Kesepakatan

1097 Kata
Feya tau kalau dia kali ini sudah tamat riwayatnya. Feya tidak berani pulag dan dia hanya bisa berdiam diri di halte bus. Setelah merasa perutnya merasa lapar, Feya mencari makan di sekitarnya. Beruntungnya tak jauh dari halte ada mie ayam gerobakkan. Memesan satu porsi, Feya menunggu dengan termangu. Di tengah dia menunggu dalam termangu. Tiba-tiba Feya di hampiri ibu-ibu cantik bersama dengan mamanya. “Feya…” Mama melihat anaknya yang termangu itu merasa kasihan. Pikiran Lula Ananta berkeliaran cukup liar. Lula mengira kalau Feya di bully dan mendapatkan tekana yang begitu besar di tempat kerja. “Feya, kamu kenapa bengong? Apa Gilang tidak memberimu makan?” tanya ibu-ibu cantik di sebelah mamanya. “Tidak, tidak. Aku hanya ingin makan mie ayam saja…” Feya tidak berani mengatakan apa yang dia pikirkan sejak tadi. “Ya sudah lebih baik di bungkus saja mienya. Pak mienya di bungkus saja ya 5.” Rina memesan untuknya dan putranya. Setelah selesai mereka berempat akhirnya pulang. Rina dan Satrio sengaja membawa Lula untuk mengunjungi Gilang. Karena kali ini Satrio menginginkan putranya untuk mewarisi perusahaannya. Selain Satrio sendiri merasa lelah bekerja, dia juga menginginkan cucu untuk menemani massa tuanya. Di dalam rumah kecil gelap itu ternyata sudah ada sesosok laki-laki muda yang tengah menunggu Feya di dalam. “Feya! Sudah jam berapa ini? Kenapa baru pulang? Apa tidak tau kalau bahaya perempuan di luar malam-malam?” omel Gilang di saat pintu baru saja di buka dan menampilkan bayangan satu orang di depan pintu. Namun seorang wanita langsung masuk dan menjewer kupingnya setelah menerobos masuk dari arah belakang Feya. Lampu langsung di hidupkan oleh Satrio, dari situlah Gilang tau kalau yang kali ini masuk ke dalam rumahnya tidak hanya seorang gadis saja. Tapi ada ayah, ibu dan juga ibu dari gadis yang tengah tinggal dengannya. “Mama, ampun… aku cuma khawatir Feya sudah malam belum pulang.” mendengar apa alasan Gilang mengomel pada gadis yang di titipkan padanya. Rina langsung melepakan jewerannya. “Sudahlah ayo kita makan sekarang, mienya nanti mengembang.” Satrio mengangkiri kehebohan istri dan anaknya. Feya dengan terampil melayani semua untuk makan mie ayam. Satrio peka dengan apa yang dia lihat, begitupun dengan dua ibu yang ternyata ikut memperhatikan Feya. Di antara semua hanya Gilang dan Feya saja yang tidak memahami apa yang para orang tua pikirkan. “Gilang, Alea akan pulang dari luar negeri besok. Papa harap kamu bisa ikut menjemputnya di bandara.” Satrio tanpa basa basi langsung mengutarakan apa yang menjadi tujuannya. “Ya.” jawab Gilang santai. Diam-diam Feya merasa senang dalam hati, karena besok adalah hari sabtu. Jadi dia bisa menikmati seharian liburnya. Makan malam menegangkan sudah selesai, namun para orang tua itu belum ingin pulang. Feya menyajikan buah dan minuman. “Feya, apa kamu sudah mencari tempat tinggal lain? Kamu kan sudah satu minggu….” “Gaji pertama saja masih belum dia terima, bagaimana anak kecil ini bisa mencari tempat tinggal lain?” Gilang memotong pertanyaan papanya yang dia nilai tidak masuk akal. “Lagian, bukankah Feya di sini juga karena kalian yang memaksa ku memberinya tumpangan?” imbuhnya. Satrio tampak kesal dengan apa yang di minta istrinya kemarin. Kalau saja dia tidak setuju saat itu, pasti yang tinggal dengan Gilang sekarang adalah Alea. Dan yang melayaninya sekarang juga gadis manis pilihannya, bukan Feya anak pembawa sial baginya. Malam ini para orang tua pulang di hari yang cukup malam. Feya tidak langsung tidur seperti Gilang, karena dia ingin besok hanya bisa rebahan dan bermalas-malasan. Makanya dia langsung melakukan pekerjaan itu malam ini juga. Namun siapa yang tau, pagi-pagi sekali Gilang sudah ribut untuk membawanya ke bandara. “Lang, aku mau libur hanya mau rebahan aja di rumah. Kamu saja yang ke bandara….” “Feya, aku bukan berlaku sebagai teman satu rumah kamu. Tapi atasan kamu! Sekarang kamu bangun, atau kalau tetap tidak mau, aku akan masuk ke dalam kamar dan menyeretmu ke bandara!” ucap Gilang dari balik pintu yang masih tertutup rapat. Feya tidak bisa menolak, akhirnya dia pun ikut dengan Gilang secara terpaksa. “Ya, aku mandi dulu….” “Gak usah, cuci muka dan gosok gigi saja. Aku tunggu di mobil, 10 menit gak keluar, aku potong gajimu.” ancama Gilang cukup ampuh untuk Feya. Di bandara Gilang menurunkan Feya tepat di mana orang tuanya dan keluarga lubis berkumpul. Itu cukup mengagetkan keluarga Gilang. “Feya, kenapa kamu ke sini?” tanya Satrio yang dari awal memang tidak menyukainya. “Terpaksa om, kalau tidak mau gaji saya di potong.” jawab Feya jjujur. “Biar ada yang angkut kopernya Alea nanti.” jawab Gilang dari arah belakang Feya. Jawaban Gilang cukup mengagetkan semua orang sekaligus puas. Kepuasan semua orang pastinya, bukan kepuasan Feya. Tapi mau bagaimana pun juga Feya menolak, Gilang tetap bosnya. Gadis cantik yang di tunggunya sudah keluar dan menghampiri semuanya. Dari seberang terdengar teriakan… “Kak Gilang.” Gilang tidak menjawab teriakan itu, karena gadis itu langsung memeluknya. Pertemuan itu cukup mengharukan. Feya tau akan tugasnya, dia pun langsung ke belakang mengambil koper dan membawanya masuk ke dalam mobil keluarga Lubis. Semua ternyata menuju ke cafe, bukan ke mobil yang masih terparkir di depan bandara. Feya melihat keakraban itu pun seolah sadar diri dan memutuskan untuk pulang saja. Di rumah kecil yang menurut Feya sangat nyaman itulah gadis itu langsung merebahkan diri ketika melihat sofa sudah bersih. Feya benar-benar bisa merasakan liburannya setelah tidak ada Gilang di rumah. Rebahan, makan camilan dan bermain ponsel sampai ketiduran. “Anak ini, sudah seperti rumahnya sendiri saja.” Gilang mengangkat Feya ke tempat tidurnya dan membersihkan sampak snack yang berserakan. Sore sudah menjelang, Gilang ada di kamarnya menyelesaikan pekerjaan yang bisa dia kerjakan. Sedangkan Feya yang baru bangun pun di bikin kaget. “Kenapa aku ada di kamar? Sejak kapan aku tidur di kamar? Apa gilang yang….” tak mau berspekilasi lagi, Feya pun mencari Gilang ke kamarnya. “Lang…” “Lang Lang… pak!” tegas Galang yang buat Feya bernyali ciut. “Iya maaf, Pak.” “Ada apa?” “Apa bapak yang memindahkanku ke kamar?” tanya Feya hati-hati. “Aku? Apa aku terlihat seperti orang yang kurang kerjaan?” jawab Gilang tidak mengaku. “Aku pikir sih juga tidak mungkin bapak. Tapi aku yakin kalau tadi tidur di sofa dan bangunnya di kamar.” kata Feya yang masih tidak percaya. “Mending kamu masak sekarang, aku sudah belanja tadi.” Feya pun menurut apa yang di katakan oleh Gilang. “Satu lagi, jangan sampai orang kantor tau kalau kamu tinggal dengan ku. Kalau tidak ingin di pecat.” sambung Gilang lagi mengingatkan. “Aku tau.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN