Gadis kecil itu menangis di atas ranjangnya, berbaring meringkuk seraya memanggil sang ibunda tercinta. Di sebelahnya sang ayah berusaha membujuk dengan kata-kata lembut nan menenangkan jiwa, tetapi tidak berdaya apa-apa bagi putrinya yang tengah terlara. Meisya berjalan perlahan memasuki kamar itu tanpa aksara yang tereja hanya suara langkahnya yang memasuki indera pendengaran Naka, lelaki itu menoleh dan tersenyum sempringah seolah kehadiran Meisya adalah sesuatu yang bisa menolongnya dari sebuah kepayahan besar. "Meisya, Qinara nangis terus sejak bag tidur tadi," ujar Meisya dengan tangan yang bergerak cepat menggenggam tangan Meisya yang berdiri di sampingnya. "Iya, Pak, aku coba bujukin, ya," jawab Meisya lembut dengan senyuman yang juga terasa menyenangkan bagi lelaki itu, nyat

