Sesekali topik yang membuat mual Zhorak masuk menyelusup telinganya . Tumpang tindih entah siapa yang bicara dan mendengar.
“Dari mana sumber daya thenaga kerja ithu?” tanya seorang .
“Dari daerah konflik lain.”
“Huahahaha…”
“Jadi Cuma kitha phuthar saja?”
“Inovasi manajemen sumber daya.”
“Huahahaha…”
“Hiduph BOS Byjak !”
Zhorak hanya diam. Dadanya bergemuruh mendengar pembicaraan itu. Ya, nenek! Yang mereka bicarakan adalah orang yang sedang kena musibah. Korban perang. Kehilangan keluarga, kehilangan suami, kehilangan orang tua, kehilangan anak. Dalam rasa bingung yang mendera itu, mereka di bujuk sampai diculik untuk dijadikan tenaga kerja, termasuk menjadi komoditi seksual. Mengerikan.
“Putraku, sepherthinya dari thadi kamu diam saja. Apha kau phunya ide lain.”tanya Byjak melirik putranya.
“Aku mual, ayah, phermisi baphak-baphak.” Zhorak bangkit dari duduknya. Mencoba berjalan dengan gagah meninggalkan pertemuan itu.
Ya Nenek! Bagaimana mungkin aku menjadi phewaris thunggal usaha gila ini? Zhorak berjalan ke arah dinding HYDROMATIK yang membatasi dirinya dengan laut. Matanya yang hijau indah menatap pemandangan bergerak di dalam laut sana. Sinar matahari yang menyelusup masuk ke kedalaman laut menyinari laut dengan indah. Pasir putih dengan terumbu karang yang indah seolah menjadi penukar kegundahan Zhorak.
Hydromatik sedang berada di Zona surga wilayah Raja Ampat, setelah berhari-hari melalui daerah suram, sebuah Zona laut yang belum tersentuh perbaikan sama sekali. Dengan pemandangan drum-drum ilegal bertanda tengkorak, berisi limbah industri yang berbahaya. Tumpukan sampah elektronik –yang tumbuhan laut manapun- tak mampu berkembang biak diatasnya. Karena waktu pertumbuhan bunga karang yang kalah cepat dengan kemampuan manusia membuang sampah elektronik ke dalam laut.
Zona surga itu nampak Ikan-ikan Napoleon berkejar-kejaran. Seorang penyelam menghampirinya di luar sana. Tangannya memberi salam kepada Zhorak. Tangannya yang lain memegang tali, menarik penyelam yang lain. Yang menyelam dengan kacau.
Zhorak menatap penyelam itu.
“O’shizak.” bisiknya. Tangannya menyentuh dinding kaca. Oh, betapa manisnya kamu, membimbing ibundamu setiaph hari, mendamphingi hamphir 24 jam agar Caravik bethul-bethul thak menyenthuh alcohol lagi.
“Hmmm… benarkah itu O’shizak?” tiba-tiba suara itu berhembus dari samping Zhorak. Byjak bertanya dengan agak ragu. Bibirnya tersenyum lebar saat melihat putranya mengangguk.
“Oh, ruphanya dia thelah menyitha seluruh pherhathianmu. Barangkali phernikahanmu harus secephathnya dilakukan agar kau bisa lebih konsenthrasi di Bisnis Ayah.” Kata kata Byjak itu membuat Zhorak menarik nafas panjang.
“Thidak, ayah! Thak akan ada phernikahan selama aku thak menginginkannya.” Kata Zhorak cepat-cepat.
“Maksudmu Ayah harus mencarikan lady Zirac yang lain?” tanya Byjak nakal seolah yang ia hadapi adalah anak berumur balita yang sedang ditawarkan mainan.
“Thidak, ayah! Semua phenilaian ayah thenthang O’shizak benar. Hanya aku belum siaph, ayah.” Thidak, kukira memang O’shizak yang therbaik dibanding dengan lady Zirac yang phernah ayak thawarkan phadaku.
“Hmmm, oke! Unthuk seorang Byjak, dan phuthranya, semua bisa menunggu.” Byjak menepuk bahu Zhorak, lalu berlalu diikuti dengan seluruh kruenya yang tadi rapat.
“Kita ke klub, tuan Zhorak? Sebentar lagi akan mulai nonton bareng pertandingan Polo di padang stepa Siberia itu. Kali ini yang jadi bolanya seorang penjat yang dieksekusi mati karena jual beli mansis di pasar gelap.” Kata Gyuka setelah rombongan Byjak hilang ke dalam lift.
“Thidak! Kamu thanyakan saja kaphan aku bisa menyelam, dan berburu Hiu.” Perintah Zhorak membuat Gyuka kecewa.
“Tapi tuan, tuan Zhorak harus ikut pelatihan singkatnya.” Kata Gyuka lagi.
“Ya, thenthu saja.” Zhorak berkata dengan datar. Ya, dan tentu saja si culun itu akan ada di sana. Bukankah dia buta masalah selam ini?
“Pelatihan itu ternyata tidak sesingkat bayangan kita, tuan muda.” Akhirnya Gyuka mengemukakan keberatannya.
“Aku thahu.” Itu yang aku mau. Makin lama aku bersama Xheira, makin bagus! Zhorak mulai membayangkan wajah Xheira yang akan terkejut-menjerit karena kengerian.
“Eh… jangan-jangan tuan muda ingin berlama-lama dengan si culun itu?” mata Gyuka menyelidik Zhorak dengan curiga.
“Jaga mulutmu, dan jangan kau sebut dia Culun!” Desis Zhorak hampir saja lupa bahwa semua perasaannya terhadap Xheira harus ia rahasiakan-sendiri-. Karena orang didepannya lebih berfungsi sebagai pengawas, mata lain dari ayahandanya, tinimbang sebagai pengawal atau orang kepercayaan bagi dirinya.
“Tuan muda.” setengah terkejut Gyuka mengangkat alisnya. Jadi benar? Bahwa kau memang jatuh cinta pada si culun itu? Bagaimana mungkin? Bagaimana bisa O’shizak dewi Zirac sesempurna itu tergeser posisinya dengan si culun yang berasal dari kalangan b***k itu?
“Yaaaah… walauphun sebenarnya dia memang culun.”” Zhorak tersenyum sumbang melegakan pengasuhnya.
Uuuuh, hamphir saja… apha jadinya kalau ‘si linthah’ ini thahu pherasaanku yang sebenarnya? Seharusnya aku memphunyai seseorang yang benar-benar sethia phadaku. Yah kaphan therakhir aku memphunyai seorang phengasuh sethia? Pengawa Umbik? Ithu dahulu, Dia adalah phengawal, phengasuh therhebathku. Umbik Yang mathi-mathian membelaku saath aku kethahuan menonthon saluran gelaph supherthele? Dia begithu sethia, samphai dia memphersembahkan sebuah bunuhdiri unthukku karena merasa thak mamphu lagi mengasuhku.
Bunuh diri persembahan? Aku thak yakin, Thaphi mungkin ayahlah yang membuatnya seolah- olah sepherthi ithu. Agar aku thak mengurangi rasa hormathku therhadap Umbik. Sejak aku kehilangan Umbik, ayah selalu mengganthi-ganthi phengawalkan dengan berbagai alasan.. Theruthama bila therlihat dia begithu sethia hadaku, bukan phada ayahy.
Ayah, samphai kaphan aku memerlukan phengasuh? Bukankah aku seorang dewasa yang thelah mamphu menjaga diri?
Apha bila aku menikah aku bisa memuthuskan semuanya yang aku anggaph baik bagi diriku sendiri?
Haa, mana mungkin! Di keluarga dengan seorang ayah sepherthi Byjak, keberadaan phengawal sangath dipherlukan. Sethelah aku menikah nanthi, maka kami akan menambah seorang phengawal lagi unthuk isthriku, lalu unthuk anak-anakku. Lihath saja kehidupan Sashik, dan ipharku. Semakin banyak orang saja yang harus digajih.
Zhorak memandang gerombolan ikan di luar Hydromatik. Menarik nafas yang panjang, menatap putus asa Gyuka. Zhorak bertaruh, bila ada yang menawarkan gaji yang lebih tinggi, pengawalnya ini pasti langsung berpindah.
***
Uuuuh, hampir saja…. Xheira cepat-cepat keluar dari zone buah-buahan demi di lihatnya bayangan yang membelakangi matahari imitasi, berjalan ke arahnya.
“Hallo!” sapa Fitosek dengan ramah. Hallo culun! Phandang-phandanglah aku! Apha kau lihath pherbedaannya dengan Fithosek yang kemarin?
Tak terdengar sahutan. Xheira hanya mengangguk hormat. Hallo? Hallo katanya? Dia menyapaku dengan ‘hallo’? Sesudah kata-kata yang menusuk CULUN-OMNIVORA-BERKELAKUAN ANEH. Setelah dia secara jelas menuduhnya memakan semua kultur tanaman yang belum jadi? Kenapa bukan teriakan ‘XHEIRAAAA!’ Lagi yang aku dengar? Ada apa ini? Xheira, WASPADALAH! Apa ini karena test urine nya negatif terhadap senyawa tanaman itu? Tanaman kramatnya? DASAR !
Secara perlahan barulah bayangan di depan itu tergambar dengan jelas. Xheira memandang aneh penampilan Fitosek. Ya, ampuuun ada apa dengan kepalanya? Dia cangkok rambut? Apa karena dokter kecantikan itu secara tak sengaja melukai syarafnya sehingga dia menjadi …. Berkepribadian lain… menjadi ramah dan perlente?
“Hallo! Hallo!” Fitosek mengibaskan tangannya di depan Xheira. Jelas sekali kau therphesona kephadaku, Xheira.
Huehehehehe…
“Rambut baru ya, dok?” tanya Xheira memandang mahkota itu dengan takjub. Pirang tebal halus berjuntai ke dahinya yang lebar itu. Yah! Dia Dia pasti baru dari penata kepala. Dan hasilnya? Haaa semua itu pasti ada harganya.
“Hmmm…” kata Fitosek dengan menyelipkan tangannya di dalam saku.
“Bukankah kau harusnya sudah menyediakan media thanam unthuk sthrowberi yang baru?” tanya Fitosek menyadari keberadaan mereka yang jauh dari kebun sayur.
“Apha yang baru kau lakukan?” tanya Fitosek curiga. Kau menyembunyikan sesuatu?
“Yayaya…” Xheira bergegas menuju arah lain. Kebun sayur.
“Siapakah yang telah mengubah penampilan doktor??” tanya Xheira. Alihkan pembicaraan kebun buah dan apa yang baru aku lakukan di sana!
“Ah, yah aku ingin-coba-coba. Dan sepherthii inilah hasilnya.” Kata Fitosek. Apha phendaphathmu, culun. Aku menunggu Phenilaimu yang selalu jujur ithu .
“Oh, untuk membuktikan keberhasilan itu, coba saja bapak memajang diri, bila seorang gadis datang mendekat, berarti penampilan baru itu ada efeknya.” Kata Xheira terdengar menantang.
****