Perhitungan

1157 Kata
Sudah tiga jam berlalu namun orang yang Febiola tunggu belum juga datang. Jika ia memang tidak benar-benar datang lalu untuk apa Febiola ke tempat ini, ia benar-benar seperti melakukan hal yang sia-sia. "Fiko, kenapa dia tidak juga muncul? kamu menipuku?." Febiola terlihat geram menatap Fiko yang juga tampak bingung. "Aku juga tidak tau, aku hanya sekedar mendengar rumor yang ada di grup chat angkatan lama kita." "Kalau begitu untuk apa aku kesini, benar-benar membuang waktuku!." Febiola sudah tidak tahan lagi berada dalam lingkungan toxic ini. Sedari tadi yang ia lakukan hanya mencari jawaban akan pertanyaan-pertanyaan yang diajukan kepadanya. Seperti yang ia duga hal yang dulu ia alami juga telah ia rasakan sejak tadi. Pria-pria m***m itu juga tak kunjung berhenti menatapnya seperti kucing yang melihat ikan asin. Sungguh ia sangat muak dan mual melihatnya. Ia beranjak dari tempat duduknya berniat akan pergi sebelum Fiko menariknya untuk kembali duduk. "Tunggu dulu, kita pulang bersama, aku ke toilet sebentar." Febiola mendengus kasar karena ia masih harus menunggu ditempat konyol ini. Ia benar-benar masih tidak bisa mengerti apa konsep dari acara reuni ini. Karena yang ia dapatkan sedari tadi bukanlah mempererat tali silaturahmi, tapi hanya bisikan dengki dan pertanyaan aneh yang sungguh tak bersahabat sama sekali. Ia baru sadar bahwa ia tidak benar-benar memiliki teman yang baik dan setia. Dahulu selain Fabian ia punya teman wanita yang sudah dia anggap seperti saudaranya sendiri, sebelum ia ditusuk dari belakang hanya karena masalah pria. Ia memijit keningnya yang mulai pening akan ingatan-ingatan masa lalu yang kembali muncul dibenaknya saat ini. Ia sudah tak bisa menunggu lagi, ia harus segera pergi dari sini. Ketika ia berdiri dan hendak pergi seseorang tiba-tiba menabrak nya tanpa sengaja. "Maaf.." Febiola segera berjongkok memunguti barang-barangnya yang berhamburan dilantai, ia lupa menutup tasnya dengan benar sehingga barang-barang didalam tasnya banyak yang terjatuh. "Febiola?." Panggil seorang wanita asing yang tidak Febiola kenal. "Kau mengenal ku?." Febiola tampak bingung karena ia sama sekali tidak kenal siapa wanita yang baru saja menyapanya. "Tentu saja, siapa yang tidak tahu desainer cantik dan populer sepertimu." Ia tampak tersenyum, namun Febiola merasa janggal karena senyuman itu bukanlah seperti senyuman yang bersahabat walaupun jelas-jelas ia tersenyum dengan lebar padanya. "Begitukah? baiklah kalau begitu aku harus pergi, permisi." "Apa begini caramu bicara dengan salah satu penggemar mu?." Febiola sontak berhenti dan kembali menoleh pada wanita itu dengan bingung. Siapa sebenarnya wanita konyol ini. Ia sudah bicara baik-baik padanya tapi masih disalah pahami. Febiola benar-benar bingung dibuatnya. "Maaf, tapi aku benar-benar sibuk dan punya banyak kepentingan sekarang, kalau kau mau kau bisa datang ke butik ku dan kita bisa kembali mengobrol disana, tapi untuk sekarang aku harus pergi." Febiola berusaha menahan rasa kesalnya melihat wajah wanita itu yang sudah masam dan tak bersahabat ketika mendengar jawabannya. "Sepertinya aku tidak bisa datang ke butik mu untuk sekarang, karena aku harus menjemput calon suamiku diluar negeri setelah acara ini." "Oh baiklah, tidak masalah." "Tapi apa aku bisa meminta tolong satu hal padamu?." Ucap wanita itu mendekati Febiola perlahan. "Tentu." "Aku ingin memintamu secara khusus untuk merancang baju pengantin untukku dan calon suamiku nanti, dan aku ingin kau hadir ke acara pesta pernikahan kami, apa kau bisa?." Febiola terlihat diam sebentar dan mencoba mencerna kalimat yang diucapkan wanita asing didepannya. Untuk apa dia harus datang ke pesta pernikahan wanita ini? kenal saja tidak. "Baiklah, hubungi saja aku nanti, atau kau bisa langsung datang ke butik ku bila punya waktu senggang. Bawa juga calon suamimu, aku akan merekomendasikan jas dan gaun paling mewah di butik kami." Febiola tersenyum sebagai tanda penutup kalimatnya. "Baiklah, kau akan terkejut melihat calon suamiku yang sangat tampan." Wanita itu menyeringai dan tertawa aneh didepannya. 'Dasar wanita gila' batin Febiola sebelum pergi dari tempat itu. Ia memilih pulang naik taksi dan memberi kabar kepada Fiko lewat pesan teks bahwa ia harus segera pergi dari acara itu, karena ia juga harus menuju suatu tempat untuk melakukan sesuatu. Beberapa menit kemudian ia sampai ditempat tujuannya. Kini ia tengah berada di kantor polisi untuk menemui seseorang, atau lebih tepatnya membuat suatu perhitungan seperti yang ia janjikan tempo hari. Ia masuk dan membuat janji temu dengan salah satu napi disana. Ia menunggu cukup lama hingga ia melihat seseorang yang sangat dibencinya perlahan datang kearahnya dengan tangan yang diborgol. "Waktu kalian hanya 15 menit." Ucap salah seorang polisi yang berjaga tak jauh dari mereka. "Sepertinya aku tak butuh waktu lama disini, aku hanya ingin melihat bagaimana b******n m***m yang hampir meniduriku tempo hari mendekam dipenjara. Bagaimana? kau suka kehidupan barumu?." Febiola benar-benar berkata dengan bengis sambil menatap pria itu dengan tatapan jijik. "Febiola, aku sama sekali tidak berniat melakukan itu padamu, kau harus percaya padaku." Pria itu memasang wajah memelas berharap Febiola akan luluh padanya. Namun Febiola bukanlah gadis dungu yang mudah tertipu oleh tikus got sepertinya. "Leo Kasyafani Malik. Namamu sangat bagus, tapi tidak sesuai dengan kelakuan mu yang b******k dan menjijikan! Akan ku pastikan Kau akan membusuk dipenjara!." Febiola memang berbicara kasar, namun itu belum apa-apa, karena jauh dalam hatinya ia benar-benar masih berusaha menahan amarah nya yang lebih meluap-luap seperti lava yang mendidih. "Febiola aku mohon, tolong cabut tuntutan mu, aku tidak mau berada disini tolong." Leo bersimpuh dikakinya, ia benar-benar sudah merendahkan dirinya serendah rendahnya. Karena jika dilihat dari ia yang biasanya angkuh, sombong dan suka pamer itu sungguh sangat berbanding terbalik dengan ia yang sekarang. "Dimana harta dan koneksi mu yang kuat itu? bukannya kau bilang kau tidak akan bisa dengan mudah dipenjara? Apa semua itu hanya bualan? kau memang benar-benar sampah!." Febiola bangkit dan menjauhkan dirinya dari si b******k itu yang hampir menyentuh kakinya. "Pak, boleh aku meminta segelas air?." Febiola bertanya pada polisi penjaga disana, dan polisi itu pun pergi mengambilkan air sesuai permintaan Febiola. Febiola beralih kepada Leo sambil menyeringai, beberapa detik setelahnya terdengar tamparan yang sangat keras tiga kali secara berturut-turut. Kemudian ia mengambil ancang-ancang untuk menendang wajahnya dengan kaki kanan yang masih memakai sepatu berhils tinggi. Seketika Leo jatuh dan pingsan, ketika polisi kembali ia pura-pura ingin menolongnya. "Pak tolong dia pingsan." Febiola pura-pura panik. Polisi segera mengguncang tubuh Leo yang tidak mau bergerak. Febiola melihat segelas air yang tadi dibawa polisi itu berada diatas meja dan segera meraihnya. Ia siramkan air itu ke wajah lelaki b******n itu dengan sengaja. "Hei bangunlah." Ia kembali berpura-pura setelah dengan puas menyiramkan air itu tepat diwajahnya. "Kalau begitu bawa saja dia kedalam pak, mungkin dia kelaparan hingga pingsan." Febiola berdiri dan beranjak pergi dari tempat itu dengan perasaan puas. Jika Fiko dan Lia tahu dia melakukan hal seperti itu mereka pasti akan kaget bukan kepalang. Ia memilih berjalan kaki di area itu sambil menikmati cuaca yang cukup dingin, masih jam 11 pagi tapi matahari belum juga muncul, kemungkinan hari ini akan hujan melihat mendung yang sudah menyelimuti seluruh permukaan langit yang mulai gelap. Sesampainya disebuah kedai kopi ia berhenti dan menatapnya cukup lama. Ini adalah kedai kopi yang terakhir kali ia datangi dengan seseorang yang sangat ia rindukan, entah apa yang membawanya sampai ketempat ini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN