Di tempat yang indah, Aku dipaksa belajar merelakan cinta yang harus pupus sebelum berbunga, Cinta yang dipersembahkan namun tidak untuk dimiliki. Sementara hariku dibiarkan gugur, Diam-diam, di tanah yang tak pernah bertanya. *** Makan siang sudah disajikan di bawah kanopi putih sederhana namun tetap tampak aestetik dan indah. Di meja kayu panjang yang ditutupi kain putih, ada piring porselen yang diisi roti hangat, ada keju dan anggur yang baru dipetik. Juga sebotol anggur merah yang usianya mungkin sudah lebih tua dari usia Zevana sendiri. Zevana duduk dengan wajah yang datar, bingung karena sejak Prabu berkata ada hal penting yang harus dikatakan, pria itu terus menekuk wajahnya, tak ada senyum seperti yang ditunjukkan sebelumnya seolah semua ini hanyalah sandiwara. Prabu dudu

