Malam jebakan

1089 Kata
Melepas Andra di pesta sendirian dan bertemu dengan Satrio Prasetya. Tampaknya Gilang benar-benar salah perhitungan kali ini. “Jadi Gilang di sini menjabat sebagai manager umum? Hebat juga dengan kemampuan dia yang cetek itu. Lima tahun bisa membuat dia belajar banyak sampai di puncak karier.” Satrio tampak bangga dengan pencapaian putranya. “Gilang sungguh bekerja keras selama ini, jadi om jangan ambil dia dulu. Biar lebih berkembang lagilah.” Kata Andra masih memerankan posisi bos GS. “Hahaha oke aku tidak menghalangi kariernya. Tapi bujuk dia untuk segera menikah dengan Alea. Saya jamin untuk berinvestasi besar dan akan bekerja sama di masa mendatang.” Ucap Satrio tanpa basa basi lagi. Sedangkan Andra hanya bisa menjawab dengan tawa getir. Dia sudah berkeringat dingin, takut kalau-kalau salah ngomong. Akan tetai Gilang sendiri malah berduaan dengan Feya di rumah kecilnya. Feya yang tertidur saat menemani Gilang bekerja, itu sangat menggemaskan sekali. Gilang tidak tahan untuk tidak menciumnya diam-diam. Bibir itu kenyal dan lembut, membuat Gilang tidak puas hanya sekali menciumnya. “Manis.” senyum Gilang merekah memikirkan satu ide yang cukup gila. “Aku akan memastikan kamu menjadi milikku besok pagi.” Gilang mengangkat Feya masuk ke dalam kamarnya. Dia juga merapikan semua yang ada di meja, membawa masuk kerjaannya ke dalam kamar. Gilang hanya menunggu besok pagi untuk usahanya saat ini. Hari ini bukan weekand, seperti biasa Feya bangun terlebih dulu. Tapi ada yang tidak biasa kali ini, Feya bangun di kamar bukan miliknya. “Jangan gerak.” suara serak yang ada di samping membuat Feya semakin kaget. “Bapak?” Feya langsung loncat dari atas kasur. Tapi dia kembali masuk ke dalam selimut, katika dia tersadar hanya memakai dalaman saja. “Apa yang kita lakukan semalam? Huhuhu…” Feya mulai menangis dan tidak mempedulikan Gilang yang juga sudah bertelanjang d**a. “Tenanglah, aku akan bertanggung jawab.” kata Gilang yang juga ikutan panik. Gilang sudah menebak kalau hal ini akan terjadi. Tapi tidak dengan reaksi yang begitu mengejjutkan. Feya menangis sejadi-jadinya. Dia bahkan menyalahkan dirinya sendiri yang tidak bisa menahan semua godaan. “Huhuhu… Feya… apa yang kamu lakukan ini? Bagaimana kalau di pecat? Pak Gilang ampuni aku, tolong. Jangan pecat aku. Aku butuh uang….. huaaaa….” Feya menangis sejadinya. Yang di pikiran Gilang, Feya akan menangis meminta pertanggung jawabanya. Bukan malah menangis takut di pecat seperti ini. Tapi Gilang tidak kehabisan akal, dia juga memanfaatkan saja kejadian ini. “Feya, aku bisa tidak memecatmu, tapi ada satu syarat yang harus kemu penuhi.” Kata Gilang menghentikan tangisan Feya. “Apa itu, pak?” Feya yang masih ada di bawah selimut pun langsung bangun dan tak lupa menutupi badannya yang hampur telanjang. “Gilang menyandarkan dirinya dan berkata dengan tenang. “Kamu sudah menoddaiku, naik ke ranjangku tengah malam dan melakukan hal yang tidak seharusnya di lakukan. Jadi kamu harus bertanggung jawab menikahiku.” “Huuuaaaa, beban papa belum selesai aku pikul. Sekarang aku menambah beban lagi dengan menikahi pak Gilang. Dari mana aku punya uang….” Feya memotong peryataan Gilang dengan pikiran konyolnya. Gilang tidak habis pikir dengan pikiran gadis kecilnya. Tapi jujur saja, itu malah menggemaskan bagi Gilang. “Hey, tenanglah. Aku punya uang, tidak butuh kamu menghidupiku.” Gilang diam sejenang, menunggu reaksi apa yang akan di berikan Feya. Feya berpikir keras sejenak, sebelum dia akhirnya tersenyum dan berkata. “Hehe, bener juga. Kamu kan kaya, ngapain minta aku nikahi. Bukankah lebih baik kamu yang nikahi aku? Nafkahi aku dan manjakan aku?” cicitnya di akhir. Gilang sungguh gemas dengan tingkah Feya yang tak pernah masuk di akal sehatnya. Tapi karena kepolosan ini pula Gilang tak perlu berpikir macam-macam pada Feya. Keduanya langsung mengurus surat pernikahan. Tidak mengganggu kerja juga tidak mengganggu yang lainnya. Gilang hanya sekitar dua jam saja mengurus semuanya ke catatan sipil. Sedangkan Feya datang di saat mereka akan bertanda tangan. “Biar aku bawa ini buku nikahnya. Sekarang kita pergi makan siang saja.” Gilang merampas buku nikah dari tangan Feya. “Tapi pak, tidak bisakah kita merahasiakan pernikahan kita ini? Aku malu kalau harus jawab pertanyaan bagaimana bisa menikah denganmu?” Kata Feya menghentikan Gilang yang hendak membuka pintu mobilnya. Wajah heran dan tak percaya Gilang terlihat jelas. Namun Feya langsung paham apa yang ada di pikiran bos yang menjadi suaminya ini. “Bukan, aku hanya malu kalau harus jawab aku menikahimu gara-gara tidur berjalan dan….. memperkosamu. Itu yang memalukan, bukan menikahimu yang memalukan.” “Hahaha, iya terserah kamu aja.” mendengar alassan yang konyol sekonyol pernikhana ini. Gilang tak mampu menahan tawanya. Makan siang damai di seuah restoran telah berlalu. Dan jam makan siang pun telah usai. Kini mereka berdua kembali ke kantor membawa sedikit senyum yang tertahan selama bersama. “Kamu lagi senang?” Tanya Yuni yang duduk di sampingnya. “Aku di traktir makan pak Gilang.” hanya sebatas itu saja bisa di ceritakan Feya pada Yuni, teman kerjanya. “Apa? Kamu tidak tau kalau di dalam ada calon istri pak Gilang?” yuni mengagetkan Feya. “Apa? Alea datang?” Feya langsung pergi ke pantry lalu membuatkan minuman untuk Alea. “Ini anak gila apa gimana ya, kenapa buru-bueu begitu. Lagian buakannya cewek gila itu sudah mempermalukan Feya kemaren?” Yuni tidak tau apa yang di pikir Feya saat ini. Kenapa pula teman kerja ini terlihat sangat takut sekali pada cewek gila itu?? Di dalam ruangan hanya ada Gilang dan Alea, duduk di sofa dengan lengan Gilang di eluk Alea. Pada saat Feya masuk membawa minuman, Gilang refleks melepaskan pelukan terpaksa itu. “Feya, kamu kerja di sini juga? Kenapa semalam tidak melihatmu di pesta?” Tanya Alea seolah tidak tau kenapa Feya tidak ikut. “Oh semalam, saya ada kerjaan yang masih belum selesai. Jadi saya pilih lembur.” Tidak ada kata yang terdengar gagap. Malah sangat lantang dan nyaring. “Oh begitu. Kak Gilang juga tidak ada, apa jangan-jangan kalian lembur bersama?” selidik Alea dengan senyum yang di paksakan. Bibir boleh tersenyum, tapi hati Alea sungguh merasa tidak enak. Dia juga takut kalau itu benar, baginya Feya adalah ancaman terbesarnya. “Dia bawahanku, sangat wajar mengerjakan proyek bersama. Lagian kenapa kamu urusin itu? Lebih baik kamu pulang deh, gak guna juga kamu di sini.” Gilang yang panik akan kedatangan Feya di saat Alea bergelayut manja padanya. “Kak, kita….” “Feya…” Gilang mengejar Feya yang saat itu lebih memilih pergi dari pada melihat Alea bermanja pada suaminya. “Bapak! Jangan kayak anak kecil main lari-larian.” Feya yang tidak ingin di kejar Gilaang dan akan membuat karyawan lainnya berpikir lain.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN