Setelah mengantar Jemima bekerja, Andrew berkendara menuju perusahaannya. Sepanjang jalan tak sedetik pun senyuman luput dari bibirnya. Semua karena Jemima, dan Andrew senang mengetahui itu. Perempuan bersurai indah yang membuat Andrew mengudara. Pemilik senyuman paling mematikan yang sialnya akan menjadi milik Andrew selamanya. Fakta bahwa Jemima merupakan calon istrinya adalah hal yang paling mendebarkan dalam hidup Andrew selama 30 tahun ini.
Gerimis sempurna mereda. Menyisakan bercak basah yang cukup kentara pada dedaunan dan jalan raya. Mentari masih enggan unjuk gigi, malu-malu bersembunyi di balik awan yang bergerak pelan di angkasa. Pejalan kaki membelah bulevar ketika lampu berubah merah di persimpangan. Andrew berbelok ke kanan, ke arah perusahaan IT. Beberapa penjaga menyambut kedatangannya. Dengan sigap, mereka membungkuk sebelum membuka gerbang raksasa. Sampai di pintu utama, seorang pria dengan tangkas mengambil alih kunci yang Andrew berikan, lalu membawa mobil majikannya itu ke parkiran.
Dengan menenteng tas kerja berisikan laptop, Andrew melangkah ringkas menuju ruang kerja. Tak lupa melempar senyum simpul pada setiap pegawai yang melihatnya. Di depan pintu beraksen klasik bertuliskan CEO yang diikuti nama dirinya itu, Andrew melihat seorang lelaki yang tengah berkutat dengan berkas-berkas tebal.
"Kau akan cepat keriput jika mengernyitkan dahimu terus-menerus seperti itu, Jo," seloroh Andrew, menyapa dengan caranya.
Jo mengalihkan tatapan, lalu menarik senyum santai seraya menyandarkan punggungnya pada kursi. "Walaupun keriput, aku yakin akan tetap tampan," timpalnya percaya diri.
Joseph Adhirama. Sekretaris sekaligus teman dekatnya sedari belia itu merupakan pria asal Indonesia. Rambut yang hitam legam dan kulit sawo matang adalah ciri khasnya. Iris gelap obsidian yang ia miliki mampu meluluhkan kaum hawa. Ditambah tubuhnya yang tegap dan berisi, Jo adalah pria yang cukup keren.
"Kurasa aku akan lebih tampan daripada kau," tampik Andrew, datar.
Jo terkekeh meremehkan, tetapi tidak berniat membalas cemoohan. Diperhatikannya Andrew yang membuka pintu ruangan setelah melambai singkat ke arahnya. Jo menggeleng-gelengkan kepala mendramatisir. Seharusnya ia merongrong Andrew dengan berbagai macam godaan terkait Jemima. Jo memang jahil, tapi tetap pada porsinya.
Dalam pada itu di ruangan serba putih namun terdapat banyak ornamen klasik, Andrew duduk di kursi kerjanya. Alat pengukur waktu masih menunjukkan pukul setengah sepuluh pagi. Andrew bersicepat membuka laptopnya guna melanjutkan pekerjaan.
Andrew adalah CEO dari perusahaan IT. Merintis karir dari nol bukanlah hal yang mudah. Proses yang amat alot menjadikannya gemar bekerja. Tahap demi tahap tak mengajarkannya untuk bersantai.
Sesekali tatapannya meliar, mencuri pandang pada bingkai foto di atas meja. Jemima. Ada atau tidaknya sang tunangan, mampu membangkitkan semangat Andrew yang kapan saja bisa mereda. Lelaki itu melengkungkan bibir, tersenyum. Dadanya bergemuruh sementara dalam dirinya bergejolak. Apalagi ketika otaknya memutar cuplikan tadi pagi, saat dirinya dan Jemima berciuman di dalam mobil. Bagaimana kelembutan bibir Jemima. Bagaimana ekspresi wanita itu ketika Andrew menghentikan aksi mereka. Semuanya terekam jelas. Andrew pun tidak mau memutus keintiman. Hanya saja waktu yang kurang pas. Jika di rumah ... ah, Andrew enggan melanjutkan fantasinya. Ia menggingit-gigit bibir merasa gemas. Jika ada pegawai yang melihat aksinya, mau ditaruh di mana wajah Andrew nanti?
Andrew mengerjap, lalu menggeleng bertepatan kala pintu yang diketuk dua kali dari luar. Tanpa menunggu jawaban, Jo masuk ke ruangan. Ah, hal yang biasa. Pria berjas biru tua itu mendudukkan diri di sofa dengan bersilang d**a.
"Kenapa wajahmu merah?" tanya Jo, tersenyum usil.
Andrew berlaga sibuk dengan memegang salah satu proposal yang disambarnya secara acak. Ia berkilah dengan malas, "Tampaknya aku kedinginan."
Jo mencebikkan bibir seraya mengangguk seolah mengerti. Disimpannya jari telunjuk pada dagu seraya berujar, "Aku akan mengajukan pertanyaan lagi."
Andrew ingin menelan Jo hidup-hidup sekarang juga. Bukan apa, sahabatnya itu gemar mengusilinya dengan hal-hal yang membuat Andrew mati kutu dan terkesan tidak gentle. "Aku sibuk. Kau tak lihat aku sedang membaca?" cibirnya.
Jo menaikkan kedua alis dengan pandangan paling menjengkelkan. "Bagaimana kau bisa membaca dengan buku yang terbalik?" Detik berikutnya, Andrew menurunkan bukunya dengan terkejut. Hal itu mengundang tawa Jo yang sedari tadi ia tahan.
"Menjengkelkan!" maki Andrew.
"Aku sebetulnya tidak ingin mengganggu fantasimu," ujar Jo. Andrew melotot. Cepat-cepat Jo meralat ucapan. "Ya ... apa pun namanya, terserah. Tapi berbagilah kebahagiaanmu padaku, kawan," pintanya sedikit usil.
Merasa tahu maksud dan tujuan, Andrew kembali berujar, "Tidakkah kau ada kerjaan lain? Cepat kembali ke tempatmu!"
Bola mata Jo berotasi, namun tak urung bangkit berdiri. "Kau tidak asik. Bersenang-senanglah sebentar, rehat. Lagi pula kau bekerja siang malam."
Andrew mengedik. "Aku ingin menyelesaikan pekerjaanku lebih cepat hari ini."
"Menemui Jemima?" Jo menyela.
"Tentu saja."
"Terus—"
"Kapan kau melanjutkan pekerjaan?" sanggah Andrew.
Jo mengatup-atupkan bibir layaknya ikan kekurangan udara. "Baiklah, baiklah, aku akan kembali," pasrahnya. Alhasil pria itu keluar, membanting pintu seraya mencibir, "Dasar pria super sibuk!"
Selepas Jo meninggalkan ruangannya, Andrew kembali fokus pada layar monitor. Beruntung hari ini tidak ada pertemuan. Maka dari itu pekerjaannya lebih ringan. Dan, Andrew pun membuat janji makan siang dengan Jemima. Ini merupakan momentum langka. Menurut orang Andrew penggila kerja, tapi ia tidak merasa begitu. Pekerjaan memang nomor satu. Tentu. Bagaimana kau mendapatkan uang jika kau tak bekerja? Sekarang Andrew bergelimang harta. Segala ia punya. Namun, berleha dan bersikap hedonisme bukanlah gayanya.
Andrew menyempatkan diri untuk melirik jam dinding di sela kerjaannya. Setengah jam lagi istirahat makan siang. Dilihatnya setumpuk proposal yang harus ditandatangani dan direvisi. Pasti memakan waktu lama. Bagaimana nanti janjinya dengan Jemima? Ah, tinggalkan dulu saja pekerjaannya.
"Harusnya aku tidak usah berbicara akan menemui Jemima siang nanti," sesalnya. Andrew mengimbuh, "Aku tidak tenang jika harus meninggalkan pekerjaan."
Pintu diketuk dua kali, dan Jo menyembul setelahnya. Pria itu tampak masih kesal dengan Andrew sehingga enggan meloloskan dirinya dari balik pintu. "Aku—"
"Masuk atau kupecat?" peringat Andrew, datar, namun tidak sungguh-sungguh dengan ucapannya.
Jo tersenyum paksa lalu melangkah mendekat. "Ada klien yang meminta bertemu setengah jam lagi," infonya.
"Kenapa mendadak sekali?" Ada khawatir dalam nada suara Andrew.
"Aku tahu ini sedikit mendadak, tapi kau tak bisa membatalkan ini. Kita sudah mati-matian meminta bekerja sama dengan mereka. Dan siang ini pihak mereka akan datang kemari. Ini momentum yang pas untuk membuka sekolah di beberapa kota di Indonesia dan penyumbangan komputer besar-besaran. Ini kan yang kau tunggu-tunggu?"
Andrew mengangguk setuju. Memang pertemuan kali ini agak berbeda daripada biasanya. Tidak hanya berhubungan dengan IT, namun juga terkait pembangunan sekolah gratis yang telah ia rencanakan jauh-jauh hari.
"Kebetulan menteri pendidika Indonesia sedang berkunjung ke New York. Ia ingin melihat langsung pengumbang baik-hati," lanjut Jo—sedikit menekan dua kata terakhir—karena mendapati Andrew masih berkutat dengan pemikirannya.
"Ah, baiklah. Siapkan segala hal yang diperlukan. Aku butuh amunisi!" perintah Andrew.
"Baik!" sahut Jo. Lelaki itu senang sekaligus merasa beruntung bisa bersahabat dengan Andrew. Walaupun gila kerja, dia tak tanggung-tanggung jika berderma. "Aku akan kembali ke tempatku."
Andrew meraih gawainya untuk menghubungi Jemima, bahwa siang ini mereka tidak bisa bertemu. Kemudian ia berbisik, "Semoga Jemima tidak keberatan." Napasnya berembuh pelan. Tak lama setelahnya, Jo memberitahukan bahwa ruangan pertemuan telah siap. "Aku akan menyusul," putus Andrew.
"Jemima, demi apa pun, aku mencintaimu dan tidak berniat mengabaikanmu. Ini betul-betul pertemuan yang tidak bisa aku tinggalkan. Sebentar saja." Andrew menatap langit-langit ruangan, membayangkan Jemima tersenyum kecil dan mengangguk pasrah. Andrew kembali menghela napas. "Maafkan aku, Jemima."
Telepon nirkabel berdering dan wajah Jemima yang ia bayangkan seketika tercerai-berai. Andrew mengangkatnya. "Iya, Jo, aku menuju ke ruang pertemuan."