70. Pesan Terakhir

1834 Kata

Aku melihatmu menangis, Saat menyadari iris keabuan itu bukan milikmu, Maelainkan doa terakhir, Yang diwariskan lewat rasa sakit. *** Waktu memang tidak benar-benar menyembuhkan luka. Beberapa malam berlalu sejak hari Ankala akhirnya keluar dari rumah sakit. Luka fisik perlahan membaik, matanya ... mata yang semula milik Prabu kini mampu melihat dengan jelas. Namun luka di dalam dirinya masih sering terasa perih. Terutama setiap kali dia terbangun dan mengingat dua nama yang tak lagi bisa dia panggil. Pagi itu mobil hitam berhenti di depan gedung perusahaan sawit Alvarendra. Gedung itu menjulang sama seperti dulu, kokoh, megah, simbol kekuasaan dan kejayaan keluarga mereka. Namun bagi Ankala, gedung itu terasa berbeda. Ada beban di dadanya saat dia menatap logo besar di fasad bangu

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN