tedros, sebab pria bermata ungu tua itu tidak memenuhi janjinya barang sedikit pun. Alih-alih bertemu dengan Maeve dalam raga sehat dan memadai, Graham malah menemukan batu nisan

