“Ah bahas mantan mulu lo, males.” Setelahnya tidak ada percakapan lagi di grup itu usai Serena merespon ucapan Dimitris.
**
Keesokan paginya, Helena sudah mandi dan bersiap-siap ke kampus. Hari itu, ia menggunakan kaos putih polos yang di balut kardigan rajut hitam berukuran oversize. Ia memasangkannya dengan celana kulot yang juga berwarna hitam. Tak lupa aksesoris seperti bandana putih yang senada dengan warna sneakersnya.
Helena berjalan ke arah pintu setelah memasukkan ponselnya ke dalam totebagnya itu. “Udah mau berangkat, Na?” tanya Fio yang asyik menonton TV sambil sarapan roti selai dan teh hangat. Ia hanya menggunakan baju tidur berwarna maroon, rambutnya dicepol asal-asalan.
“Iya, Tante. Ada urusan dikit sebelum kelas.” Jawab Helena yang berjalan menghampiri Fio untuk menyalim tangannya.
“Nanti pulang jam berapa? Malem gak ada acara kan?” tanya Fio lagi.
“Engga dong, kan Mama pulang.” Jawab Helena cepat. Kalaupun ada jadwal mendadak malam nanti, ia tetap memilih menjemput Mamanya saja. Ia rindu omelan dan cubitan di perutnya yang langganan dicubit oleh Lia saat ia malas bangun tidur atau makan.
“Pergi dulu ya, Tante! Assalamualaikum!” sambung Helena sedikit berteriak karena ia kini sudah berjalan ke depan pintu.
**
Semenjak keduanya saling menjauh, Helena dan Anggi jarang duduk bersebelahan kecuali memang kondisi yang memaksa mereka harus duduk bersama. Seperti kemarin lusa saat mereka ternyata berada dalam kelompok yang sama yang anggotanya hanya berisi tiga orang. Untungnya mereka satu kelompok dengan teman sekelas mereka, Raisa, yang lumayan cerewet.
“Eh ini gimana anjir sumpah gue bingung bikin diagramnya!” ucap Raisa saat itu. Kalau saja Helena dan Anggi sedang tidak perang dingin, mereka berdua pasti menggibah Raisa lewat grup chat mereka yang kemudian direspon Dania dengan semangat karena gadis itu juga hobi bergosip.
Sebelum Helena ke kelas, ia ke ruang HIMA untuk menyerahkan data nama panitia acara mereka. Suasana tampak sepi di ruangan tersebut karena masih pagi namun Dewa sudah berada di sana dengan kemeja flannel berwarna merah dan hitam serta rambut yang acak-acakan. Kacamatanya sedikit melorot saat ia sibuk dengan laptopnya itu.
“Permisi Kak?” sapa Helena sedikit sungkan karena takut mengganggu kakak tingkatnya itu. Dewa menoleh dengan raut wajah ramah namun tetap berwibawa. Ia melepaskan kacamatanya lalu berjalan menghampiri Helena yang masih berdiri di depan pintu ruang sekretariat mereka.
“Iya, gimana? Udah kelar?” tanya Dewa.
“Sudah, Kak.” Helena mengambil beberapa kertas yang sudah dia print sebelumnya di tempat fotocopy depan fakultas mereka. Dewa menerima kumpulan kertas tersebut dan mengecek kelengkapannya.
Laki-laki itu berdehem sejenak, “Na, punya Anggi mana?”
Untuk sepersekian detik gadis itu mencerna pertanyaan Dewa, “Hah? Maaf Kak tapi saya gak ada minta ke Anggi jadi masih sama dia.” ucap Helena takut-takut.
“Kalau pisah-pisah gini takutnya ribet. Boleh saya minta tolong kamu ngumpulinnya bareng punya Anggi? Saya tunggu sampai nanti sore ya.” Ucap Dewa sambil mengembalikan kertas-kertas tadi ke Helena.
Gadis itu hanya mengangguk dan berpamitan sebelum berjalan ke arah kelasnya yang sebentar lagi mulai. Kedua mata coklatnya melihat Anggi sedang mendengarkan musik seperti biasa, kakinya menghentak pelan mengikuti irama lagu yang ia dengar. Helena memilih duduk sedikit jauh dari Anggi. Otaknya berusaha memikirkan bagaimana cara memberitahu Anggi tentang ucapan Dewa tadi. Sejujurnya, jika sedang tak dalam kondisi sekarang, semua tugas mereka pasti cepat selesai.
“Nggi, tugas bendahara lo nanti kasih ke gue abis kelas ya. Disuruh Kak Dewa soalnya.” Helena memutuskan untuk mengirim pesan ke Anggi yang langsung dibaca oleh gadis itu dari pojok kelas. Helena melirik sekilas gadis itu sedang membalas pesannya, dirinya menoleh ke ponsel yang ia genggam, terlihat ada balasan yang masuk dari sahabatnya itu.
“Oke.”
Helena menghela nafas, namun sepersekian detik langsung menyimpan ponselnya di dalam tas saat dosennya sudah masuk ke kelas. Ia tidak mau ponselnya disita karena dosen kali ini hobi mengambil ponsel mahasiswanya ketika tidak memperhatikan dirinya mengajar di depan kelas.
“Baik, saya rasa perkuliahan hari ini sampai sini. Jangan lupa buat resume di kertas double folio tentang materi hari ini dikumpulkan minggu depan. Terima kasih.”
Seluruh mahasiswa di kelas itu dengan cepat membereskan alat tulisnya saat dosen mereka sudah keluar terlebih dahulu. Kini tinggal Anggi dan Helena yang masih berada di dalam kelas, hawa canggung menyelimuti mereka berdua saat Anggi menyodorkan tugas bendaharanya ke atas meja Helena.
“Belum lengkap semua kemarin Bu Arum ngasih cuma segitu datanya, udah gue kabarin ke Kak Dewa semalem.” Ujar Anggi datar. Helena hanya mengangguk canggung tanpa menoleh ke arah Anggi, gadis itu buru-buru memasukkan tugas Anggi ke dalam tasnya.
“Oke, gue duluan ya?”
Helena langsung berjalan cepat ke arah pintu kelas saat Anggi memanggil namanya terbata-bata, “N-Na.”
Helena menoleh dengan cepat, “Iya, Nggi?”
“Makasih udah mau negur gue duluan.”
Helena hanya tersenyum tipis sambil mengacungkan jempolnya. Senyumannya tidak pernah menghilang bahkan saat ia sudah tiba di sekretariat. “Kak Dewa?” sapanya. Ia melihat Dewa sedang sibuk dengan tumpukan dokumen yang tersusun di atas meja.
“Iya, Na? udah?” tanya Dewa langsung.
“Udah, Kak. Katanya datanya gak lengkap kan ya?”
Dewa mengangguk sambil menerima kumpulan kertas berisi data nama tersebut dari Helena, “Iya, udah dikabarin kok. Makasih ya, Na. Mau nongkrong dulu di sini? Nanti Gendis mau kesini katanya.” Gendis adalah anggota HIMA yang termasuk rajin mendatangi sekretariat walaupun hanya untuk sekedar mengerjakan tugas kuliahnya.
“Enggak, Kak. Saya pamit, ya?”
“Oh, siap. Makasih ya.” Jawab Dewa ramah. Gadis berambut sebahu itu hanya tersenyum tipis sambil keluar dari ruang sekretariat HIMA. Suasana hatinya sedang bagus setelah mendengar perkataan temannya tadi. Ia harap semua akan segera membaik.
**
“Kok belom muncul ya Mama?” celetuk Helena. Kini dirinya sedang berdiri di depan pintu kedatangan bandara. Ia menunggu sosok Mamanya yang sudah berhari-hari tak ia lihat. Fio tersenyum geli mendengar celetukan keponakannya itu.
“Yakin belom? Itu Mama kamu pakai sweater abu-abu.” Tunjuk Fio pada seorang wanita yang membawa beberapa paper bag dan koper. Dirinya tampak sedikit kewalahan membawa barang-barang tersebut.
Helena tersenyum senang ketika melihat sang Mama yang juga memandangnya sambil ikut tersenyum. “Ya allah Ma! Pulang juga akhirnya!” seru Helena saat Lia sudah di hadapannya sambil ngos-ngosan.
“Nanti aja ngomongnya di rumah, bantuin bawa ini dulu.” Ujar Lia menyerahkan paper bag tersebut ke Helena.
“Lagian siapa suruh bawa barang sebanyak ini!” sahut Fio yang ikut membantu membawakan koper Kakaknya itu.
“Kalian gak mau oleh-oleh? Yaudah.” Ucap Lia sambil pura-pura merebut koper dan paper bagnya.
“Eh eh gak gitu! Bercanda kita berdua mah!” jawab Fio menunjukkan cengirannya. Helena mengangguk setuju.
“Udah ah! ayok pulang!” seru Lia menenteng tas kulit hitamnya di bahu. Ketiganya berjalan beriringan dengan perasaan sama-sama senang.
Terlebih Helena, ia senang Mamanya kembali saat ia sedang mempunyai banyak masalah seperti ini. Ia ingin bercerita sambil memeluk Mamanya. Ia rindu.
**
“Ya allah Helena Diandra!” seru Lia ketika melihat anak gadisnya itu masih tertidur pulas setelah semalaman mereka bertiga termasuk Fio merayakan kepulangan dirinya. Sepulang dari bandara, malam itu, mereka memesan makanan cepat saji melalui drive thru dengan porsi cukup banyak. Belum lagi saat sampai di rumah, mereka bertiga memutuskan untuk menonton film-film Indonesia lama sampai larut malam. Awalnya Lia tidak ingin ikut dan memilih untuk istirahat saja, namun Fio, adiknya itu, memaksanya untuk ikut bergabung.
“Kapan lagi Kak bisa quality time kayak gini.” Bujuk Fio. Helena ikut mengangguk-anggukkan kepalanya tanda setuju.
Kedua mata Helena menyipit saat sinar matahari masuk menembus jendelanya itu. Sayup-sayup ia mendengar Lia yang masih mengoceh karena dirinya bangun kesiangan. Untungnya saat itu hari Sabtu yang berarti tidak ada jadwal perkuliahan hari itu. Gadis dengan rambut sebahu yang kini tengah berantakan itu menguap sekilas lalu menatap Lia yang juga balas menatapnya galak. Kedua tangannya ia lipat di depan d**a.
“Apa Mamaku sayang?” tanya Helena sambil memasang wajah polosnya.
“Mamaku sayang Mamaku sayang palamu! Tau gak ini udah jam berapa?” tanya Lia balik dengan nada judes dibuat-buat. Sebenarnya ia tidak marah anaknya itu bangun kesiangan, namun ia berniat mengajak Helena jalan-jalan hari itu. Ia ingin menghabiskan waktu bersama Helena karena dirinya juga sebetulnya sangat merindukan anak kesayangannya tersebut.
Helena melirik ponselnya yang baterainya sudah penuh karena ia charge semalaman. Pukul sepuluh lewat dua puluh menit tampak jelas tertera di layar ponselnya, ia meringis kecil sambil menatap Lia dengan menunjukkan cengirannya.
“Pantes aje ngomel-ngomel,” batinnya.
“Hampir jam setengah sebelas Ma.” Helena terkekeh pelan sambil meletakkan kembali ponselnya di atas nakas.
“Ya iya! Udah cepet sana mandi! Temenin Mama jalan-jalan mumpung gak ada jadwal kerja.” Perintah Lia yang langsung disambut dengan senyuman sumringah Helena. Gadis itu bergerak cepat memeluk Mamanya yang kini diam-diam tersenyum sambil membalas pelukannya itu.
Pagi itu, di rumah mereka, suasana terasa lebih hangat.
Satu jam kemudian, Helena sudah siap dengan baju kaos abu-abu yang di balut dengan outer warna hitam berbahan baby doll yang di pasangkan dengan celana kulot berwarna senada dengan bajunya. Rambutnya ia beri penjepit yang biasa orang sebut dengan jedai selaras dengan warna outernya. Ia memilih menggunakan sandal bertali dan sling bag yang juga berwarna hitam. Helena memang menyukai warna netral seperti hitam, putih, dan abu-abu untuk warna pakaiannya. Hampir keseluruhan pakaiannya berwarna netral.
“Na udah gak? Jangan lama-lama ah! Kayak mau jalan sama pacar aja!” seru Lia dari luar kamarnya itu. Helena cepat-cepat keluar kamar setelah memasukkan ponselnya ke dalam tas selempangnya itu. Ia tersenyum manis menatap sang Mama yang malah menatapnya kesal. Lia sendiri hanya menggunakan sweater rajut berwarna kuning palem yang dipasangkan dengan celana bahan berwarna hitam. Tangannya menenteng tas kulit yang juga berwarna hitam yang kemudian di selempangkan ke bahu kanannya.
“Lama banget astaghfirullah! Udah cepet Mama laper.”
“Iya-iya astaga ngomel mulu kek emak-emak.” Komentar Helena yang malah mendapat pelototan dari Lia.
“Emang udah emak-emak pun.”
“Iming idih imik-imik pin.” Cibir Helena yang mendapat cubitan legend di perutnya.
“Ma, astaga!” jerit Helena mengaduh kesakitan.
“Di Singapore kemaren kalau kesel sama orang, Mama cubit gak perutnya?”
“Ngawur kamu!”
**
Helena merebahkan dirinya di kasur setelah seharian berbelanja bersama Lia, Mamanya itu. Awalnya dirinya menolak tapi berkat bujukan Mamanya yang mengatakan dirinya mendapat uang tambahan dari acaranya di Singapore kemarin, akhirnya gadis itu menurut. Bukannya ia tak mau berbelanja karena siapa sih yang perempuan yang tidak menyukai kegiatan satu itu? Ia hanya tidak mau membuang uang-uang hasil kerja keras sang Mama yang dengan sesuatu seperti berbelanja baju baru yang bukan merupakan kebutuhan utama.
Kedua mata coklatnya melihat notifikasi yang masuk dari Adik RPnya, Rissa. Ia memutuskan langsung membalas pesan Adiknya tersebut karena ia juga sedang punya waktu luang. Dengan cepat, jempolnya menggeser layar dan mengetikkan balasan untuk Rissa.
“Kak! join grup aku yuk?”
“Hah? Grup apa Ris?” sent!
Tak lama kemudian ada balasan yang masuk dari Adiknya itu, Helena yang tengah berbalas pesan dengan teman RPnya yang lain langsung membalas dengan cepat.
“Buat seru-seruan aja sih. Gue undang ya Kak?”
Helena tampak menimang-nimang lalu mengetikkan beberapa kata untuk membalas pesan dari Rissa, “Iya deh, boleh. Gak rame banget kan? Gue males Ris kalau rame banget.”
“Engga Kak, cuma Willy sama temen-temennya aja. Ya masa gue sendirian cewek.”
“Yeee wkwkwkw temen lo yang lain gak lo undang?” tanya Helena.
“Diundang kok tapi cuma dua orang, nanti gue kenalin. Gue undang beneran nih ya?”
“Iya, undang aja.” begitu balasan Helena.
Gadis itu tiba-tiba ingin minum s**u coklat hangat, minuman kesukaannya. Ia memutuskan untuk membuatnya sebentar. Saat berjalan ke arah dapur, terlihat Lia, sedang sibuk dengan laptopnya. Dahinya berkerut-kerut lengkap dengan kacamata yang bertengger di hidungnya.
“Ceilah sibuk nih.” Ledek Helena langsung mendapat sambutan bantalan sofa yang dilempar oleh Mamanya itu.
“Mama dih, dikit dikit disambit. Tangan kosong kalau berani.” Tantang Helena iseng. Dirinya langsung lari ke dapur saat melihat Lia yang siap-siap menghampirinya dengan raut wajah menahan kesal.
“Kamu kira lucu kayak gitu ha?!” omel Lia dari arah ruang TV. Helena tertawa sendiri sambil membuat s**u coklat, ia juga memutuskan membawa beberapa cemilan yang ia beli tadi siang bersama Lia ke kamarnya.
“Punten! Damai kita bos ya!” ujar Helena menahan geli saat Lia tengah memelototinya.
Setelah meletakkan s**u dan cemilan tadi, tangannya bergerak mengambil ponselnya. Terlihat sudah puluhan pesan yang masuk dari sebuah grup yang ia yakini grup Adiknya tadi. Ia mengeryit heran saat beberapa orang menyebut-nyebut namanya.
“Kak Anna muncul Kak.” ucap Rissa memulai obrolan.
“Anna siapa? Anna mantan gue?” ujar sebuah akun laki-laki bernama Jordan.
“Gak tau gue, tanya @Anna langsung.” Balas Rissa.
“Anna siapa?” Willy ikut-ikutan bertanya.
“Kakak aku sayang.” Balas Rissa yang mendapat cibiran dari anggota lainnya.
“Bucin left grup aja mending.” Kata sebuah akun bernama Allecra, temen Rissa.
“Bucin juga yuk, mau gak?” balas sebuah akun bernama Josiah.
“Dih, ogah.” Respon Allecra yang membuat Josiah ditertawakan.
“Ogah-ogah gini pacar lo ya anjir.”
“Hah emang iya?” respon Allecra lagi. Josiah semakin ditertawakan karena diacuhkan oleh pacarnya sendiri.
“Permisi, salken.” Ucap Helena. Salken sendiri merupakan singkatan dari salam kenal yang biasa diucapkan anak-anak RP saat baru bergabung ke dalam grup. Tujuannya agar terkesan sopan bagi anggota grup lainnya yang sudah terlebih dahulu bergabung.
“Salken cantik.” Balasan dari beberapa akun laki-laki yang satu di antaranya Helena kenal sebagai teman Dylan.
“Lah ketemu Arkan.” Kata Helena.
“Kak Anna kenal?” tanya Rissa yang juga ikut-ikutan nimbrung.
“Temennya Dylan. Iya kan?”
“Iye iye. Inget bae dah.” Respon Arkan.
“Hah berarti Dylan sama Willy temenan ya?”
“Temenan gak ya.” Kata Willy melihat namanya disebut-sebut.
“Dylan off RP ya, Na?” tanya Arkan.
“Sementara doang. Dia sibuk RL.” Jawab Helena.
“Off RP atau bikin akun baru? Wkwkwk” kata Willy.
“Heh lambemu!” tegur Rissa.
“Gak usah didengerin Kak, emang suka merembes mulutnya!” tambah Rissa lagi.
Helena terdiam sejenak, yang tadinya ingin meminum s**u coklatnya ia urungkan. Ia kepikiran perkataan Willy tadi.
“Bisa jadi emang Dylan bikin akun baru.” Batinnya. Seketika ia merasa lemas takut bahwa apa yang dikatakan oleh Willy tersebut benar terjadi.
“Kok gue kepikiran ya.” Kata Helena di grup chat tersebut.
Berbagai respon ia dapatkan dari anggota grup lainnya, terlebih Rissa yang sibuk menyuruh Willy, pacarnya itu, meminta maaf ke Helena. Sedangkan yang lain menyuruhnya untuk tidak memikirkan hal aneh-aneh.
“Willy bercanda bae udeh,” kata Arkan.
“Na gak usah didengerin Na si dugong.” Sebuah akun laki-laki bernama Rafael ikut-ikutan.
“MINTA MAAF ATAU AKU GABALES CHAT KAMU DI PC!!!!” seru Rissa.
Pc sendiri merupakan singkatan dari personal chat atau obrolan pribadi. Bukan PC komputer ya teman-teman.
“Na, maafin Willy ya. Tadi bercanda suer.” Ucap Willy pada akhirnya. Helena tertegun ketika membaca pesan dari laki-laki itu di obrolan pribadi mereka. Gaya mengetiknya mirip dengan Dylan yang selalu menyebut namanya sendiri saat mereka sedang bertengkar.
“Gapapa, Wil.”
Pesan itu hanya dibaca saja oleh Willy, sementara laki-laki itu merespon ucapan Rissa di grup.
“Iya-iya ah pake ngancem dih.” Ucap laki-laki itu merespon pesan Rissa di grup.
“Maafin gue ya Na, gue bercanda. Besok-besok gak lagi janji. Peace.” Tambah Willy.
“Iya, gapapa.” Jawab Helena. Gadis itu bingung kenapa Willy juga meminta maaf padanya melalui obrolan pribadi kalau laki-laki itu juga bisa mengatakannya di grup. Gaya bahasanya pun berbeda antara pesan di grup dan di obrolan pribadi tadi.
Helena jadi curiga bahwa orang yang memerankan akun Willy merupakan orang yang sama di balik akun Dylan. Ia harus mencari tahu tentang ini bagaimanapun caranya. Ia berharap apa yang ia duga ternyata salah. Ia berharap itu hanya perasaannya saja karena merindukan Dylan.
Iya, dia harap itu hanya pikiran buruknya saja.
**
Keesokan paginya setelah mengantar dan menemani Mamanya berbelanja, Helena langsung mandi. Ia ingat hari itu dirinya ada event di grup RPnya dimana ia menjadi panitia acara tersebut bersama Dimitris yang menjadi partnernya. Beruntungnya, Lia tidak menyuruhnya mengantarkan kue pesanan Bu Ajeng hari itu karena Mamanya sendirilah yang akan mengantarnya.
“Sekalian ada urusan bentar di luar, nanti pulangnya agak sore ya Mama.” Kata Lia saat Helena bertanya alamat Bu Ajeng ketika mereka membuat kue di dapur. Helena hanya mengiyakan saja, malah diam-diam ia merasa senang karena dirinya pun juga malas keluar rumah.
Setelah berpakaian, gadis itu mengecek ponselnya yang memiliki pesan masuk dari grup event tadi. Terlihat banyak sekali orang-orang tak dikenalnya yang mengiriminya pesan. Mereka adalah orang-orang yang berpartisipasi dalam acara yang mereka persiapkan dari kemarin-kemarin.
Helena melihat nama Dimitris di salah satu list chatnya. Laki-laki itu mengiriminya pesan yang menyuruhnya stand by karena acara sebentar lagi dimulai.
“Na, lo usahain on terus ya. Gue ada urusan bentar heheheheehehe.”
“Dih sendirinya aja off! Nyuruh-nyuruh orang.” Gumam Helena kesal.
Dengan cepat ia menyelesaikan tugasnya itu, sekitar dua puluh lima orang lebih yang Helena undang ke grup mereka. Kebanyakan merupakan akun roleplayer western atau disingkat RPW yang bergabung di acara tersebut. Helena pusing karena semakin banyak orang yang tak dikenalnya yang mengiriminya pesan ditambah ponselnya menjadi sedikit lemot begitupula jaringannya yang tiba-tiba tidak stabil.
“Yaelah pantesan anak-anak grup gak mau ngambil tugas yang ini. Emang ribet anjir!” sudah terhitung lebih dari lima belas kali Helena mendumel dengan perkataan yang sama. Gadis itu merasa kesal dan memutuskan untuk mengirim pesan ke Dimitris.
“Dim cepetan on kek! Woiiiiiiii” bibirnya mengerucut saat mengirimkan pesan tersebut. Ia memutuskan untuk tidak membalas pesan-pesan yang masuk terus-menerus. Mungkin sudah lebih dari lima puluh orang yang ia undang sendiri ke grup acara mereka yang akan mulai lima belas menit lagi.
Helena berdecak kesal dan mengirim pesan beruntun ke Dimitris yang tak kunjung aktif.
“Dim woiii”
“Dim”
“Woiiii”
“Cepetan ah gue capek!”
“Dimitrissss”
“Acaranya bentar lagi masih banyak yang belum gabung!”
Ia terus berusaha menghubungi Dimitris yang menjelang lima menit acara baru aktif. Laki-laki itu membalas pesan Helena yang sudah berjumlah puluhan.
“Hehe maaf neng tadi Abang Dimi sibuk.” Jawab laki-laki itu dengan santai.
“PARAH LO! GUE SAMPE MINTA TOLONG LAURA!!!!” respon Helena langsung. Dirinya ingin sekali menabok laki-laki itu kalau saja ini terjadi di kehidupan nyata mereka.
“Galak amat sih Kak.”
“Bodo! Lo urus tuh sisanya. Males gue udah capek.” Helena benar-benar merasa kesal. Pasalnya, ini tugas berdua tapi rasanya hanya ia seorang diri yang melakukannya.
**
Di kota yang berbeda, laki-laki berkumis tipis itu terkekeh pelan membaca balasan dari sebuah akun RP yang bernama Anna itu. Sebenarnya ia tidak sibuk melakukan apa-apa, dirinya hanya bermain game online sambil selonjoran di sofa kamarnya. Laki-laki itu malas membalas pesan-pesan yang tak dikenal yang juga masuk ke ponselnya. Ia bahkan mematikan notifikasi agar tidak terganggu, wajar saja ia juga tak membalas pesan beruntun dari Anna yang ditujukan padanya.
“PARAH LO! GUE SAMPE MINTA TOLONG LAURA!!!!”
Tawa laki-laki itu pecah saat membaca pesan yang baru saja masuk. Ia merasa sedikit puas mengusili akun Anna tersebut yang kini memasang foto seorang perempuan Ukraina dengan dress pendek berwarna merah, sesuai dengan dress code untuk panitia perempuan. Dirinya juga menggunakan foto seorang laki-laki berwajah kebaratan dengan tuksedo hitam sesuai dress code yang ditentukan untuk panitia laki-laki.
“Bodo! Lo urus tuh sisanya. Males gue udah capek.”
Dimas, nama asli lelaki itu, tersenyum geli melihat respon dari Anna. Ia kira gadis itu pendiam dan kalem seperti yang ia lihat pertama kali di grup mereka. Namun, nyatanya gadis itu juga bisa menjadi galak dan jutek seperti sekarang.
“Lucu banget ni cewe.” Gumamnya sambil tersenyum-senyum sendiri.
“Gue deketin sabi nih.” Batinnya dalam hati. Sabi merupakan kata ‘bisa’ yang dibalik.
“Iya, keknya gue tertarik deh sama lo Na.” Dimas yang berada di balik akun bernama Dimitris itu membatin.
Dia bertekad untuk menjadikan Anna miliknya.
**
“Pagi cantik.” Sebuah pesan masuk ke notifikasi Helena saat dirinya mengecek ponselnya. Kini, gadis yang tengah memakai kemeja berwarna mustard dengan celana jeans putih itu sedang berada di kantin bersama teman satu mata kuliahnya tadi pagi. Awalnya, ia memutuskan untuk makan di rumah saja namun ia sedikit malas untuk bolak-balik dari kampus ke rumahnya.
“Ngapain lagi sih nih cowok!” batinnya sebal. Tanpa sadar ia mengerucutkan bibirnya yang ternyata diperhatikan oleh temannya itu.
“Woi cemberut aje! Mau pesan apa?” tanya temannya itu. Helena menoleh sedikit kaget dan sepersekian detik menunjukkan cengiran khasnya.
“Samain aja deh, Mut.” Jawab Helena sambil melihat ke arah ponselnya lagi, bermaksud untuk membalas pesan yang ternyata dari Dimitris itu. Laki-laki itu mengiriminya pesan satu setengah jam yang lalu saat ia sedang mengikut perkuliahan.
“Knp?” setelah mengirim balik pesan ke Dimitris sebagai balasan, ia mengedarkan pandangan ke seluruh kantin. Kedua matanya bertemu pandang dengan sahabat beda jurusannya itu yang juga kini memandangnya dengan raut wajah datar. Gadis itu terlihat sedang bersama teman-teman satu jurusannya seperti Helena dan temannya yang dipanggil ‘Mut’ tadi. Ingin sekali Helena menyapa sahabatnya itu, namun ada perasaan gengsi yang membuatnya enggan menyapa duluan.
Helena sedikit tersentak kaget ketika ponselnya bordering menandakan ada pesan yang baru masuk. Beberapa orang melihatnya dengan menahan tawa karena ponselnya itu memang berbunyi nyaring. Dirinya begitu malu apalagi ia hanya duduk seorang diri sementara temannya itu sedang memesan makanan untuk mereka berdua.
“Anjir perasaan dari tadi udah gue silent! kok bisa bunyi sih!” gerutunya dalam hati. Dengan menahan malu, ia pura-pura sibuk memainkan ponselnya sambil sedikit menundukkan kepala agar wajahnya tidak dilihat orang-orang di sekitarnya.
“Dih, jutek amat bos ahahahaha”
“Peduli apa lo?!” balas Helena galak. Ia mengetikkan kata-kata itu dengan tenaga dalam. Menurutnya, kalau saja Dimitris tidak mengiriminya pesan, pasti ia tidak akan ditertawakan banyak orang.
Kepalanya mengedarkan pandangan lagi setelah menyetel ponselnya ke mode diam dan orang-orang yang melihatnya tadi sudah tidak lagi memperhatikannya. Helena menghela napas lega bertepatan dengan temannya yang bernama Mutia tadi yang datang bersama penjual kantin, Mang Ucup, dengan nampan pesanan mereka berisi dua mangkok bakso dan es jeruk peras.
“Mamang letakin di meja ya, Neng. Permisi.” Pamit Mang Ucup setelah meletakkan nampan tadi di atas meja lalu beranjak pergi menuju kiosnya untuk melayani mahasiswa yang lain.
“Makasih, Mang.” Ujar Helena walau ia yakin laki-laki tua hampir berusia lima puluh tahun itu tidak mendengar perkataannya.
“Eh, gimana? Acara makrab kapan jadinya?” sahut Mutia memulai topik obrolan. Gadis cantik berkulit putih pucat itu mengambil duduk di depan Helena yang kini juga mulai melahap baksonya.
“Kata Kak Dewa di grup akhir pekan ini tapi katanya dikabarin lagi. Seksi humas masih survey tempat soalnya.” Jawab Helena di sela-sela makannya. Mutia hanya mengangguk-angguk, kedua mata gadis itu melihat ke belakang Helena yang kemudian memberikan kode ke gadis itu untuk menoleh ke belakang. Tampak Anggi sedang bersama teman-temannya yang lain yang juga satu kelas dengan Helena dan Mutia.
“Lo sama Anggi ada masalah ya? Kok kayak jauhan gitu?” tanya Mutia dengan nada segan. Ia takut menyinggung perasaan Helena.
“Hah? Iya tapi gapapa. Nanti juga baikan.” Jawab Helena jujur. Diam-diam ia berharap bisa berkumpul bersama kedua sahabatnya itu lagi. Ia rindu saat-saat mereka menghabiskan waktu bersama di rumahnya maupun rumah kedua sahabatnya itu. Terkadang ia menyesal telah bertanya hal yang menurut Dania mungkin sensitif, tapi di satu sisi ia juga tidak bisa memahami kenapa Dania bisa semarah itu padanya. Ia sempat menilai hal itu berlebihan tapi tetap saja ia juga merasa bersalah.
“Kalau lo mau curhat ke gue gapapa kali, Na.” ujar Mutia tersenyum tipis sambil ikut melahap baksonya. Mereka harus buru-buru menghabiskan pesanan mereka karena setelah itu mereka harus masuk ke kelas berikutnya.
“Makasih ya, Mut.” Helena balas tersenyum hangat ke arah gadis di hadapannya. Meskipun ia tak begitu mengenal dekat tapi Helena tahu, Mutia merupakan orang yang baik ke siapa saja. Sifat pendiam gadis itulah yang membuat Mutia tidak mempunyai terlalu banyak teman. Dirinya lebih suka menyendiri ketimbang bergabung bersama sekelompok orang.