Bab 7

1880 Kata
“Apa yang kau pikirkan, J? Membayangkan lelaki lain sedangkan kau sudah berkekasih?” Itu bukan suara Jemima, tetapi suara lain di dekat telinganya.  Terkejut, Jemima memegangi d**a. “Apa yang kau lakukan, Beth?” Ia memandang jengah ke arah tetangga bangsalnya itu. Betty tertawa lepas, merasa tak bersalah.  “Tapi, apa aku benar, J?” Betty mengikuti langkah Jemima ke kafetaria.  “Kau belum makan siang sehingga mengikutiku sampai ke sini?” Jemima memicingkan mata. Enggan menjawab pertanyaan Betty yang membuatnya diam seribu bahasa.  Walau memiliki keingintahuan yang tinggi sehingga banyak yang menjulukinya Dora---salah satu tokoh dalam film Dora The Exsplorer---kala sekolah menengah dulu, Betty tidak menuntut jawaban dari Jemima. Sekali melihat sikap Jemima yang tampak gelagapan walau sekilas, Betty tahu pemikirannya tidak meleset. Sudah Betty bilang, kan, kalau Jemima kadang kala mudah dibaca? Meskipun Jemima menampiknya, Betty percaya instingnya tidak pernah salah.  “Belum. Aku sengaja menunggumu. Seharusnya kau senang, jangan menekuk bibirmu seperti itu.” Betty menjawil dagu Jemima seraya menjentikkan jarinya. Seolah dengan adanya dia, seseorang akan merasa bahagia. Dia merasa seperti orang penting yang kehadirannya selalu dinantikan.  “Ah, kenapa kau menungguku? Kau pasti lapar sekali sekarang ini,” sesal Jemima. Memang bukan atas keinginannya, tapi sikap Betty membuatnya tak enak hati. Semua orang tahu bahwa Betty menyebalkan, termasuk Jemima. Namun melihat sikap Betty yang peduli kepadanya, Jemima tak kuasa untuk membenci Betty.  Melihat waktu istirahat menipis sehingga tak memungkinkan untuk makan berat di kafetaria, Betty dan Jemima memesan kopi dan roti untuk mereka makan di bangsal. Lagipula akhir-akhir ini Jemima selalu melupakan makan siang. Selain untuk menjaga tubuhnya---walau Jemima yakin badannya tidak akan melebar berlebihan, pekerjaan dan kegiatan melamunnya pun membuat pola makannya terganggu. Selain itu, Jemima tidak begitu lapar sekarang ini.  Sekembalinya mereka dari kafetaria, Betty dan Jemima tidak langsung ke bangsal, tapi bersantai di balkon kantor yang terdapat banyak tempat duduk. Jemima sebetulnya tidak ingin menongkrong, namun karena tidak kuasa menolak Betty, ia menerima tawaran itu. Katanya ada yang ingin diceritakan, dan Jemima cukup ingin tahu dengan cerita Betty. Biasanya wanita itu berbicara tanpa aba-aba.  “Aku melihat Dewa Yunani di lobi,” seru Betty. Agaknya ini bukan dunia fantasi, dan Betty bukan seorang yang mempunyai kemampuan lebih. “Kalau kau melihatnya, pasti kau akan meleleh di tempat,” tambahnya, semakin mendramatisir keadaan.  Jemima yang pada dasarnya selalu tertarik dengan obrolan menyangkut pria tampan, menanggapi ucapan Betty dengan berlebihan. “Kalau kau mengakui ketampanan seseorang, berarti dia benar-benar tampan. Kau tidak pernah memuji lawan jenis segamblang ini!” teriaknya. Perempuan itu merasa takjub dengan Betty yang berinisiatif membawa lelaki dalam obrolan mereka. Sedang Betty, dia sedang mencoba mengakrabkan diri dengan Jemima. Topik terkait inilah yang biasanya paling Jemima tanggapi. ”Rambutnya berwarna kemerahan, berkulit putih, tubuhnya tinggi tegap---aku sampai membayangkan otot perutnya---dan dia dikawal beberapa pria berjas hitam,” cerita Betty. Matanya menerawang seraya berbinar. Ternyata menceritakan lelaki seru sekali. Coba dari dulu aku begini, pikir Betty.  Seolah mendapat ingatan yang terkubur dalam otak usangnya, Jemima seketika membulatkan mata. “Apa dia memiliki jambang tipis?” tanyanya, memastikan. Betty mengangguk pasti. Sedetik kemudian, Jemima mengangguk-anggukkan kepalanya. “Aku  tadi melihatnya di lantai para petinggi,” akunya.  “Benarkah?” Betty menatap penuh ke arah Jemima. “Aku merasa sakit hati.” Jemima menaikkan kedua alisnya. Betty melanjutkan, “Aku bukan satu-satunya wanita beruntung yang telah melihat pangeran.” Kemudian dia terkekeh karena ucapannya sendiri.  Merasa terlalu lama bersantai, Jemima menginterupsi tawa Betty. “Kukira kita harus segera bekerja kembali,” ajaknya. Mereka menyimpan bungkusan roti dan cangkir plastik di meja kecil yang tersedia di sana.  * * *  Beberapa menit lagi jam pulang, namun tidak seperti biasanya, Andrew tak mengiriminya pesan. “Ke mana dia?” bisik Jemima. Berpikir Andrew tengah sibuk dengan pekerjaan, Jemima mencoba untuk menghentikan rasa cemasnya. Namun seolah ada lubah besar yang menganga di dalam hatinya, terkait seberapa pentingkah pekerjaan Andrew hingga ia menghiraukanku?, Jemima mengembuskan napas gusar.  Jemima menunggu pesan balasan Andrew hingga petang, kala matahari tenggelam, dan pegawai kantor pun satu-persatu meninggalkan perusahaan untuk kembali ke rumah mereka masing-masing. Dengan tidak sabaran, Jemima yang masih terduduk di kursi kerjanya menelepon Andrew untuk yang kesekian kalinya. Panggilan tidak bisa terhubung, dan Andrew tidak meninggalkan pesan singkat untuknya. Jemima bukan perempuan yang menanggapi kejadian dengan santai. Apalagi tak biasa Andrew susah dihubungi. Walaupun penggila kerja, Andrew selalu siap sedia untuknya.  “Kau belum pulang?” Pertanyaan Betty membuat Jemima menahan napas beberapa menit. Gelengan kepala Jemima membuat Betty mengurungkan langkahnya, memilih menunggu Jemima yang termenung di kursi kerja. “Kita ke sofa saja,” ajak Betty. Bahkan ketika wanita itu menarik tangan Jemima guna mendudukkannya di depan pintu bangsal pun jiwa Jemima seolah tidak melekat dengan raganya. Kosong dan lunglai.  “Apa kau mau pulang bersamaku?” tawar Jemima. “Atau kau bisa memesan taksi.”  “Aku menunggu Andrew saja, Beth. Lebih baik kau duluan. Ibumu pasti menunggu di rumah.” Jawaban Jemima tidak membuat Betty lega sedikit pun. “Aku akan mengabarimu jika sampai di rumah nanti,” tambah Jemima, tersenyum kecil.  “Demi Tuhan aku ingin menemanimu, J, tapi aku tak bisa,” sesal Betty.  “Kau boleh pergi.”  Betty menggumam kata maaf berkali-kali, seolah apa yang Jemima alami sekarang ini adalah kesalahannya. Jemima hanya bisa tersenyum pasrah, tidak ingin menanggapi apa pun karena kepalanya luar biasa pusing. Hingga wanita berbaju kuning itu pun menyaksikan Betty pergi duluan, sesekali melirik ke arahnya dengan khawatir. Jemima berpikir, “Semenyedihkan itukah aku hingga mendapat tatapan prihatin dari Betty?” “Siapa yang menyedihkan?” Seseorang berseru tak jauh dari tempat Jemima duduk menunggu. Ah, apakah aku barusan berbicara kencang? Jemima berpikir, tapi cukup tidak peduli sebab pikirannya hanya dipadati oleh Andrew. Jovic merasa asing dengan Jemima yang memancarkan raut sedih yang begitu kentara. Apa ini karena Andrew? Sebesar itukah pengaruh lelaki itu? Jovic kemudian mendecih. Jemima tidak pantas dibuat sedih, apalagi oleh lelaki yang memiliki ikatan pertunangan dengannya. Sebagai seorang sahabat, walau mereka sempat berpisah, Jovic masih tahu apa kebiasaan Jemima jika bersedih seperti sekarang ini. “Mau es krim? Akan aku traktir sebanyak apa pun yang kau mau,” tawar Jovic. Dengan sedikit terburu, lelaki itu melenggang menuju Jemima yang tampak tidak berminat sama sekali. “Apa yang pria itu lakukan padamu?” tanya Jovic. Raut marah tak bisa ia sembunyikan. Jemima tampak begitu bersedih. “Aku tidak mau makan es krim, Jovic. Aku sedang menunggu kabar dari Andrew. Seharusnya kami pulang bersama, tapi sedari tadi, Andrew tak menjawab teleponku,” papar Jemima tanpa diminta. Jovic adalah salah satu orang kepeercayaan Jemima. Bukan sekali dua kali perempuaan berambut emas kecoklatan itu berterus terang pada Jovic. “Pria itu memang benar-benar!” berang Jovic. Bukannya menenangkan, Jovic justru membuat hati Jemima lebih tak karuan. Jujur saja Jovic tidak suka jika Jemima bergantung pada Andrew. Jikapun Jemima harus, ialah seorang yang pantas di posisi itu. Jovic tentu tidak rela. “Jangan kau tunggu dia di kantor ini. Sekarang sudah malam. Kapan dia menjemputmu? Kurasa itu kedengaran tidak mungkin. Andrew pasti ada kerjaan dan dia melupakanmu,” kompornya. Merasa perkataan Jovic benar adanya, Jemima menundukkan kepala. Semangatnya betul-betul menurun drastis. Tidak ada yang perlu diharapkan. Sudah dua jam ia menunggu, namun Andrew tak kunjung menjemputnya. Beberapa ruangan di kantor padam. Lampunya sudah dimatikan. “Bagaimana kalau saat aku pergi, Andrew datang kemari?” Jemima menatap Jovic takut-takut lantaran pria itu menatapnya dengan tajam. “Sekarang juga kau harus pulang denganku!” perintah Jovic. Merasa akan mendapat penolakan, Jovic segera menarik tangan Jemima seraya menuntunnya menuju mobil di parkiran. “Jangan keras kepala, Jemima!” jengah Jovic ketika Jemima mengerem tubuhnya di depan ointu penumpang samping kemudi. Karena dorongan pada bahu Jemima terlalu kuat untuk dilawan, Jemima memilih mengalah dan membiarkan tubuhnya duduk sempurna di dalam mobil Jovic.   Jovic mengembuskan napasnya perlahan seraya menutup mata sejenak sebelum menginjak pedal gas. “Apa kau sudah makan?” Pertanyaan Jovic membuat Jemima memegangi perutnya yang terasa kosong. Jemima tentu lapar. Perempuan itu mengangguk, membuat Jovic tersenyum kecil. “Sebaiknya kita makan dahulu sebelum pulang,” putusnya. Jemima mengangguk setuju, karena di apartemennya tidak ada makanan sama sekali. Walaupun ada bahan, Jemima malas memasak.      “Jovic, katakan, apa aku terlihat menyedihkan?” Tiba-tiba Jemima bertanya di antara keheningan yang tercipta. Lampu jalanan New York tampak memesona. Sepanjang jalan penuh dengan kehangatan. Orang sana-sini beramai memadati trotoar.   Jovic terkekeh, menarik sebelah sudut bibirnya. “Sangat,” balasnya. “Kau terlihat seperti wanita putus cinta, padahal kenyataannya tidak begitu.”   “Aku hanya khawatir pada Andrew,” kilah Jemima, menaikkan sedikit intonasi suaranya. Kata putus begitu rentan di pendengaran dan hati Jemima. Saat Jovic mengatakannya begitu ringan, ia tidak terima.   “Kau khawatir kepadanya, tapi dia belum tentu khawatir kepadamu yang sudah menunggunya selama dua jam di tempat kerja. Dia pasti melupakanmu,” cerocos Jovic, seolah ia betul-betul mengenal Andrew luar-dalam.   “Andrew tidak begitu!” tampik Jemima.   Jovic sekadar mengedik. Ia mengalihkan pembicaraan. “Aku tahu restoran yang memiliki es krim terenak di New York. Kau tak akan melewatkan kenikmatannya, bukan?” pancing Jovic.   Kali ini, mendengar kata es krim, Jemima langsung meneguk ludahnya sendiri. Terbayanglah hidangan penutup itu di benak Jemima. Lembut dan dingin. Tenggorokannya yang kering akan merasa berterima kasih jika Jemima dapat merasai es krim terenak itu. “Bawa aku ke tempat itu, Jovic.” Walaupun mengatakannya tanpa ekspresi lapar, Jovic yakin Jemima begitu ingin memakan es krim untuk menaikkan semangatnya yang sempat turun.   Jemima merasa emosinya naik-turun hari ini. Sepertinya karena ia tengah datang bulan. Jemima baru teringat akan hal itu. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya sendiri. Jemima sangat mendramatisir keadaan. Mungkin Andrew memang ada pekerjaan yang mendesak dan ponselnya mati sehingga tidak bisa mengabari. Percayalah pada Andrew, teguh Jemima dalam hati.   Mobil hitam yang mereka tumpangi berhenti di restoran yang tidak begitu besar namun terasa hangan dan kental dengan dekorasi yang memanjakan pecinta seni. Lukisan terpajang di setiap sudut. Patung porselen yang begitu megah terpajang di depan patio. Replika burung-burung camar di langit-langit ruangan membawa Jemima ke era Yunani kuno. Jovic memang pandai memilih tempat bersantai. Memang sedari dulu selera pria itu tidak pernah berubah. Jovic selalu membawa Jemima ke tempat dengan suasana yang sama, dan pada saat beginilah, Jemima meranya nyaman dengan Jovic. Mereka begitu dekat. Mereka saling merindu. Mereka baru berkesempatan pergi berdua malam ini.    Jovic membawa Jemima ke lantai dua. Teras menjadi pilihan mereka. Keduanya butuh udara segar dan pemandangan kota sebagai tontonan. Seorang pelayan mendatangi meja, dan Jovic yang merekomendasikan semua makanan kepada Jemima. Setelah pelayan pergi, barulah Jemima bertanya, “Sepertinya kau sudah terbiasa ke sini,” komentarnya.   Jovic mengangguk bangga. “Tentu saja. Kau tidak melihat tatapan pelayan wanita tadi? Kita terlihat saling mengenal, bukan?”   Jemima tertawa, merasa sependapat dengan Jovic. “Dari mana kau tahu tempat secantik ini?” Perempuan itu mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Kebanyakan pelanggan adalah pada anak muda yang tengah menikmati malam mereka.   “Entahlah, mungkin sejak kuliah, tapi aku belum pernah mengajakmu kemari,” aku Jovic. Jemima mengerucutkan bibirnya. Jovic curang! Melihat Jemima yang sudah kembali ceria, Jovic merasa dirinya adalah pahlawan malam ini. Perempuan yang amat cantik ini kembali tersenyum karenanya, bukan?   “Kau tidak adil sekali menyembunyikan tempat ini dariku!” protes Jemima. Jovic terkekeh dibuatnya.   Tak lama makanan datang. Ada panekuk, spageti, es krim strawberi dengan porsi yang besar, dan beberapa hidangan yang tidak Jemima ketahui namanya. “Banyak sekali, Jovic,” komentar Jemima.   “Makanan masih kesukaanmu, bukan? Aku yakin kau perlu makan banyak sekarang ini,” opini Jovic. Sebelah bibirnya tertarik sebagaimana biasa.   Jemima ingin memprotes, tapi perut yang bergemuruh membungkam bibirnya yang hendak membuka suara. Keduanya makan dengan nikmat. Saling melontarkan lelucon klasik, membawa keduanya bernostalgia, mengingat kenangan masa kecil hingga kuliah. Cuaca yang cerah pada malam itu sangat mendukung suasana. Sedang kota New York yang begitu gemerlap melambungkan keduanya. Rindu merambah kian menganga. Haru bercampur gembira. Kedua sahabat yang sempat berpisah dipertemukan lagi oleh waktu. Di bawah tudung malam, Jovic dan Jemima tersenyum lebar. Ini terlihat seperti mimpi. Dan, jika Andrew menjemputnya, Jemima tidak akan merasakan kehadiran Jovic. Bolehkan Jemima bersyukur?   Tampaknya, tanpa mereka sadari, sepasang mata memperhatikan keduanya. Menimbukan tanya dan argumentasi. Jika malam ini adalah indah menurut Jovic dan Jemima, tetapi tidak untuk dia.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN